Dua

2166 Words
Amanda mengambil sereal instan dari kitchen set yang terletak di atas wastafel, setinggi kepala, lalu menyeduhnya di gelas. Sesekali mengaduk dan mengembuskan udara ke gelas agar tidak terlalu panas. Masih seperti biasa, dengan rambut digulung asal, lengkap dengan baju tidur belel bergambar beruang kesayangannya. Baju yang sama dengan yang dipakai kemarin. “Dari mana, Mas?” tanya Amanda, ketika Dennis melewatinya untuk mengambil air mineral dalam kulkas. Matanya memandang penuh selidik ke pakaian yang dikenakan pria itu, celana bola, dengan jaket olahraga juga handuk panjang yang tersampir di lehernya. Butiran keringat nampak membasahi dahi dan lehernya. Lelaki itu menoleh ke Amanda, menggeleng pelan karena melihat Amanda yang nampak belum juga mandi, ditambah hari ini berarti wanita itu sudah tidak mandi empat hari! “Jogging di sekitar kompleks. Belum mau mandi juga?” tanya Dennis, Amanda menggeleng, dan berjalan ke arah ruang televisi sambil membawa gelas berisi sereal instannya. “Oiya, ntar tunangan aku mau main ke sini, enggak apa-apa kan?” Dennis agak berteriak agar Amanda mendengar suaranya dari arah dapur. “Iya enggak apa-apa, tapi inget jangan berbuat asusila di sini lho. Dilarang keras!” Amanda memilih menyetel televisi dengan menekan tombol remote dan mulai menyesap sarapannya. Masih duduk di sofa sambil bermalasan ketika suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Dennis yang nampak baru mandi segera membuka pintu itu setelah sebelumnya sempat melirik ke arah Amanda yang belum juga beranjak dari sofa dengan gelas bekas sereal yang sudah mulai mengering. “Amanda, ini kenalin tunangan aku.” Amanda memutar kepalanya ke samping, tiba-tiba tercium aroma wangi segar di hidungnya. Matanya membulat mengambil penuh kesadaran, ketika melihat wanita cantik yang terlihat feminim tengah dirangkul Dennis. Rambutnya agak berombak, wajah full make up lengkap dengan eyeliner, maskara , eyeshadow. Bibirnya diberi pewarna lipstik peach agak oranye. Kulit wajahnya sangat mulus dan putih. Mengenakan dress brukat selutut berwarna biru donker juga tas tangan yang ditaksir harganya pasti setara dengan UMR di Jakarta. Kaki jenjangnya dibalut heels berwarna senada dengan tasnya. Amanda merasa minder dengan dirinya, sungguh sangat berbeda. Dia bahkan seperti melihat kebalikan dari dirinya, tubuh yang jarang mandi, pakaian asal-asalan. Alat make up yang ah sudahlah sedih kalau diceritakan. Deheman Dennis membuat Amanda menggeleng cepat lalu membalas uluran tangan tunangan Dennis. Saat bersentuhan kulit Amanda merasa meremang pasalnya tangan wanita itu terasa lembut dan halus. Mungkin butuh jutaan rupiah untuk perawatan kulitnya selama sebulan. “Raya,” ucapnya dengan senyum yang sangat menawan, wajar jika Dennis terlihat cinta mati dengan wanita itu. “Amanda, silahkan duduk Mbak Raya.” Amanda memungut gelas dari lantai dan menyembunyikan ke belakang tubuhnya. Rasa gugup tiba-tiba menjalarinya. Dia pun mengangguk sopan dan berpamitan untuk ke kamar. Lalu keluar lagi, karena lupa meletakkan gelas itu di tempat cuci piring. Hingga dia benar-benar menutup pintu kamarnya. Kamar super duper berantakan, tempat yang diklaim ternyaman sedunia akhirat baginya. Sebuah cermin besar di lemari tiba-tiba terasa menyudutkan Amanda, lihatlah dirinya kini! Pakaiannya kumal. Amanda bahkan mengangkat tangan dan mencium ketiaknya. Sambil mendengus. Bau? Enggak bau juga sih. Dia pun menggeleng pelan. Karena memang dia mendapat anugerah luar biasa dari Tuhan, dengan tidak memberinya bakat bau badan. Amanda memandang lekat ke cermin memajukan wajah dan mengusap sudut bibirnya. Ah ada