"Aku beri tiga puluh juta. Tapi aku mau akses untuk mendekati pria ini."
Irish menyodorkan foto dan cek yang sudah ditandatangani kepada Brenda, seorang mucikari kelas atas yang dikenal sering menjual gadis-gadis muda, termasuk para ayam kampus, kepada pria-pria tua kaya raya yang haus kehangatan sesaat.
Brenda melirik cek itu sambil terkekeh pelan. Ia mengangkat alis, menatap Irish dari atas ke bawah. "Seleramu lumayan juga. Biasanya, para Om yang bayar untuk menyentuh gadis sepertimu. Tapi sekarang, kamu yang membayar agar bisa mendekati salah satu dari mereka."
"Aku tidak peduli berapa harga yang harus kubayar," Irish menjawab santai seraya menghisap vape miliknya. Asap tipis mengepul dari bibirnya, melayang perlahan di antara mereka. "Aku cuma butuh satu akses. Dan aku yakin kamu bisa, aku tidak meragukan koneksimu."
Brenda menyilangkan tangan di depan d**a. "Kamu tahu siapa dia, kan? Zayden itu bukan target main-main. Dia punya reputasi. Istrinya juga bukan perempuan biasa."
"Aku tahu," sahut Irish tanpa ragu. "Aku tahu betul dia siapa, dan aku juga tahu siapa istrinya."
Brenda menyipitkan mata. "Pasangan itu sangat harmonis. Cinta mati satu sama lain, katanya. Dia tidak pernah main ke tempat seperti ini. Sepertinya akan susah jika kamu ingin mendekatinya."
"Aku tidak butuh kisah cinta mereka," Irish memotong cepat. "Aku hanya butuh satu pintu masuk. Entah datang ke pestanya, jadi tamu undangan, atau sekadar jadi pelayan di sana. Kasih aku aksesnya, lalu selesai."
Brenda terdiam sesaat. Ia menatap cek itu sekali lagi, lalu mengangguk pelan dan melangkah pergi. Ia mendekati seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan perhiasan mencolok di jemarinya. Mereka berbicara pelan, hampir seperti berbisik. Entah apa yang dinegosiasikan, tapi tak lama kemudian, pria itu menyelipkan sebuah kartu undangan dari saku dalam jasnya.
Brenda kembali dengan senyum kemenangan. Di tangannya, tergenggam sebuah kartu undangan berdesain mewah.
"Ini undangan pesta ulang tahun Marisha," ujarnya, seraya menyerahkan kartu itu pada Irish. "Besok malam di ballroom hotel Savanna. Ini aksesmu. Tiga puluh juta yang cukup berharga, kurasa."
Brenda mengambil cek dari tangan Irish dan menyelipkannya ke dalam dompet kulit miliknya dengan penuh gaya. "Have fun."
Irish menerima undangan itu. Tangannya meremas lembut benda itu, seperti sedang menggenggam masa depan yang telah lama ia rancang dalam diam.
"Jadi besok ulang tahunmu, Marisha?" Ia kembali menghisap vape, kali ini dengan senyum licik yang mengembang di bibirnya. "Tunggu saja! Aku akan menggoda suamimu, di hari ulang tahunmu."
Setelah kepergiannya dari tempat Brenda, Irish kembali larut dalam dunianya yang sunyi namun penuh perhitungan. Ia duduk di dalam mobil, membiarkan suara mesin menyala tanpa arah.
Jemarinya lincah menari di atas layar ponsel, membuka dashboard keuangan, memeriksa laporan harian dari beberapa bisnis yang ia kelola seperti kafe estetik di pusat kota, butik online, investasi saham, bahkan bisnis properti kecil-kecilan.
Semuanya harus berjalan stabil. Harus terus tumbuh. Ia tidak bisa berhenti. Tidak boleh.
Kematian kedua orangtuanya membuat perusahaan asuransi mengguyurkan warisan ratusan miliar ke rekeningnya. Uang darah, begitu Irish menyebutnya.
Tapi meski demikian, Irish tidak pernah hidup dengan kemewahan yang bodoh. Ia tidak foya-foya. Tidak belanja gila-gilaan.
Sebaliknya, ia belajar. Ia bertahan. Ia menanam dan memutar uang itu ke berbagai lini usaha. Bukan untuk hidup mewah, tapi untuk sebuah tujuan.
Balas dendam. Irish sadar, sejak malam kelam itu, ia benar-benar sendirian di dunia ini. Tak ada pelindung, tak ada tempat pulang. Maka satu-satunya hal yang bisa ia andalkan adalah otaknya dan uang.
Uang adalah tameng, pedang, sekaligus peluru untuk menembus benteng pertahanan musuh. Dan musuhnya kini hidup nyaman di singgasana yang dibangun dari kehancuran keluarganya.
Irish tidak akan membiarkan uang yang ia dapat dari darah orangtuanya itu habis sia-sia. Irish akan membuatnya tumbuh dan berkembang.
Dan dia akan menggunakan setiap sennya, untuk menghancurkan Marisha, perlahan-lahan. Dengan cara yang sama.
