“Ans,” Bagaskara masuk ke kamar yang ditempati cucunya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. “Opa kenapa belum tidur?” “Ayo ngobrol dulu biar Opa bisa tidur,” laki-laki tua yang masih tampak gagah itu duduk di kursi. “Ngobrol apa?” Ans duduk di atas ranjang di depan kakeknya. “Ceritakan semuanya pada Opa.” Ans menghela napas. Dia menceritakan kejadian beberapa hari lalu ketika seorang wanita hamil memarahinya di depan gerbang sekolahnya hingga banyak teman-temannya yang mendengar. Ejekan teman-teman di sekolahnya kemudian. Serta foto-foto yang dikirimkan oleh nomor yang kemungkinan adalah Angel. Bagaskara menggeram marah. “Kamu bisa kirimkan semua foto-foto itu ke nomor Opa? Termasuk nomor temanmu itu. Biar Opa selidiki.” Ans mengangguk. Toh kedua orang tuanya sudah tahu ia di rum