iler. Lalu dia menelungkupkan wajah di bantal sambil mengedik-ngedikkan kaki. “Bentar-bentar, aku masih normal kan? Aku masih suka laki-laki kan? Kenapa perasaan aku enggak karu-karuan kayak ini lihat cewek cantik itu?” Amanda menggaruk kepalanya, nampak butiran halus jatuh dari kepala itu. “Ah udah bersalju,” ucap Amanda cuek pada butiran ketombe. Dia berusaha mengenyahkan bayangan Raya tapi tetap tidak bisa, entah kenapa? Hatinya merasa iri, bagaimana bisa ada makhluk Tuhan se-perfect itu? Cantik, pintar dandan, wangi. Pandangan Amanda beralih ke meja riasnya. Di mana terletak alat make up yang tergeletakan acak. Sudah lama sekali dia tidak menggunakannya. Terakhir tiga bulan lalu ketika dia menjadi SPG Event. Akhirnya Amanda memutuskan untuk mandi, barangkali air bisa melunturkan kekucelan dirinya. Dengan rambut basah dia melangkah keluar dari kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Dia pun mengeringkan asal rambut tersebut. Segar rasanya, seperti sudah setahun tidak mandi keramas. Masih tak menyadari sepenuhnya apa yang dia lakukan, karena kini tangannya justru sibuk mengambil baju dari lemari gantung, mematutnya di depan cermin. Hampir semua tak layak pakai. Kastanya terlihat jauh berbeda dengan apa yang dikenakan Raya tadi. “Ih aku ngapain sih ini!” Rutuk Amanda frustasi. Dia buru-buru memasukkan baju-baju tersebut ke lemari dan mengambil jeans pudar yang lututnya sobek-sobek. Lalu mengenakan kaus putih, dibalut sweater rajut berwarna abu-abu. Dia pun mengambil sepatu kets belelnya dari kolong meja, mengusap debu yang menempel dengan tangan, tidak lupa ditambah tiupan dari bibir seolah mampu memusnahkan kotoran yang berabad-abad menempel di alas kaki tersebut. Setelah memastikan semua yang dikenakannya sudah lengkap, dia pun keluar dari kamar. Terlihat Raya bersandar di lengan Dennis, dengan jemari Dennis yang memilin rambut panjang wanita tersebut. Mereka sedang menonton televisi atau televisi yang menonton mereka, entahlah. Yang jelas pemandangan di depan ini terlihat menyayat hati bagi jomblo ngenes macam Amanda. “Mas,” panggil Amanda, baik Dennis maupun Raya menoleh berbarengan ke Amanda. “Aku mau keluar sebentar ya.” “Eh, maaf ya Manda, kamu terganggu ya sama aku?” tanya Raya merasa bersalah, suaranya terdengar lembut sekali, juga tatapan mata yang nampak teduh keibuan. “Enggak kok Mba, memang ada yang mau dibeli ... hehe.” Manda tersenyum salah tingkah, dia pun berjalan keluar dari rumahnya. Justru dia yang merasa sudah mengganggu kedua pasangan calon pengantin tersebut. Amanda mengambil motor matic yang sudah hampir sepuluh tahun ini menemani di setiap kondisi. Meskipun jarang keluar rumah, tapi Amanda rutin memanaskan motor minimal dua hari sekali agar mesinnya tidak mati. Dia juga selalu ingat jadwal ganti oli dan service. Sehingga meskipun terbilang sudah tua, motor kesayangannya itu tetap bandel dan bisa diandalkan. Setelah berputar-putar tidak jelas, motor kesayangan Amanda akhirnya terparkir di depan supermarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dia memutuskan untuk membeli perlengkapan dapur. Diambil sekarung kecil beras dan dimasukkan dalam troly. Lalu dia mendorong troly tersebut ke arah rak berisi aneka masakan, ada soto, rendang, sambal matah, kari, ayam bawang, dalam bentuk mie instan. Cukup banyak untuk persediaan hibernasi pikirnya. Toh dia sudah memegang uang dari Dennis. Tidak banyak, tapi cukuplah untuk bayar listrik dan makan selama dua minggu. Kaki Amanda berhenti di depan sebuah rak yang berisi sayuran, dia mengambil cabai, bawang dan tomat untuk tambahan di mie instan. Lalu mengambil dua kilogram telur. Sebelum membayar, Amanda menyempatkan ke rak sereal instan yang menjadi satu dengan rak kopi. Dia mengambil kopi rasa mochacino sachet juga teh tarik. Lalu memutuskan mengantri di depan kasir. Sudah dua jam Amanda melanglang buana, keluar dari sarangnya. Diapun memutuskan untuk kembali ke sarang alias rumah. Tempat ternyamannya. Nampak rumahnya sepi. Tidak ada tanda-tanda Raya. Amanda pun berjalan ke dapur, berniat meletakkan barang belanjaannya di sana. Matanya menangkap bayangan Dennis yang berdiri di depan mesin cuci. sepertinya pria itu ingin mencuci baju. “Mbak Raya kemana Mas?” Dennis memutar tubuhnya melihat ke arah jendela yang memisahkan ruang cuci dengan dapur. “Sudah pulang barusan,” jawabnya, Amanda membuka pintu kulkas dan terkejut mendapati kulkasnya penuh dengan berbagai macam sayuran, buah, kornet, bahkan ada keju dan beberapa bahan masakan lainnya. “Mas kapan kamu belanja? Kulkas sudah penuh begini?” Amanda mencoba menggeser beberapa sudut tempat agar belanjaannya yang sedikit itu bisa menyempil di dalam kulkas. “Tadi Raya yang bawain.” Amanda mengangguk, berpikir bahwa Raya memang calon istri ideal. Diap un ke kamar, melepaskan sweater dan mengganti jeansnya dengan celana pendek sepaha. Lalu duduk di taman kecil samping tempat mencuci. Taman yang biasa dialih fungsikan menjadi ruang menjemur. “Memangnya Mas, rencananya kapan nikah?” “Nanti setelah uangnya terkumpul.” Dennis memasukkan baju-baju ke mesin cuci satu tabung itu. Dia memang memutuskan untuk mencuci sendiri pakaiannya, pengiritan agar tabungannya cepat terkumpul. “Memangnya butuh duit berapa banyak sih?” Amanda memang terlihat kepo, tapi dia harus menuntaskan rasa penasarannya. “Raya ingin pesta pernikahan yang mewah, kita sudah hitung-hitungan semuanya. Butuh dana hampir satu -M lah.” Kini Dennis menekan tombol cuci. Dan ikut duduk di samping Amanda. “Banyak banget, apa enggak sayang tuh uangnya?” Dennis hanya mengangkat bahu. “Nanti setelah kamu bertemu orang yang kamu sayangin, kamu akan tahu bahwa tujuan utama hidup kamu adalah untuk membahagiakannya, serta berusaha mengabulkan permintaannya.” Amanda hanya mangguk-mangguk. Ya mungkin memang jalan hidup Dennis seperti ini. “Sebenarnya sih enggak terlalu berat kalau saja orang tuaku merestui hubungan kita. Sayangnya mereka enggak merestui tanpa ngasih tau alasannya, dan sialnya duit yang selama ini aku kumpulin itu ditabung nyokap pakai nama dia, memang duit itu rencana buat nikah aku, setelah mereka tahu calonnya Raya, mereka justru enggak setuju, dan aku enggak bisa ambil duit itu. Jadi deh aku nabung dari nol lagi.” Dennis mengembuskan napas dengan keras. Sementara Amanda menepuk punggung Dennis pelan sambil berbisik, sabar Mas sabar. “Kamu enggak punya pacar? Apa memang enggak pernah punya pacar?” pertanyaan Dennis sontak membuat Amanda menarik tangannya. Biar bagaimana pun dia kan pernah mengalami juga yang namanya pacaran. “Pernah lah, tapi sudah putus lima tahun lalu.” “Coba cerita?” kali ini giliran Amanda yang menghela napas panjang. Dia pun menceritakan semua nya. Lima tahun lalu, dia mempunyai kehidupan yang bisa dibilang sempurna. Sahabat se-genk yang sangat kompak. Pacar tampan nan dewasa yang berbeda usia empat tahun darinya. Juga kedua orang tua yang selalu memanjakannya. Ayah Amanda seorang dosen di kampus tempatnya kuliah, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga, jadilah Amanda anak tunggal yang sangat disayangi dan dimanja kedua orangtuanya. Hampir semua keinginannya dipenuhi. Amanda menjadi sosok gadis yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Semuanya musnah ketika musibah itu datang. Suatu hari kedua