01 - Menghampiri Arga
Hari ini merupakan anniversary hubungan Anaya dengan kekasihnya yang udah menginjak usia 5 tahun, mereka menjalin hubungan dari sma kelas satu dan langgeng sampai saat ini. Ia yang saat ini sedang sibuk dengan bisnis keluarganya, menyempatkan waktu untuk menyiapkan kejutan untuk Arga. Lelaki yang selama ini menemaninya, menenangkannya, menyayanginya dengan sabar, tidak pernah berkata kasar dan selalu menurutinya.
Tapi entah apa yang membuat Arga tidak kunjung melamarnya, padahal keluarga keduanya udah sangat dekat dan menyetujui hubungan keduanya. Anaya tidak pernah mendesak kekasihnya itu untuk menikahnya, dia hanya menunggu sampai Arga merasa siap, dan melakukannya tanpa paksaan dari siapapun.
Sudut bibirnya selalu melengkung dengan sempurna setiap kali menatap layar ponselnya, disana ia menatap potret kebersamaannya bersama dengan Arga. "Aku bahagia sekali bisa bertemu dan menjalin hubungan dengan lelaki baik sepertimu, ga."
Baru saja memikirkan tentang Arga tiba-tiba ponselnya berdering, senyum bahagianya langsung terpancar di wajah cantiknya, tanpa perlu menunggu waktu lama ia menjawab panggilan kekasihnya. "Hai sayang!" ucapnya dengan antusias
"Hai sayang. sebelum Arga melanjutkan ucapannya lagi, seperti sedang memikirkan sesuatu hingga akhirnya.
“Kamu lagi tidak sibuk ya?” Tanya Ananya, ya karean belakangan emang keduanya jarang teleponan, hanya sekedar memberi kabar melalui pesan singkat.
“Hmm.. Kamu jangan marah ya?" Ucap Arga yang terlihat ragu.
"Kenapa ga?" Jawab Anaya dengan penasaran.
"Sepertinya hari ini aku tidak bisa pulang."
Anaya mendesah berat, sebenarnya Anaya sudah bisa menebaknya, cuma entah kenapa dia berharap kekasihnya itu kembali hari ini.
"Tuh kan kamu pasti marah banget ya?"
"Enggak kok sayang, aku ngerti kerjaan kamu lagi kan?" Ucap Anaya dingin, ya belakangan ini semenjak Arga meneruskan bisnis keluarganya, Waktu untuk bertemu dengan Anaya semakin jarang.
"Iya sayang. Aku janji minggu depan kita akan bertemu untuk merayakan anniversary kita."
Anaya tampak kecewa, tapi dia mengerti juga kalau Arga tidak melakukannya dengan sengaja. "Baiklah." Jawab Anaya dengan berat sambil menghela kasar.
"Makasih ya sayang. I love you. Aku kabari lagi nanti ya."
"Hmm," Jawab Anaya lalu memutuskan panggilannya.
Anaya memandangi ponselnya dengan wajah kecewa terukir jelas di wajanya, Dia masih berharap kalau Arga hanya membohonginya, lalu memberikannya sebuah kejutan manis. Tapi, Arga bukan tipe lelaki seperti itu.
Anaya meletakkan ponselnya dengan kasar, sambil memikirkan rencana yang akan dibuatnya untuk memberikan sebuah kejutan kepada Arga.
Sambil memejamkan kedua matanya, dan memainkan rambutnya, “Kalau Arga tidak bisa pulang, kenapa bukan aku saja yang menyusulnya?” Ucapnya dengan senyum sumringah.
Anaya merapikan meja kerjanya, lalu mematikan laptop di hadapannya. Lalu menghubungi sahabatnya, “Kemana sih Ella!” Ketusnya kesal.
Setelah panggilan ketiganya tidak di jawab oleh Ella, ia memilih untuk tidak memberitahukan kepergiannya kepada sahabatnya itu.
“Nanti aja kali ya, tunggu aku kembali baru aku ceritain semuanya ke Ella.” Serunya semangat.
Anaya kembali kerumah untuk mengemas pakaiannya beberapa pasang, lalu bergegas menuju bandara. Ia menatap jam tangannya, “Masih sempat, tunggu aku ga!”
***
Sesampainya di kota tujuannya, Anaya bergegas menuju Perusahaan Asarawangsa, bisnis keluarga Arga dibidang kosmetik dan kecantikan. Yang mana bisnisnya udah berjalan cukup lama, sampai sukses berada di tingkat 3 besar di Indonesia.
Anaya mengerti beban berat yang di pikul oleh Arga saat ini. Hingga sekarang Arga lah yang di berikan tanggung jawab untuk menghandle nya. Ia menjadi harapan terbesar, Papanya Ardi. Sejak kecil Arga sudah tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri, semua keputusan penting selalu aja kedua orang tuanya yang mengambilnya.
Anaya selalu menjadi tempat curhat bagi Arga, cuma dengannya lah Arga bisa membagikan keluh kesahnya, beban- beban hidupnya. Cuma setahun belakangan ini, Arga mulai berubah sedikit lebih dingin, tidak pernah bercerita tentang apapun lagi.
Anaya dapat mengerti kalau kekasihnya belakangan semakin banyak beban. Maka dari itu Anaya tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang membuatnya tidak perlu. Ia cukup mempercayai Arga. Karena selama ini, Arga selalu jujur kepadanya.
TINGG!
Anaya tersadar dari lamunannya selama beberapa saat. Ia berjalan menuju ruang kerja Arga.
“Apa Arga ada di dalam ruangannya?” Tanyanya dengan antusias.
“Maaf, apa anda telah membuat janji temu dengan Pak Arga sebelumnya?”
Anaya menggeleng pelan, “Tidak ada.”
“Pak Arga saat ini sedang istirahat dan sedang tidak berada di kantor.” Ujar sekertarisnya.
“Oh begitu ya, kira-kira akan kembali jam berapa ya?”
“Kalau itu saya kurang tau bu. Maaf dengan ibu siapa ya? Nanti kalau Pak Arga sudah kembali saya akan sampaikan.”
“Tidak perlu, saya permisi ya.” Ujarnya lalu pergi berjalan meninggalan ruangan kerja Arga. Anaya menghela nafas, “Bahkan aku udah sampai disini pun sulit untuk bertemu denganmu.” Ucapnya sedikit frustasi.
Ya selama inj Anaya tidak pernah ke kantor Arga, hingga wajar saja sekertaris Arga tidak mengetahui siapa dirinya. Lagian ia terlalu malas menjelaskan hanya untuk mendapatkan sebuah validasi.
“Anaya!”
“Papa Ardi.” Serunya.
Anaya sudah seperti anak sendiri bagi keluarga Arga. Papanya Arga merupakan papa Anaya juga. Jadi selama ini lelaki itu tidak bisa macam-macam jika berniat menyakiti hati gadis itu.
“Apa yang membawa anak papa sampai jauh-jauh kesini?” Tanyanya.
Anaya menghela nafas, “Arga, pa.”
“Kenapa dengan anak itu? Apa dia menyakitimu?”
Anaya menggeleng dengan cepat, “Tidak pa. Dia terlalu sibuk sekarang, sampai-sampai tidak pernah ada waktu untuk Naya lagi.”
Papa Ardi menggerutkan keningnya, ia memang memberikan putranya tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan, tapi sesibuk-sibuknya Arga masih diberian libur dari jum’at sampai minggu. ‘Kemana anak nakal itu pergi jika tidak bertemu dengan Naya selama ini?’
Pa?” Panggil Anaya.
“Naya begini saja, coba kamu ke Apartemennya sekarang. Siapa tau dia disana.”
Ujar Ardi sambil menepuk pundak Naya.
“Apartemen, Pa?”
“Iya Naya.”
Bahkan selama ini Anaya tidak tau kalau kekasihnya itu udah pindah dari kediaman keluarganya. ‘Apa yang sebenarnya Arga sembunyikan dariku? Kalaupun dia sesibuk itu masa dia tidak pernah cerita tentang apartemennya sekali pun?’
“Kalau gitu Anaya pergi ya pa. Kirimkan aja alamat lengkap apartemen Arga pa.”
“Kamu tidak tau?” Tanya Ardi sedikit terkejut.
Pasalnya Arga selalu beralasan selama weekend tidak bisa di ganggu karena sedang bertemu dengan Anaya.
‘Kemana anak nakal itu selama ini?’ Ucapnya dalam hati.
“Nanti papa akan kirimkan alamatnya.”
Kalau gitu Anaya pergi dulu ya, pa.” Ucapnya lalu bergegas pergi.
Sementara Ardi masih menatap punggung Anaya hingga tidak terlihat lagi. Ia menjadi kasian melihat Anaya di perlakukan tidak baik seperti itu selama ini. Bahkan Ardi dan istrinya udah mendesak Arga untuk menikahi Anaya, tapi ia selalu saja beralasan kalau Anaya masih ingin menjadi wanita karier dulu. Hingga membuat Ardi tidak bisa memaksa putranya lagi.