BAB 2

1532 Words
”Habis dimarahi dokter anak?” ​Suara itu terdengar sangat santai saat Dirga mengetuk pintu ruang komandan. Belum sempat ia melangkah masuk, Mayor Aditya Pranata sudah melontarkan godaan telak yang membuat langkah Dirga sejenak terhenti di ambang pintu. ​”Masuk,” sahut Aditya dari dalam. ​Dirga melangkah masuk dengan tubuh tegak sempurna. Seragam penerbang yang basah kuyup semalam sudah kembali rapi dan kering. Sepatu botnya mengilap sempurna di bawah cahaya lampu ruangan, namun ekspresi wajahnya masih datar, sedatar tembok beton yang kokoh. ​Mayor Aditya sedang memelototi berkas-berkas laporan di meja kerjanya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia memberi isyarat dengan tangan. “Silakan duduk.” ​”Siap, Komandan.” ​Dirga memilih untuk tetap berdiri tegak. Aditya lantas mengangkat kepala, lalu tersenyum tipis melihat posisi bawahannya yang sangat kaku itu. ​”Kalau wajahmu lebih kaku dari biasanya, pasti ada masalah besar yang sedang kamu simpan,” sindir Aditya dengan nada menggoda. ​”Tidak ada masalah apa pun, Komandan.” ​”Oh ya?” Aditya menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan gaya santai. “Lalu kenapa sejak masuk ruangan ini kamu tampak seperti baru saja melapor karena tidak sengaja menjatuhkan pesawat tempur ke laut?” ​Dirga menarik napas pendek, mencoba tetap tenang. “Saya hanya ingin menyampaikan laporan perkembangan kondisi Alika setelah kejadian semalam.” ​”Bagaimana keadaannya sekarang?” Suara Aditya berubah serius seketika, tatapannya menyiratkan kekhawatiran seorang ayah. ​”Demamnya sudah turun. Dokter sudah mengizinkan dia pulang setelah dilakukan observasi selama beberapa jam,” jawab Dirga dengan nada yang tenang. ​Raut wajah Aditya langsung melunak drastis. Sebagai seorang ayah tunggal yang sering disibukkan oleh tugas negara, kabar itu jauh lebih berarti daripada laporan misi operasional mana pun. “Syukurlah kalau begitu.” ​Dirga segera menyerahkan map berisi catatan medis yang ia ambil dari rumah sakit. “Semua hasilnya ada di sini, Komandan.” ​Aditya menerimanya sekilas lalu meletakkan map itu di atas meja tanpa membukanya. “Terima kasih, Dirga.” ​Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik. Dirga masih tetap berdiri tegak dengan tangan terkunci rapi di belakang punggung. Aditya memperhatikan bawahannya itu melalui celah kelopak matanya yang menyipit, mencari sesuatu yang janggal. ​”Kamu masih mau menyampaikan sesuatu yang lain?” tanya Aditya tajam. ​Dirga sempat ragu sejenak sebelum memutuskan untuk bicara. “Dokter yang menangani Alika semalam ...” ​”Hm? Kenapa dengannya?” ​”Beliau mengira saya adalah ayah kandung Alika.” ​Aditya langsung menahan tawa di balik bibirnya. “Lalu? Apa yang kamu lakukan?” ​”Saya tidak sempat menjelaskan apa pun kepada beliau.” ​”Kenapa? Kamu bisu?” ​”Beliau tidak memberi saya celah sedikit pun untuk bicara.” ​Aditya berdeham, berusaha menutupi rasa geli yang mulai membuncah di dadanya. “Terus bagaimana?” ​Dirga mengembuskan napas panjang, tampak frustrasi. “Saya dimarahi habis-habisan hampir sepanjang proses pemeriksaan berlangsung.” ​Kali ini, Aditya benar-benar tidak bisa menahan tawanya. “Hahaha!” ​Dirga hanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang kembali mengeras. Harga dirinya sebagai seorang penerbang tempur rasanya sedikit tergores oleh omelan seorang dokter. ​”Komandan.” ​”Maaf, maafkan saya.” Aditya mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa terlalu keras. “Saya hanya membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu saat kena omel habis-habisan.” ​Dirga tetap diam. Ia hanya menunggu tawa komandannya reda dengan kesabaran tingkat tinggi. ​”Dokter itu ngomel lama?” tanya Aditya di sela sisa tawanya. ​”Kurang lebih lima belas menit tanpa henti.” ​”Hanya lima belas?” ​Dirga menoleh sedikit, keningnya berkerut dalam. “Hanya?” ​”Saya kira bakal jauh lebih lama dari itu.” ​Dirga kembali menarik napas dalam-dalam. Belasan tahun menjadi taruna, menjalani pendidikan militer yang keras, hingga bertugas di berbagai operasi berbahaya, tidak pernah membuat harga dirinya terusik sedikit pun oleh teriakan para senior atau instruktur. Namun, omelan seorang dokter anak semalam entah mengapa terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. ​”Kamu melawan balik omelannya?” tanya Aditya. ​”Tidak sama sekali.” ​”Kenapa?” ​”Alika sedang ditangani. Saya tidak mau mengganggu prosedur medis yang sedang berlangsung,” jawab Dirga tegas. ​Aditya mengangguk mantap. “Itu keputusan yang benar dan sangat profesional.” ​Dirga sebenarnya ingin jujur bahwa setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk menjelaskan identitas aslinya, dokter itu sudah lebih dulu memotong dengan instruksi medis yang