Bab 2

1099 Words
Elang meninggalkan atensinya dari layar laptop. Ia bawa tubuhnya bersandar di kursi kerja. Pria tersebut menatap Senja penuh arti. “Kamu akan memenuhinya?” Senja membisu. Perasaannya mulai tidak tenang. Elang selalu berhasil mempermainkan keadaan. “Jangan basa-basi, Kak!” Satu sudut bibir Elang terangkat, membentuk seringai tipis yang khas. Ia berdeham ringan, sebelum akhirnya membawa maju bagian dadanya hingga menyentuh meja. Kedua tangan pria itu menyatu. Jari-jarinya saling menggenggam di atas meja. Tiap gerakan Senja selalu ia awasi dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. “Come on, Senja. Kita pernah--” “Stop!” Senja memotong cepat. Ia tahu, Elang akan selalu membahas tentang masa lalu. Mengingatkannya pada kisah pahit yang di mana pernikahannya hanya bertahan satu bulan. Tawa kecil terdengar. Elang puas melihat Senja yang terlihat tertekan saat ia membahas masa lalu. Pria tersebut mematri tatapannya pada sang perempuan. “Why? Bukankah itu kenyataan? Kita pernah menjad suami-istri. Dan--” “Dan kita sudah cerai, Kak.” Lagi-lagi Senja memotong cepat. “Jadi, tolong jangan bahas apa pun yang sudah terlewat.” Suara perempuan tersebut naik satu oktaf. Makin Senja kesal, makin gencar pula Elang berbicara. Pria tersebut beranjak dari kursi. Menyaku kedua tangannya di celana, kemudian melangkah lebar menghampiri Si Perempuan. Ia menghapus jarak hingga berdiri tepat di depan perempuan yang wajahnya sudah bersemu merah, bak kepiting rebus. “Masa lalu bukan hal memalukan, ‘kan?” tanya Elang, menantang. “Kenapa wajah kamu merah seperti itu?” Senja makin menegang. Ia tidak mendefinisikan apa yang dirasakan saat ini. Perempuan tersebut seperti kehilangan kata-kata. “Ingat, Senja.” Elang sedikit membungkukkan badannya. Ia memajukan wajah hingga berjarak satu senti dengan wajah Senja. “Saya nggak akan pernah melepas kamu.” Dua pasang mata itu saling bertaut. Deru napasnya menyapu wajah satu sama lain. Mereka seakan bicara melalui tatapan. Suasana ruang itu kembali hening. Dua orang yang pernah mempunyai hubungan dan tinggal satu atap yang sama kini saling bersitegang. “Kenapa?” tanya Senja. Nada bicaranya merendah, berharap Elang bisa menyingkirkan sedikit egonya. “Kasih aku alasan kenapa Kak Elang melakukan itu!” Pertanyaan itu tidak pernah bisa dijawab Elang. Ia juga tidak tahu apa alasan kenapa ia melakukan ini. Pria tersebut hanya mengikuti kata hati. “Nggak bisa jawab, ‘kan?” Senja tersenyum remeh. Ia dorong d.a.da pria tersebut dan mundur dua langkah. “Dari awal, Kak Elang emang cuma ada niat buat mainin perasaanku!” Pria tersebut kembali menegapkan tubuhnya. Ia menatap Senja yang terlihat kecewa padanya. Elang bisa melihat dari cara perempuan itu menatap. “Buktinya?” Elang menuntut. Kerutan tipis di dahi Senja menggambarkan kebingungan. Perempuan itu selalu dibuat bimbang dengan sikap Elang yang sulit diprediksi. “Banyak!” jawab Senja tegas. “Dari awal, Kak Elang itu udah kasih aku harapan kosong. Kak Elang tiba-tiba datang ke nikahan aku dan entah gimana ceritanya Kak Elang jadi pengantin penggantiku.” Senja bicara dalam satu tarikan napas. Dan Elang mendengarkan sambil mengangguk-angguk, seolah tidak menyalahkan ucapan perempuan tersebut. “Harusnya Kak Elang nggak berdiri di sana! Nggak jadi nikah mungkin lebih baik daripada aku harus berjuang sendiri dan berakhir jadi janda setelah menikah satu bulan.” Perempuan tersebut bicara sambil menahan sesak di d.a.da. Ia luapkan semua hal yang tertahan selama ini. Emosinya seperti bergumul. Riuh sekali. “Kalau kamu nggak jadi nikah ....” Elang menggantung ucapannya. Ia maju hingga jarak keduanya kembali menyempit. Ia cubit dagu