*****
"Maaf ya, aku belum bisa kasih kamu anak. Kita sudah coba berbagai cara, tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan bayi tabung pun gagal."
Suara Zayden terdengar rendah, penuh penyesalan. Marisha hanya menatapnya, matanya kosong, seolah menerima kenyataan yang pahit. Ia menghela napas panjang, merasakan beban yang sudah terlalu lama ia pikul. Sejak mereka menikah, ini adalah percakapan yang selalu mereka hindari.
Zayden mengelus punggungnya, merasakan tubuh Marisha yang kaku di pelukannya. Dia terlihat pasrah, seperti sudah kehabisan kata-kata, kehabisan harapan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, bertahun-tahun berkonsultasi dengan dokter, mencoba segala macam cara, tapi hasilnya tetap nihil.
"Sebentar lagi ulang tahunmu. Tidak usah bersedih yang berlebihan," Zayden mencoba mencairkan suasana, meski suaranya terasa sedikit lemah. Ia mengecup kening Marisha dengan lembut, berharap bisa memberi sedikit ketenangan. "Kalau memang kita tidak diberi anak, ya sudah, kita bisa jalani hidup bersama dengan cara lain."
Marisha menundukkan kepalanya, menatap lantai dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Zayden memeluknya lebih erat, berharap bisa mengalihkan rasa kecewa yang kini membebaninya.
"Tapi orangtuamu..." Marisha mulai bicara, suara lirih, penuh kecemasan.
"Biar aku yang bicara pada mereka," Zayden menyela, nada suaranya tegas, meski ada kegelisahan di baliknya. Ia menutup mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Aku yang harus bertanggung jawab menjelaskannya. Jangan khawatir."
Namun, di dalam hati Zayden, ada kerisauan yang semakin membesar. Ia sangat ingin punya anak. Lebih dari sekadar keinginan, itu adalah obsesi yang perlahan-lahan menggerogoti ketenangannya. Membangun keluarga, mewariskan darah dan nama baik, menjadi figur ayah bagi seorang anak, semua itu adalah impian yang ingin ia capai sebelum waktu merampas semuanya.
Kenyataan ini terlalu sulit untuk diterima. Marisha, kini telah berusia 34 tahun. Ia sendiri 38. Dan setiap bulan yang berlalu tanpa kabar kehamilan, terasa seperti pintu harapan yang tertutup satu demi satu.
Risiko medis semakin tinggi, peluang semakin kecil, dan tekanan dari keluarga perlahan menjadi beban tak kasat mata yang menindih pundaknya. Di depan Marisha, Zayden selalu berusaha terlihat tenang dan suportif. Tapi di balik setiap pelukannya, ada rasa takut.
Di balik setiap senyumnya, ada kecemasan yang menjerit tanpa suara. Harapan itu semakin menipis, dan Zayden merasa dirinya semakin terdesak. Bukan hanya sebagai suami, tapi juga sebagai anak dari keluarga terpandang yang menuntut kelanjutan garis keturunan.
Marisha menatap Zayden dengan gelisah. Ia tahu betul apa yang pria itu rasakan, meskipun Zayden tak pernah mengucapkannya dengan jelas. Kandungannya memang bermasalah. Terlalu banyak masalah dari masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.
Dulu, ia sering menenggak pil pencegah kehamilan secara sembarangan. Bahkan beberapa kali pula, ia terpaksa menggugurkan janin yang tak diinginkan demi menyelamatkan diri dari skandal dan kekacauan. Masa lalunya kelam, penuh kebohongan, yang kini menghantuinya setiap malam.
Zayden bukan pria sembarangan. Ia konglomerat kelas atas, pemilik berbagai bisnis dari pertambangan, ekspor barang mewah, hingga berlian. Kekayaannya tak terhitung, dan pengaruh keluarganya menjalar hingga ke lingkaran pemerintahan. Orangtua Zayden, terutama sang ibu, adalah wanita keras yang tak akan tinggal diam melihat putranya tak memiliki pewaris. Mereka tak akan membiarkan Zayden menjadi satu-satunya cabang yang mandek di pohon keluarga besar mereka. Marisha sadar akan hal itu.
Selama ini, ia sudah berusaha mati-matian menjaga citranya. Berusaha menjadi istri sempurna. Ia bahkan menciptakan kisah-kisah menyedihkan tentang trauma masa lalu agar Zayden tidak lagi mempertanyakan kenapa ia tak lagi virgin saat mereka menikah. Semua demi mempertahankan statusnya sebagai Nyonya Zayden Malik.
Kini, semuanya bergantung pada satu hal-ia harus hamil. Apa pun caranya.
Marisha mengepalkan tangan. Ia tidak bisa membiarkan semuanya runtuh. Tidak sekarang. Tidak setelah semua yang telah ia lakukan. Ia akan mencari dokter terbaik, terapi paling canggih, pengobatan herbal dari pelosok negeri sekalipun jika perlu. Marisha tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan.
Ia akan hamil! Ia harus hamil!
Karena jika tidak, maka posisinya sebagai istri sah dari pria paling diinginkan di kota ini bisa sewaktu-waktu direbut oleh wanita lain.
*****