baru. Pada akhirnya, ia memilih untuk menelan semua kata-kata itu demi kepentingan kesehatan Alika. ​Aditya tersenyum tipis. “Namanya siapa?” ​”Dokter Kiara Anastasia.” ​Ekspresi Aditya berubah drastis, seolah baru saja teringat sesuatu yang penting. “Oh ... Kia, ya.” ​”Komandan mengenalnya?” ​”Sering bertemu di berbagai acara pangkalan. Dia adalah dokter anak langganan Alika sejak lama.” ​Jawaban itu membuat segalanya terasa masuk akal bagi Dirga. Pantas saja dokter tersebut begitu protektif dan galak saat ia membawa Alika dalam keadaan basah kuyup. ​”Kalau sudah menyangkut anak kecil, Kia memang tidak pernah main-main,” tambah Aditya dengan nada bangga. ​”Itu memang terlihat sangat jelas,” gumam Dirga. ​”Bahkan saya sendiri pernah kena ceramah hebat darinya.” ​Dirga mengerjapkan mata. “Komandan juga pernah?” ​”Tentu saja.” Aditya tertawa kecil saat mengenang masa lalu. “Waktu itu saya terlambat membawa Alika kontrol. Ceramahnya hampir dua puluh menit tanpa jeda, tepat di depan wajah saya.” ​Dirga tidak tahu apakah harus merasa lega karena bukan dirinya saja yang menjadi korban, atau justru merasa semakin pasrah dengan takdirnya. Ternyata bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran empuk dokter tersebut. ​Aditya menatap bawahannya dengan senyum yang masih tersisa. “Jangan dimasukkan ke hati.” ​”Siap, Komandan.” ​”Tapi saya yakin kamu pasti tetap memasukkannya ke hati.” ​Dirga memilih untuk diam. Diamnya sudah menjadi jawaban yang cukup bagi sang komandan yang sangat mengerti sifat bawahannya. Aditya lantas membuka map laporan kesehatan Alika kembali. ​”Dirga.” ​”Siap.” ​”Mulai minggu depan Alika masih harus kontrol rutin untuk memastikan kondisinya benar-benar pulih.” ​Dirga mengangguk mantap tanpa ragu. “Saya akan mengantarnya.” ​”Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali.” ​Dirga mendongak, matanya menatap tajam ke arah Aditya. “Maksudnya bagaimana, Komandan?” ​”Mungkin akan ada beberapa kali kontrol ke depan.” ​Ruang kerja itu mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Dirga merasakan firasat buruk mulai merayap di punggungnya. ​”Komandan ...” ​”Tidak ada orang lain yang bisa saya percaya untuk urusan ini, Dirga.” Aditya menutup map perlahan dengan gerakan tenang. “Saya harus segera berangkat mengikuti rangkaian persiapan latihan gabungan di luar kota. Jadwal saya sangat padat.” ​”Saya mengerti, Komandan.” ​”Keluarga saya juga sedang berada di luar kota sehingga tidak ada yang bisa membantu.” ​Dirga memahami sepenuhnya posisi Aditya. Komandannya itu hampir tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan militer. Kalau sampai ia harus menitipkan putrinya kepada bawahan, berarti tidak ada pilihan lain yang tersedia baginya saat ini. ​”Saya hanya bisa mempercayakan Alika kepadamu,” ujar Aditya penuh penekanan. ​Dirga mengangguk mantap. “Siap menjalankan tugas.” ​Aditya tersenyum bangga. “Itu baru perwira yang saya kenal selama ini.” ​Meski menjawab dengan sangat tegas, di dalam hati Dirga muncul bayangan yang sama sekali tidak berkaitan dengan tugas militer. Ia teringat wajah dokter yang semalam memarahinya tanpa jeda. Tatapan tajam, nada bicara tegas, dan kalimat-kalimat yang membuatnya tidak sempat membela diri. ​Aditya memperhatikan perubahan tipis di wajah bawahannya yang biasanya datar itu. “Ada yang mengganggu pikiranmu?” ​Dirga menjawab jujur. “Kalau Alika harus kontrol lagi, kemungkinan besar saya akan bertemu dokter yang sama.” ​”Benar.” ​”Saya rasa beliau masih menganggap saya ayah yang tidak bertanggung jawab.” ​Aditya kembali terkekeh geli. “Ya, kemungkinan besar dokter itu masih berpikiran begitu tentangmu.” ​”Komandan.” ​”Iya?” ​”Sepertinya saya akan berperang lagi dalam waktu dekat.” ​Tawa Aditya pecah memenuhi ruangan. “Tenang saja, Dirga.” ​”Siap.” ​”Perang yang satu ini tidak perlu pesawat tempur untuk bisa kamu menangkan.” ​Dirga hanya menghela napas pelan. Entah mengapa, menghadapi latihan udara yang berisiko tinggi terasa jauh lebih mudah daripada harus menghadapi satu dokter anak yang gemar memberi ceramah panjang lebar di ruang IGD. ​Beberapa menit kemudian, ia berdiri tegak, memberi hormat, lalu meninggalkan ruang komandan dengan map tugas baru di tangannya. Perintah sudah diterima. Tidak ada ruang untuk menolak sama sekali​ Ia akan kembali mengantar Alika ke RS Bhakti Medika. Itu artinya, cepat atau lambat, ia harus berhadapan kembali dengan dokter yang masih menganggapnya sebagai ayah paling ceroboh di Yogyakarta. ​Dirga menatap langit dari halaman pangkalan yang mulai cerah setelah hujan semalam. Di dalam hati, ia hanya memiliki satu harapan. ​Semoga pertemuan berikutnya tidak berubah menjadi perang yang lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD