Bab 29. Tubuh Penuh Luka “Ngapain kamu di sana? Elara terkejut saat melihat Luca yang berdiri tegak sedang memperhatikannya. Namun, yang ditanya hanya membisu, kemudian berbalik. Hanya helaan napas pasrah yang Elara keluarkan. Kemudian ia bergegas menemui Rafael dengan penuh debaran yang menggangu. Tak berapa lama, Elara melihat Rafael sedang berdiri di lorong belakang. “Rafael “ lirih Elara yang berusaha setenang mungkin. “Kalau setelah ini kamu makin membenciku ,” ucapnya dengan nada suara rendah dan datar, “aku gak akan menyalahkanmu.” Elara berhenti melangkah. Lorong belakang itu sempit, hanya diterangi lampu dinding yang berkedip lelah. Bau besi tua sangat menyengat, aroma air laut yang asin, dan solar kapal bercampur jadi satu. Sungguh membuat mual. Rafael berdiri membelakang

