Setelah mengetuk dua kali, Adhikara menghela napas berat sambil menunggu pintu rumah itu dibuka. Tubuhnya diam, tetapi pikirannya berlarian ke mana-mana. Baru kali ini dia merasa sekhawatir ini—takut kedatangannya justru tak diharapkan. Tak lama kemudian, derit pintu terdengar. Punggung Adhikara menegak seketika. Kedua tangannya yang sejak tadi tanpa sadar terkepal segera dia lemaskan. Saat pandangannya bertemu dengan Ibu Eshita, kerutan di keningnya pun mengurai. Senyum langsung terbit di bibirnya. “Selamat malam, Bu. Eshita sudah tidur?” Ibu Eshita tampak terkejut melihatnya berdiri di sana. Namun sesaat kemudian, raut wajahnya berubah ramah. “Eh, Pak Jaksa. Saya kira siapa bertamu malam-malam begini.” Dia melebarkan pintu. “Silakan masuk. Eshita belum tidur, masih belajar di kamarny

