Satu minggu setelah syarat itu terucap, tak ada lagi pembicaraan berarti di antara mereka. Semua kembali seperti semula—bahkan lebih datar dari sebelumnya.
Rumah megah itu terasa seperti hotel bintang lima yang tak berpenghuni. Bersih, rapi, wangi… tapi dingin.
Setiap pagi, Bianca tetap bangun lebih dulu. Rambutnya digelung sederhana, wajahnya tanpa banyak riasan. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa. Telur setengah matang, roti panggang, kopi hitam tanpa gula—sesuai selera Dewa. Semua tersaji sempurna di meja makan panjang yang terlalu besar untuk dua orang.
Dewa turun beberapa menit kemudian. Duduk. Makan. Hening.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
“Hmm,” jawab Bianca pelan.
Tak ada lagi pertanyaan. Tak ada lagi tatapan yang tertahan lebih lama dari sepersekian detik. Mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di alamat yang sama.
Setelah memastikan semuanya selesai, Bianca biasanya masuk kamar sebentar. Berganti pakaian. Lalu pergi.
Tanpa pamit panjang. Tanpa penjelasan.
Awalnya Dewa tak peduli. Bukankah itu yang ia inginkan? Hubungan tanpa tuntutan. Tanpa drama. Tanpa emosi.
Namun hari keempat, kelima, hingga hari ketujuh—rumah itu terasa semakin kosong. Bahkan suara langkah asisten rumah tangga lebih terdengar daripada suara Bianca.
Sore itu, Dewa pulang lebih awal. Biasanya Bianca sudah kembali menjelang magrib. Tapi hari ini ruang tamu tetap sepi. Lampu belum menyala. Tirai masih terbuka.
“Apa Nyonya belum pulang?” tanya Dewa pada asisten.
“Belum, Tuan. Akhir-akhir ini Nyonya sering pulang malam.”
Dewa mengangguk pelan, mencoba terlihat biasa saja. Namun sesuatu di dadanya terasa mengganjal.
Sering pulang malam?
Kemana dia?
Kenapa ia tak pernah tahu?
Padahal sebelumnya, Bianca hampir tak pernah meninggalkan rumah kecuali untuk urusan penting. Bahkan lebih sering menunggunya pulang dengan sabar.
Malam semakin larut. Jarum jam menunjuk pukul sembilan.
Baru terdengar suara pintu terbuka.
Bianca masuk dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat lelah, tapi bukan lelah karena menangis. Bukan juga wajah perempuan yang tersakiti. Justru… seperti seseorang yang menemukan sesuatu di luar sana.
Dewa berdiri tanpa sadar.
“Kamu dari mana?” tanyanya, nada suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia rencanakan.
Bianca menatapnya sekilas. “Ada urusan.”
“Urusan apa sampai pulang malam terus?”
Bianca melepas tasnya perlahan. “Bukankah kamu bilang aku tidak perlu melibatkanmu dalam hidupku?”
Kalimat itu menampar tanpa suara.
Dewa terdiam.
Benar. Ia pernah mengatakan itu, bahwa hidup Bianca tak perlu berputar di sekitarnya.
“Sekarang aku hanya menjalankan apa yang kamu mau,” lanjut Bianca pelan. “Aku tetap jadi istri di rumah ini. Menyiapkan kebutuhanmu. Tapi soal hidupku di luar… itu bukan lagi urusanmu, kan?”
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, Dewa merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar ia pahami.
“Lagipula kamu belum setuju dan mau tidur denganku,” lanjutnya tanpa ragu. “Yang artinya kita belum menemukan titik tujuan dari pernikahan ini.”
Kalimat itu jatuh tenang, tapi menghantam keras.
Dewa mengerjapkan mata, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan yang selama ini ia hindari. Ia menelan ludah, berusaha menyusun kata-kata.
“Bianca… jangan bicara seolah itu transaksi.”
“Apa bukan?” potong Bianca lembut, tapi tajam. “Kamu
ingin kembali pada Sarah. Aku ingin masa depan yang jelas, aku ingin sehat, ingin hidup lebih lama dan aku ingin anak. Kita sama-sama tahu posisi kita.”
Dewa mengembuskan napas berat. “Tapi itu terlalu aneh..”
“Aneh? Lebih aneh lagi kami tetap tinggal bersamaku, tapi hatimu untuk Sarah, lagipula kamu juga tidak pernah menganggapku istri.”
Hening.
Suara jam dinding terdengar lebih jelas dari detak jantung mereka sendiri.
“Aku tidak menuntut cinta,” ucapnya pelan. “Aku tidak meminta kamu melupakan siapa pun. Aku hanya meminta hakku. Hak yang sah. Hak yang bahkan kamu tahu seharusnya kamu penuhi.” tegas Bianca.
“Aku butuh kepastian,” lanjut Bianca. “Kalau kamu ingin segera menikahi Sarah, segera lakukan kewajibanmu sebagai suami. Dengan begitu aku bisa cepat hamil dan kita akan segera berpisah.”
“Kamu benar-benar setenang ini membicarakan hal seperti itu?”
“Aku sudah selesai menangis, menahan sakit dan penyakitku.” jawab Bianca. “Sekarang aku hanya ingin jelas dan ingin sembuh, hanya itu.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang penuh keputusan.
Dewa menelan ludahnya sendiri.
“Kalau aku menyetujuinya…” suaranya lebih rendah, lebih dalam, “apa setelah itu kamu akan benar-benar pergi dari hidupku?”
“Tentu, Itu kesepakatannya sejak awal,” jawabnya pelan.
“Dengan menunda-nunda, artinya kamu hanya memperlambat kebersamaan kalian saja. Padahal Sarah sudah menunggumu, apa kamu tidak ingin segera kembali dengannya?”
“Kamu,, “
Dewa menghela kasar.
“Cepat pulang.. Aku akan melakukannya. Sekarang.”