Freya kaget luar biasa, begitu ia keluar dari mobilnya di parkiran basement apartementnya, seseorang menyekapnya dan memaksanya masuk ke pintu depan sebuah kendaraan mewah. “Hadap depan,” seorang laki-laki yang duduk di belakang kursinya menodongkan sesuatu ke kepalanya yang ia kenali sebagai sebuah pistol. “Freya Shafira, kamu belum kapok juga mendekati anggota keluarga Ranuwijaya,” sebuah suara berat membuat Freya kaget. Dia melirik spion mencoba memastikan pemilik suara tersebut. “Anda?” “Tuan Besar Ranuwijaya. Apa kamu punya permintaan terakhir?” Jantung Freya seakan berhenti bebera detik, kemudian berdegup kencang tak terkendali. Dia menilik situasi di luar. Parkiran sedang sepi. Dan ia berada di dalam sebuah mobil mewah dengan kaca film yang cukup gelap dan todongan senjata. “