perempuan tersebut dan membawa pandangannya padanya. “Bayangkan sebesar apa rasa malu orang tua kamu menanggung semuanya.” Senja gemetar. Elang benar. Jika saja pernikahannya benar-benar batal, mungkin, papanya akan jatuh sakit karena menanggung malu. “Kalau saya nggak maju saat itu ... mungkin papa kamu sudah nggak ada, Senja.” Mata Senja melotot merah. Ia menepis tangan Elang dari dagunya. “Jaga bicara Kak Elang!” Ia berseru, tidak terima. “Bayangkan, Senja. Bayangkan jika berbagai media yang sengaja dikumpulkan malam itu menyorot nama papamu. Mengabarkan jika putri tengahnya batal menikah karena calon pengantin pria yang melarikan diri bersama keluarganya.” Elang menjeda kalimatnya. Ia perhatikan wajah Senja yang makin tertekuk sedih. Perempuan itu makin mengecil. Bayangannya terbang ke malam pernikahannya. “Apa jadinya jika kabar buruk itu mempengaruhi bisnis papamu? Hm? Papa Bram akan bangkrut, satu per satu aset akan dijual untuk menutupi kerugian, dia sakit-sakitan dan hartanya habis untuk pengobatan.” “Kak Elang!” Kali ini Senja sudah tidak bisa menjaga nada bicara santai. Ada amarah sekaligus benci yang meledak dalam waktu bersamaan. Walau tidak dimungkiri kemungkinan buruk itu bisa saja terjadi, mengingat saat itu bisnis Bram--papa Senja--tengah naik daun. Namanya terkenal di mana-mana sebagai pebisnis kondang. “Ada apa, Senja? Apa ucapan saya salah?” Senja tidak berkutik. Namun, kedua tangannya meremas sisi rok yang dikenakan. Rahangnya mengetat. Netranya berkaca-kaca. Perempuan tersebut merapatkan matanya beberapa detik--berusaha mengumpulkan kekuatan untuk sekadar melawan argumen mantan suaminya. Dirasa cukup memiliki kekuatan, Senja membuka mata. Ia bawa pandangannya pada pria yang masih menatap remeh dirinya. “Aku tau Kak Elang punya kuasa di mana-mana. Kak Elang orang terpandang. Tapi, bukan berarti Kak Elang bisa memaksa kehendak orang.” “Saya nggak memaksa siapa pun, Senja.” Elang menunjukkan wajah sombongnya. “Mereka yang datang padaku karena murni kebutuhan. Seperti kamu contohnya.” Jawaban santai Elang membuat Senja makin naik pitam. Perempuan tersebut kembali mengambil mapnya dan menyodorkannya pada Elang. “Ya. Aku akui aku butuh. Aku butuh tanda tangan Kak Elang untuk kepentingan perusahaan.” Elang menggenggam lengan Senja, lalu mengusapnya pelan. Ia tersenyum sambil menatap perempuan yang helai rambut bagian depannya terlihat berantakan. Satu tangannya yang lain merapikan helai rambut itu, menyelipkan ke belakang telinga. Ia meraih dagu sang mantan istri, lalu memajukan wajahnya ke wajah Senja. “Kiss me.” Senja hampir tidak percaya mendengar permintaan itu. Ia membeku. Otaknya malfungsi. “Dan kamu akan mendapat tanda tangan dari saya, kapan pun kamu minta.” Gila. “Kamu benar-benar keterlaluan, Kak. Kamu bahkan menggunakan kesempatan dalam kesempitan! Kamu--hmmmppptt.” Mulut Senja dibungkam dengan ciuman Elang. Pria tersebut sengaja menggigitnya supaya Senja tidak bisa lepas begitu saja. Sementara itu, di lorong gelap dekat ruang kerja Elang, seorang lelaki berjalan sambil membawa dokumen di tangannya. Jam makan siang membuat suasana di lantai paling atas ruang tersebut sepi. Ia berhenti di depan pintu ruang Elang. Tangannya yang hendak menyentuh handle itu urung ketika matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di dalam sana. Wajahnya tiba-tiba mengeras. Ia menatap tajam ke dalam sana. Terlihat Senja tengah digendong seperti anak koala oleh pemimpin perusahaan ini sambil berciuman. Cepat-cepat lelaki itu menarik ponselnya dari saku kemeja. Ia merekam aksi gila Senja dengan Elang. “Kamu akan tau akibatnya, Senja.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD