0 🌹 Prologue
Satu minggu sebelumnya ....
Lampu-lampu temaram di mini bar sebuah caffee ibu kota berpendar lembut, memantulkan cahaya keemasan pada gelas-gelas wine yang berderet di rak. Musik akustik mengalun pelan, membaur dengan tawa dan percakapan hangat teman-teman Rose. Balon-balon metalik bertuliskan Happy Birthday menggantung manis di sudut ruangan, dan sebuah kue tar tiga tingkat dengan lilin angka 21 menjadi pusat perhatian di meja tengah.
Rose berdiri dengan senyum lebar, gaun satin berwarna red wine membalut tubuh rampingnya dengan anggun. Akash-pacarnya selama dua tahun terakhir-berdiri di sampingnya, sesekali merangkul bahunya sambil berbincang dengan tamu-tamu lain.
Saat lilin padam diikuti tepuk tangan meriah, Akash mengambil kotak kecil beludru merah dari sakunya. Seketika suasana berubah-mata semua orang tertuju padanya.
"Rose..." suaranya bergetar namun penuh keyakinan. Ia berlutut di hadapan wanita itu. "Will you marry me?"
Seruan kagum dan tepuk tangan menggema di ruangan. Beberapa teman Rose langsung mengeluarkan ponsel, merekam momen itu. Rose menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membesar, terkejut bukan main.
Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan paling indah di moment ulang tahunnya yang ke-21. Sesuatu yang sangat ia nantikan, salah satu mimpinya bisa menikah dengan pria yang dicintainya-malam ini menjadi satu langkah lebih dekat pada wish list itu.
Sorakan kata "terima" dan tepuk tangan masih memenuhi ruangan di lantai dua kafe itu. Sorot mata Akash lembut, penuh harapan, dan semua orang menunggu jawaban Rosevelle.
Namun sebelum Rosevelle sempat memberi jawaban, suara pintu terbuka mengalihkan semua mata yang ada di sana. Mereka semuq serempak menoleh.
Di pintu masuk mini bar, berdiri seorang pria tinggi dengan setelan hitam rapi dan kemeja yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Di sampingnya, pria dengan seragam rapi khas asisten pribadi berdiri. Di belakangnya, terdapat 4 orang dengan seragam serba hitam, sepatu pantofel hitam, dan juga kaca mata hitam berdiri tegak bak bodyguard yang siap melindungi ajudannya.
Cahaya lampu memantulkan kilau pada jam tangan mewah di pergelangannya. Tatapan matanya pekat, seperti badai yang siap menyapu bersih malam itu.
Dan ... Suara berat yang dingin namun memikat memotong suasana. "Sayang sekali... tapi sepertinya acara melamar ini harus batal." Tatapannya tajam, senyumannya jelas mematikan.
Ia berjalan perlahan, setiap langkahnya terdengar mantap, seolah ia adalah penguasa seluruh isi bumi. Ketika sampai di depan Rose, ia menundukkan wajah, menatapnya lama dengan senyum angkuh yang entah kenapa membuat napas Rose tercekat.
"Karena ..." Tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bereaksi, pria itu meraih pinggang Rose dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka hampir tak berjarak.
"Rose... adalah milikku."
Seketika, ruangan yang tadinya penuh tawa berubah menjadi hening tegang.
Rose meronta kecil, matanya membulat. "Lepas! Siapa kamu?!"
Eros menunduk sedikit, suaranya rendah dan nyaris seperti bisikan mengancam di telinganya.
"Kita akan bicara nanti... istri kecil." Senyum itu kembali terbit. Jika saja Rosevelle bisa melihatnya, ia akan melihat bagaimana senyum itu begitu angkuh dan penuh rasa kepemilikan.
Akash berdiri dengan wajah tegang, rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal lalu dengan cepat menarik tangan Rosevelle yang membuatnya terlepas dari pria tersebut.
"Jangan sembarangan, Tuan. Kau pasti salah orang." Tangannya beralih pada pinggang Rosevelle, memeluknya erat. "Dia kekasih saya. Semua orang tahu itu."
Eros menatap Akash sebentar, seolah mengukur nilainya, lalu tersenyum miring. Ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya, lalu mengambilnya sebatang kemudian memberi isyarat dengan jari tangannya pada pria yang berada di sampingnya.
Pria itu segera mengeluarkan benda dari saku celananya, menyalakan penyulutnya, membuat rokok yang berada di bibir Eros terbakar sempurna.
Eros menyesap rokok itu lalu membuang asapnya dengan gaya yang begitu santai namun semua pasang mata di sana tahu bahwa auranya sangat mematikan juga penuh pesona di waktu yang bersamaan.
Ia mencela, "Kekasih? Sayangnya, dia sudah bukan milikmu bahkan sekalipun kau memegang tangannya dua tahun lalu."
Mendengar itu, Akash sontak tertegun. Bagaimana bisa pria di hadapannya itu tahu tentang hubungannya dengan Rosevelle yang di mulai dua tahun yang lalu.
Akash yang sejak tadi menahan amarah akhirnya tak bisa lagi mengontrol dirinya. Ia melangkah cepat dan menghantamkan tinjunya ke arah rahang Eros. Pukulan itu keras, membuat kepala Eros sedikit terhuyung, namun bukannya jatuh-senyum tipis justru muncul di wajahnya.
Ruangan mendadak ricuh. Empat pria berbaju hitam di belakang Eros serentak maju, namun hanya dengan satu gerakan tangan, Eros memberi isyarat agar mereka mundur.
"Aku akan mengurusnya sendiri," ucapnya datar, namun mengandung nada menantang.
Akash kembali menyerang, kali ini mengarah ke perut. Eros dengan cepat menangkis, memutar tubuhnya, lalu membalas dengan pukulan telak ke tulang rusuk Akash. Napas lelaki itu tercekat.
Belum sempat Akash berdiri tegak, Eros menyambar kerah bajunya dan menghantamkannya ke meja, membuat beberapa gelas jatuh pecah. Sorak kaget dan jeritan kecil terdengar dari para tamu.
Akash berusaha melawan, melayangkan tendangan, tapi Eros sigap memutar badannya, menjegal kaki Akash, lalu menjatuhkannya ke lantai. Suara benturan keras terdengar.
Eros menunduk, menatapnya dari atas. "Kau salah besar telah berani menyerangku, parasit tak berguna."
Dengan tatapan dingin, Eros memberi isyarat pada keempat pria berbaju hitam itu. "Urus dia," ujarnya singkat, lalu meninggalkan Akash yang masih terengah.
Rose yang menyaksikan semua itu berdiri terpaku, tangannya mengepal. Begitu Eros mendekat, ia mundur selangkah. "Aku tidak akan ikut denganmu! Aku bahkan tidak mengenalmu!"
Eros menghentikan langkahnya, rahangnya mengeras. "Jangan menguji kesabaranku, Rosevelle. Ikut denganku... atau aku bisa berbuat kasar padamu."
"Jangan bermimpi!" balas Rose tajam.
Senyum Eros perlahan muncul kembali. "Baiklah... jika itu yang kau inginkan."
Dalam sekejap, ia meraih tubuh Rose dan mengangkatnya dengan mudah ke pelukannya. Sorakan dan bisik-bisik langsung memenuhi ruangan. Rose meronta keras, namun kekuatan Eros membuatnya tak bisa lepas.
Begitu keluar dari mini bar, Rose mencoba menendang dan mendorong, membuat Eros akhirnya menurunkannya. Saat ia berusaha kabur, tangan Eros melesat, menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dinding lorong.
Dua telapak tangan Eros bertumpu di sisi kepalanya, mengurung Rose sepenuhnya. Wajahnya semakin dekat. "Rupanya kau suka bermain-main, hmm?"
"Aku bukan milikmu! Kau tak bisa memperlakukan ak—" Ucapan itu terputus saat bibir Eros menekan bibirnya, mencium dengan kasar dan penuh kepemilikan. Rose terkejut, matanya membesar, kedua tangannya mendorong d**a Eros, namun lelaki itu justru meraih pinggangnya, menahannya erat.
Saat Eros melepaskan ciumannya, Rose bergerak menampar. "b******k!" Nada suaranya bergetar marah. Itu adalah ciuman pertamanya-yang bahkan tidak pernah ia berikan pada Akash.
Eros tersenyum tipis. "Aku memang b******k. Tapi pria yang amat kau cintai itu... lebih b******k dariku."
"Apa maksudmu—"
Belum sempat Rosevelle menyelesaikan ucapannya, Eros kembali memangkunya. Namun sebelum melangkah, ia kembali berkata, "Kau adalah milikku jadi bersikaplah yang manis, istri kecil!" Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu segera melangkahkan kakinya melewati lorong cafe tersebut.
🌹🌹🌹