Mas Alvin menatapku lama. Bukan tatapan bingung. Bukan tatapan ragu. Tapi tatapan seseorang yang sedang menimbang dua hal besar dalam hidupnya, dan tahu, apa pun pilihannya, akan ada yang terluka. Lampu parkiran memantul di wajahnya, membuat garis tegas di rahang dan matanya yang sedikit memerah. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihatnya... benar-benar lelah. "Yank," panggilnya pelan. Aku menunggu, jantungku berdegup tak beraturan. "Kalau aku hancur karena memperjuangkanmu," katanya akhirnya, suaranya rendah tapi mantap, "itu pilihanku." Dadaku seperti diremas. Antara takut sekaligus senang akrena merasa aku pemenangnya. "Tapi kalau aku hancur karena meninggalkanmu," lanjutnya, "itu sesuatu yang nggak akan pernah bisa aku maafin ke diri sendiri setelah apa yang terjad

