Dewa yang kebetulan berada di sampingku langsung berubah wajahnya, aku melirik sekilas ke Dewa yang terlihat meregangkan dasinya dengan gerakan yang kaku begitu aku menyebut nama Tania Victoria. Aku memang masih kesal dan marah dengan Tania, tapi aku harus profesional dan tidak membiarkan perasaan pribadi mempengaruhi bisnis perusahaan. Aku ingin melihat kemampuan Tania sebagai model, dan tidak mau mencampur aduk masalah pribadi dengan pekerjaan. "Besok, suruh Tania Victoria datang ke kantor," kataku dengan nada yang tegas. "Aku ingin melihat kualifikasinya, apa dia bisa menjadi model produk kita." Aku memandang karyawan yang sedang menunggu jawaban, "Selain Tania Victoria, apa ada kandidat lain yang bisa kita pertimbangkan?" Aku berharap masih ada beberapa pilihan lain yang bisa dipert