orang tuanya sedang berlibur ke Bandung. Bilangnya sih Honeymoon. Tapi ternyata ketika pulang mereka sudah tidak bernyawa karena kecelakaan di salah satu ruas tol Bandung. Amanda menutup diri setelah itu. Alfa, kekasihnya selalu menghubunginya namun selalu diabaikan oleh Amanda, dia bahkan selalu datang ke rumah Amanda, namun Amanda menutup rapat pintu rumah. Dan membiarkan halaman terbengkalai seolah dia tak ada di rumah itu. Pun begitu dengan sahabat-sahabatnya, mereka berkali-kali mencoba mendatangi rumah Amanda, meskipun Amanda tahu ada orang di luar, dia tetap mengurung diri di kamar. Tidak siap menerima kematian kedua orang yang sangat dicintainya. Hingga akhirnya Alfa menulis pesan kalau dia butuh kejelasan mengenai hubungannya, dan dia minta maaf kalau dia harus memutuskan hubungan ini, karena merasa cintanya hanya sepihak. Dan pesan itu akhirnya dibalas amanda dengan satu kata, “iya.” Setelah itu Alfa masih rutin mengiriminya makanan, awalnya setiap minggu tiga-kali, lalu seminggu sekali, hingga frekuensi sebulan sekali. Dan tak pernah ada kiriman makanan lagi. Dia sangat perhatian terhadap Amanda meskipun Amanda sudah menutup diri. Begitu juga dengan teman-temannya, mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing sehingga jarang bertandang ke rumah Amanda, toh Amanda tak pernah muncul dihadapan mereka seberapa pun lamanya. Alfa saja jika mengirimi makanan hanya meletakannya di meja teras. Lalu mengirim pesan ke Amanda. Satu-dua jam kemudian Amanda keluar hanya untuk mengambil makanan itu, sementara Alfa entah sudah pergi kemana? Bapak Zay, Dosen pembimbing skripsi yang juga rekan sejawat Ayah pun selalu mencoba menghubungi Amanda namun teleponnya tak pernah diangkat oleh wanita itu. Dia baru bisa bertemu Amanda ketika membawa kotak barang-barang peninggalan Ayah dari kampus. Saat itu Amanda keluar dari rumah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Timbullah rasa iba dari pak Zay, dia mendorong Amanda agar menuntaskan skripsinya dan sangat sabar memberi bimbingan pada wanita itu. Dia menyadari kalau pasti sangat sulit bagi seorang gadis yang tiba-tiba menjadi yatim piatu, ditambah dia memang tidak punya anggota keluarga lain yang dekat. Keluarganya rata-rata tersebar di luar kota, mereka ingin mengajak Amanda tinggal bersama, namun Amanda tidak mau, dia selalu menolak. “Terus mantan pacar kamu sekarang bagaimana?” Dennis mengambil pakaian yang sudah bersih dan memasukkannya ke keranjang, cerita Amanda cukup panjang hingga tak sadar mesin cuci sudah mati dan pakaian dia sudah bersih. “Dia sudah nikah setahun yang lalu.” “Kamu datang?” tanyanya, Amanda mengangguk, Dennis sudah berjalan ke arah jemuran besi, membuka jemuran itu dan mulai menggantung pakaiannya di sana. “Temen-temen kamu, bagaimana?” “Kita masih berhubungan baik, setelah aku wisuda, aku yang hubungin mereka duluan.” “Oiya bagus dong!” “Hu’um, aku hubungin mereka juga saat butuh kerjaan aja, hehe. Mereka sudah pada kerja tetap semua, salah satu dari mereka ada yang jadi guru. Pas dia diklat sebulan, aku yang gantiin kerjaan dia ngajar kelas satu SD, kepala sekolah nawarin aku untuk ngajar di situ terus tapi aku enggak mau. enggak mau terikat. Males bangun pagi,” kekeh Amanda, Dennis hanya mencebikkan bibirnya. Satu yang dia tahu, Amanda memang masih belum bisa menerima keadaan seperti dulu. Tapi dia yakin, kalau suatu hari nanti, Amanda akan kembali menjadi dirinya sendiri. Lima tahun sudah terlalu lama untuk dihabiskan wanita itu dengan kehidupan sembrononya. Dia harus move on untuk menata diri, dan keluar dari dunia ciptaannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD