PACAR PURA-PURA

949 Words
"Hallo... ada apa, Fer?" tanyaku masih dengan suara serak khas bangun tidur. Telpon dari Fero lah yang membangunkanku. Mengganggu saja. Aku baru tidur pukul 2 malam bergadang nonton lakorn Thailand. "Busyett... baru bangun tidur lo, ya? Anak gadis kok, bangunnya siang amat," cerosos Fero di seberang sana. "Hmmm," sahutku malas. "Ada apa nelpon pagi-pagi? Ganggu tidur gue aja." "Pagi kata lo?? Udah jam 9, woy! Menjelang siang itu namanya." "Sebelum jam 11 namamya masih pagi... menurut gue." "Iyain deh. Suka-suka lo aja." "Emang gitu!" "Iya Maudy... iya." Suara Fero terdengar pasrah. "Buruan lo mandi terus rapih-rapih. Gue mau jemput lo, ada perlu." "Mau ke mana emangnya?" "Nggak usah banyak tanya. Entar gue kasih tahu." "Hmmm. Sama anak-anak yang lainnya juga?" "Enggak. Cuma kita berdua aja." Tumbenan. Apa Fero sedang mengajakku kencan? Mana mungkin, sih? "Hallo Dy? Lo masih di sana?" "Eh... Iya masih. Gue mau mandi dulu. Bye!! *** Fero mengajakku pergi ke daerah Bogor, tepatnya ke Kopi Daong yang letaknya di daerah Pancawati, Caringin. Kopi Daong memang bukan cafe biasa. Fungsi cafenya tidak hanya sebagai restoran, tapi juga sebagai tempat rekreasi bagi kebanyakan orang. Tempatnya instagramable. Bukan hanya muda-mudi yang tengah menjalin kasih saja yang datang ke sana. Banyak orang yang sudah berkeluarga juga datang berkunjung. Aku pernah sekali ke sini bersama Fero dan sahabatku yang lainnya. Udaranya begitu sejuk dengan pepohonan pinus yang ada di sekitarnya. "Ngapain jauh-jauh ke sini?" tanyaku setelah Fero memarkirkan mobilnya. "Pengen aja. Gue ketagihan sama kopi daong-nya." Fero memang penyuka kopi. Bagusnya, dia tidak merokok. Padahal kebanyakan laki-laki yang aku tahu, kopi dan rokok itu adalah 2 hal tidak bisa terpisahkan. Yang suka merokok, sudah pasti suka ngopi. Tapi tidak semua yang ngopi itu perokok, Fero salah satu contohnya. "Sekalian ada yang mau gue omongin sama lo, Dy." Kami pun turun dari mobil dan memilih tempat duduk di bagian luar cafe. Kemudian memesan makan dan minuman. Udah sore, tadi cukup macet, aku yang belum sempat sarapan memesan makanan double. Anggap saja sarapan merangkap makan siang yang telat. Fero hanya geleng-geleng kepala melihatnya. "Kenapa geleng-geleng? Takut nggak mampu bayarin makan gue? Tenang... gue bawa duit, kok," ucapku padanya. "Bukan!!! Enak aja. Gue masih mampu bayarin makan lo di sini. Isi dompet dan ATM gue masih banyak." Si kunyuk satu ini mulai lagi menyombongkan diri. "Gue cuma mau tanya, itu nanti semua yang dipesen sanggup lo habisin nggak? Jangan mubazir!" "Ya habis lah. Gue laper, belum makan dari pagi. Tadi ada yang buru-buruin gue soalnya," sindirku. Fero menyengir. "Sorry, Dy! Kirain lo udah sempat sarapan sebelum gue dateng. Tahu gitu tadi beli cemilan dulu buat pengganjel selama di jalan." Aku mendengus. "Nggak peka-an emang. Tahu perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan kemungkinan macet, mampir ke mini market dulu kek, buat beli cemilan dan minuman." "He-eh... nggak kepikiran. Lo juga kenapa nggak bilang aja?" "Gue lanjutin tidur lagi pas baru naik mobil lo dan baru bangun pas di tol." Intinya aku tidak mau disalahkan. Fero yang salah. Cewek selalu benar. Titik. "Oh ya, katanya lo mau ngomong penting sama gue. Apaan emang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Fero terlihat gelisah, dia menggaruk bagian tengkuknya. Mulutnya terbuka terus tertutup lagi, sampai beberapa kali. Aku mengernyit heran. "Apaan?" tanyaku tidak sabar. "Eng... lo mau jadi pacar gue nggak, Dy?" "Hah?!" Aku menatap horor lelaki yang sedang duduk di depanku dengan wajah seriusnya. "Pacar pura-pura maksud gue. Enggak beneran." Dia menyengir tampak salah tingkah dengan kembali menggaruk tengkuknya. "Kenapa lo tiba-tiba minta gue jadi pacar boongan?" "Buat ngelancarin misi... biar dapet motor sport dari calon kakak ipar gue. Biasa, Kak Mitha nggak percayaan banget kalau gue ini punya pacar. He-eh... emang gue jomblo, sih. So, gimana? Lo mau bantuin gue nggak?" "Apa keuntungan bagi gue kalau bantuin elo?" "Gue akan ngelakuin apa aja buat lo!" "Apapun?" beoku. Sahabat lelakiku yang bernama lengkap Fero Anugraha itu menganggukkan kepala yakin, tanpa ada keraguan. "Deal... gue mau!" Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat dengannya. Mata Fero membola. "Seriusan, Dy? Lo mau?" ujar Fero senang sembari menjabat tanganku. "Gue berubah pikiran lagi, nih?" "Eh, jangan dong!" Aku tersenyum. Di dalam hatiku agak sedikit kecewa karena awalnya aku berpikir Fero akan memintaku menjadi pacar sungguhannya. Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku bisa tetap di dekatnya walau sudah tidak kuliah bersama lagi. Aku berjanji akan membuat Fero lupa bahwa aku hanya sekedar pacar pura-puranya. Dengan begini, aku bisa mengusir wanita yang suka mendekati Fero dengan bilang bahwa aku pacarnya sekarang. Sebelumnya dengan status sahabat kami, membuatku tidak dapat bertindak banyak pada mereka. Mereka tetap saja mengejar-ngejar Fero. Karena mereka tahu, aku dan Aya hanya sahabat bagi Fero. Aku juga menyukai Fero seperti kebanyakan wanita lainnya, namun secara diam-diam. Bukannya aku tidak laku, tidak disukai lelaki lain, lalu aku mengharapkannya. Bukan seperti itu. Tapi sejak awal, aku sudah jatuh hati padanya. Terbiasa bersama, membuat benih-benih cintaku padanya semakin bersemi. Aku tidak berani untuk mengungkapkannya. Takut ditolak dan akan berimbas pada hubungan persahabatan kami. Aku tidak jelek. Aku lumayan cantik dan disukai banyak lelaki juga di kampus. Tapi, ada banyak yang lebih cantik dariku. Ada model, puteri kampus dan banyak wanita famous serta anggun lainnya bertebaran di kampus. Rata-rata mereka menyukai Fero. Banyak ajakan ini itu yang mereka tujukan pada Fero saat kami tengah berkumpul, misalnya saat makan di kantin. Namun Fero bergeming, mereka semua ditolak! Sekelas model atau puteri kampus saja ditolak, apalagi aku yang kadar kecantikannya berada di bawah mereka? "Hei, Dy!" Fero mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku. Aku tersentak dari lamunanku. "Lo kenapa?" tanya Fero. "Nggak kenapa-napa," balasku tersenyum. "Gue boleh nanya sesuatu sama lo?" "Hmmm. Mau nanya apa?" "Kenapa gue yang lo minta menjadi pacar pura-pura lo? Kenapa bukan Aya atau yang lainnya? 'Kan ada banyak banget yang mau sama lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD