Suara pemberitahuan pemberhentian kereta membuat tatapanku teralihkan dari layar ponsel yang sedang menampilkan barisan kalimat dari sebuah Novel Berjudul Perfect Honeymoon. Novel Klise tentang pernikahan tanpa cinta yang menurutku tidak ada yang spesial. Aku bahkan tidak mengerti kenapa Novel jelek ini bisa memiliki jutaan pembaca. "Berhenti membaca Novel ketika sedang berada di dalam Kereta Amanda! Sudah berapa kali kamu melwatkan stasiun tujuanmu karena kebiasaan burukmu itu?" Sahabatku memperingatkan sambil menarik tanganku untuk keluar dari sana.
"Minggu ini aku hanya terlewat satu kali, itu artinya sudah ada kemajuan bukan?" balasku sambil terkekeh. Sahabatku Rani, hanya mendesah saja.
"Jadi bagaimana Novel yang aku Rekomendasikan sebelumnya? bagus kan?"
"Menurutku biasa saja. Cerita yang biasa saja, bahkan masih banyak Plot Hole di dalam ceritanya, ending bahagia yang klise seperti novel pada umumnya. Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa novel itu bisa sangat terkenal." balasku acuh tak acuh.
"Tapi kamu tidak meninggalkan komentar jahat seperti biasanya kan Mand?" tanya Rani dengan raut wajah penuh selidik. Aku hanya terkekeh saja dan dia langsung tahu kalau aku sudah melakukannya. "Berhentilah berbuat kejahatan semacam itu hanya karena ceritanya tidak sesuai seleramu. Cerita yang kamu anggap biasa saja, nyatanya bisa memberikan kebahagiaan bagi jutaan orang yang membacanya." Rani bergumam, tapi aku tidak menghiraukannya. Kami masih harus mengejar Bus untuk sampai ke tempat kerja kami jadi kami harus jalan dengan cepat agar bisa mendapatkan bangku untuk duduk.
"Menurut kamu, kalau Adrian ada di dunia nyata, apakah dia akan setampan laki-laki dengan kaca mata mahal di depan?" aku berbisik pada Rani sambil melirik laki-laki yang baru saja masuk ke dalam Bus. Sahabatku terkekeh geli.
"Sepertinya dia lebih tampan. Bukankah penulis menggambarkan dia sebagai dewa Yunani?"
"Mana ada laki-laki setampan itu di Indonesia. Itu juga bagian paling tidak masuk akal diantara hal-hal tidak masuk akal lainnya." cemoohku.
"Tapi kalau Adrian memang tidak setampan itu, seperti apa jeleknya Bima? Bukankah Bima dikatakan sebagai laki-laki dengan tubuh besar dan berandalan? Apakah dia akan mirip dengan asisten supir yang seperti preman di depan?" balas Rani dengan bisikan kecil. Aku melirik ke arah pandang sahabatku kemudian terkikik.
"Mana mungkin Bima sejelek itu." kekehku geli.
Tanpa sadar kami terus membahas Novel yang banyak aku berikan komentar jahat itu hingga Bus yang kami naiki, mendekati kantor tempat kami bekerja. Tapi siapa yang menyangka, bahwa kebersamaan itu akan menjadi kebersamaanku dengan Rani yang terakhir kalinya. Karena Bus yang kami naiki tiba-tiba saja bertabrakan dengan sebuah Truk. Aku berhasil mendorong Rani keluar untuk menyelamatkannya, tapi aku tidak sempat keluar dan terbakar oleh ledakan yang dasyat. Dan disaat-saat terakhir saat aku berpikir kehidupanku di dunia sudah berakhir, tiba-tiba saja aku terbangun di sebuah tempat yang asing. Mirip sebuah kamar di Rumah Sakit dengan bau obat yang lumayan menusuk. Aku pikir mungkin saja aku berhasil diselamatkan dari kecelakaan itu dan berakhir di Rumah Sakit. Sampai seseorang yang tidak aku kenal datang dengan senyuman yang terlihat cantik sekali.
"Syukurlah kamu sudah bangun. Ibu sudah meresepkan vitamin untuk kamu makan. Kedepannya makan dengan teratur agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi Amanda. Ibu mengerti kalau kehidupan kamu tidak mudah, tapi dibandingkan orang yang tidak bisa bersekolah di tempat ini, kamu termasuk beruntung. Karena itu abaikan saja semua gangguan dan hiduplah dengan semangat. Di pertemuan kita selanjutnya, ibu harap luka di tangan kamu sudah tidak ada." ucapan wanita itu membuatku semakin bingung. Sekolah apa? Jelas-jelas aku sudah lulus kuliah empat tahun lalu dengan susah payah dan sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan yang lumayan menghasilkan uang. Dan apa-apaan perasaan ringan yang aku rasakan saat bangun ini? Semuanya sangat aneh sampai sulit untuk aku cerna.
"Ibu siapa?" tanyaku sambil mengerutkan dahi. Dan mengingat ucapan wanita itu mengenai luka di tanganku, mataku langsung mengarah ke pergelangan tanganku yang mungil dan cantik. "Tunggu! Tangan siapa ini?" ucapku nyaris berteriak. Karena aku tahu pasti tangan milikku tidak mungkin semungil itu mengingat berat badanku yang lebih dari delapan puluh Kilo sebelumnya.
"Amanda, kamu nggak papa kan? Ada yang sakit? Apakah kepala kamu pusing? Atau mungkin tadi kamu jatuh terlalu keras?" wanita yang sejak tadi sok akrab denganku itu terlihat khawatir, tapi belum sempat aku mendapatkan siapa identitas dari wanita tersebut, seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu dengan napas yang memburu.
"Kamu nggak papa kan Mand? Bu Dini, Manda nggak papa kan?" tanyanya terlihat khawatir. Tapi aku sungguh tidak mungkin mengenal laki-laki setampan ini.
"Dia siapa?" tanyaku lagi dengan dahi semakin berkerut. Wajah laki-laki tampan itu langsung berubah menjadi terheran-heran, begitupun dengan wajah wanita yang dipanggil bu Dini tadi.
"Kamu tidak mengenalku Amanda? Aku Wildan kekasihmu. Kamu tidak ingat?" tanya laki-laki itu dengan ekspresi tidak percaya.
"Sepertinya kita perlu membawanya ke Rumah Sakit. Meskipun tidak ada luka luar di kepalanya, bagaimanapun kita tidak tahu bagaimana Amanda terjatuh di Kamar Mandi sebelumnya. Karena itu lebih aman kalau kita memeriksanya lebih detail." ucap bu Dini dengan bijak.
"Tidak usah percaya padanya bu Dini! Dia hanya pura-pura saja. Amanda kan Hobby membuat drama demi mencari perhatian WIldan." Seorang gadis yang entah siapa lagi, tiba-tiba saja sudah berdiri di pintu dengan ekpresi yang kurang bersahabat. Disebelahnya ada dua gadis lain yang masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda pula. Satu diantaranya terlihat polos dan sedang menatapku dengan tatapan sedih, satu lagi terlihat tidak terlalu peduli.
"Kalau kamu melakukan ini gara-gara aku berduaan dengan kak Wildan di dalam ruang Osis kemarin, aku minta maaf Amanda. Aku benar-benar hanya memintanya membantuku mengerjakan tugas saja. Tidak ada apapun diantara kami." gadis yang tadi bertampang polos itu berbicara seolah dia adalah korban. Melihat itu aku langsung tahu kalau dia adalah penjual teh hijau yang berpura-pura polos dan baik hati di depan semua orang demi membuatku disalahkan.
"Jangan merasa bersalah seperti itu Suci, kita semua tahu kamu tidak bersalah. Lagipula Wildan juga seharusnya menjadi pacar kamu kalau tidak direbut olehnya." ucap Gadis yang tadi mengatakan aku sedang bersandiwara.
Melihat suasana yang aneh ini, aku langsung menatap Wildan untuk mengetahui reaksinya kemudian tatapanku berpindah ke wajah bu Dini. Aku memang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, tapi melihat keadaan yang semakin memojokan Amanda yang sekarang menjadi tubuhku ini, aku menunggu selama beberapa menit untuk melihat reaksi Wildan. Karena sebagai seorang kekasih, seharusnya dia membelaku dalam keadaan yang jelas merugikanku ini. Tapi melihatnya tetap diam meskipun ucapan gadis bernama Julia itu semakin memojokanku padahal aku tidak mengatakan sepatah katapun, aku tahu kalau Wildan tidak benar-benar mencintai Amanda. Reaksi bu Dini juga terlihat aneh, sebagai orang yang lebih tua dari mereka seharusnya dia menghentikan ucapan mereka yang sedang memojokkan aku yang jelas-jelas sedang sakit ini. Karena itu aku mendapatkan sebuah kesimpulan pasti, gadis bernama Julia itu kemungkinan adalah putri dari orang penting di sekolah ini yang bisa membuat posisi bu Dini dalam bahaya jika sampai mengusik gadis itu.
Aku mendesah kemudian turun dari ranjang. Kepalaku masih sakit dan melihat sepatuku yang memiliki bercak sabun berwarna pink, sementara sepatu tiga gadis itu juga memiliki bercak yang sama, aku langsung tahu kalau jatuhnya Amanda di Kamar Mandi, ada hubungannya dengan tiga gadis yang datang untuk menyerangku itu. "Amanda, gimana kalau aku antar kamu pulang saja? Karena meskipun aku ingin mengantarmu ke Rumah Sakit, aku tahu kamu benci tempat itu jadi nanti biar aku panggilkan dokter Pribadi saja ke rumahmu?" ucap Wildan terlihat peduli. Aku diam saja dan melanjutkan kegiatanku memakai sepatu yang terlihat mahal itu. Isi kepalaku penuh dengan pertanyaan. Siapa aku sebenarnya? Nama kami sama tapi aku tahu tubuhku jelas bukan tubuhku sebelumnya karena tubuh ini terasa sangat ringan. Aku masih ingat kedua tanganku yang menggembung karena berat badanku yang lebih dari delapan puluh kilo. Tapi tangan milikku sekarang kulitnya sangat cantik dan bentuknya juga sangat cantik.
"Sudahlah Wildan, mau sampai kapan kamu peduli pada anak buangan itu. Keluarganya saja tidak peduli padanya. Dia hanya menyandang nama belakang Hanara saja tapi tidak ada kehebatan keluarganya yang bisa dia manfaatkan. Bisa dikatakan, dia hanya anak buangan yang tidak memiliki apapun." Julia kembali bicara dengan nada congkaknya. Tapi tunggu dulu! Hanara?
Ingatanku tentang Series Novel yang sebelumnya aku baca kembali berputar. Amanda Aurora Hanara, adalah seorang tokoh jahat di salah satu Series dari penuli yang sama dengan Perfect Honeymoon. Series yang belum selesai di tulis oleh penulisnya karena dia hiatus dengan alasan sakit. Yaitu Perfect Honeymoon tiga.
Aku menghentikkan tanganku yang sedang mengikat tali sepatu, mencoba untuk mencerna isi kepalaku yang membingungkan. "Tidak mungkin!" Aku bergumam sendiri sambil kembali menatap satu persatu wajah semua orang yang sekarang sedang menatapku dengan tatapan aneh.
Aku bangun kemudian berlari keluar melewati semua orang. Terus berlari keluar dari sekolah dan melihat nama sekolah elit tempat aku bangun ini. "Alexander High School?" Aku membaca nama sekolah yang tertulis dengan megah di bagian depan dengan tidak percaya.
Itu adalah nama sekolah Amanda yang pernah disebut di dalam Novel ketika gadis itu menjadi bahan gosip setelah ditemukan meninggal di Hutan karena menganggu istri dari tokoh utama Pria. Semua orang yakin sekali dia dibunuh oleh Adrian, tokoh Utama Pria dari Series Novel ini. Masa lalu Amanda sebagai Tokoh paling jahat di dalam Series tidak selesai itu tidak dijelaskan dengan pasti, karena Novelnya belum selesai. Tapi mengingat saat Amanda mati dia berusia dua puluh tahun, itu artinya Plot cerita itu saat ini belum dimulai jika memang benar aku merasuki tubuh Amanda si Tokoh Antagonis dalam sebuah Novel.
Sambil berpikir keras__berusaha untuk mencerna semua yang terjadi, mataku tidak sengaja menatap ke pantulan diriku yang terlihat dari kaca ruang Satpam. Reflek aku langsung mendekat dan memegang wajahku dengan tidak percaya. Hidung mancung, kulit putih, rambut tebal yang indah dan tinggi badan yang ideal untuk menjadi model? Aku nyaris berteriak di dalam hati saking terkejutnya melihat kecantikan dari tubuh yang aku rasuki. "Aku harus mati menjadi tokoh jahat dengan wajah sesempurna ini? Jangan bercanda?" gumamku sambil tertawa tidak percaya. Tapi belum sempat aku mengagumi lebih jauh wajah cantik yang sekarang menjadi milikku, Wildan datang menghampiri dengan napas yang memburu.
"Amanda serius kamu nggak papa kan? Ayok aku antar pulang saja." ucapnya dengan ekspresi khawatir. Aku mundur selangkah ketika dia hendak menghampiriku lebih dekat.
"Aku tidak papa dan aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Karena itu aku akan pulang naik taksi saja." ucapku kemudian berbalik meninggalkannya yang terlihat menatapku dengan bingung. Persetan dengan laki-laki kaya yang tampan itu. Sekarang aku tidak mati dan aku berada di tubuh yang sempurna, uang di sakuku juga banyak dan kemungkinan uang di dalam tabunganku juga tidak sedikit. Di kehidupan kali ini aku hanya ingin bersenang-senang, menjauhi semua tokoh utama, menguras harta keluargaku yang jahat kemudian pergi ke Luar Negri untuk kuliah disana dan mulai membangun rencana balas dendam dari sana. Rencana hidup yang sempurna karena sekarang aku tidak menjadi orang miskin yang harus bersusah payah demi uang lagi.
Tapi rencana sempurna itu hancur berantakan, ketika aku menyadari apa yang akan terjadi pada Amanda setelah dia lulus SMA beberapa bulan lagi.
"Wahh cantik sekali putri bungsu pak Hanara. Saya jadi tidak sabar." seorang laki-laki dengan tubuh gempal dan kumis yang tipis menatap penuh napsu ke arahku yang baru menginjakkan kakiku di dalam Rumah Mewah bak Istana ini. Dan laki-laki itu mengingatkanku pada sebuah plot masa lalu Amanda si Tokoh Jahat yang akan menjadi pemicu paling besar untuk membangun karakter penjahat di dalam dirinya. Laki-laki tua itu rencananya akan di jodohkan dengan Amanda setelah dia lulus, dan dari laki-laki itulahj Amanda akan mendapatkan penderitaan paling menyakitkan.
Aku langsung masuk ke dalam kamarku tanpa menanggapi sapaan laki-laki m***m itu. Jantungku berdebar dengan hebat. Ada rasa sedih yang tiba-tiba saja merasuk ke dalam relung hatiku. Bukan hanya karena Amanda akan dinikahkan dengan laki-laki yang jelas-jelas tidak baik itu, tapi karena yang menawarkan Amanda pada laki-laki tua itu adalah ayah kandungnya sendiri. Sebutir air mata jatuh di pipiku sambil mataku kembali menatap pergelangan tanganku yang dipenuhi goresan silet. Kemungkinan sebelum aku merasukinnya, sudah banyak penderitaan yang gadis muda ini tanggung sendirian.
"Amanda jangan tidak tahu diri! Kamu harus menyapa Juragan Tono dengan benar!" Dari arah luar terdengar suara ibu Tiri Amanda yang sekarang juga menjadi ibu tiriku karena tubuh Amanda sudah menjadi miliku. Gedoran di pjntu terasa sangat keras dibelakang punggungku yang sekarang sedang bersandar pada pintu. Aku diam saja sampai wanita itu pergi dengan beberapa umpatan yang terdengar jelas.
Untuk menjernihkan pikiranku yang kacau karena keadaan yang berubah tiba-tiba, aku masuk ke kamar mandi dan berendam di dalam Bathtube selama beberapa menit kemudian memakai piamaku dan merebahkan diriku diatas kasur mahal yang terasa sangat nyaman itu. "Aku harus bagaimana?" gumamku mencoba berpikir.
Alasan kenapa Amanda di dalam Novel berusaha menyingkirkan Lisa adalah karena dia berpikir hanya Adrian yang bisa membantunya menyingkirkan keluarganya yang jahat dan menyelematkannya dari kehidupan yang memuakkan. Amanda muda belajar dengan susah payah agar diterima menjadi Sekertaris Baru Adrian kemudian menggodanya. Jalan ekstreme itu dia ambil kemungkinan karena dia tidak tahu lagi harus bersandar pada siapa. Tapi karena tubuh Amanda sekarang adalah milikku, aku tidak mau mengambil jalan itu dan berakhir dengan kematian yang menyedihkan. "Siapa tokoh yang harus aku dekati agar aku bisa selamat?" gumamku lagi sambil berpikir sangat keras. "Ah, bagaimana dengan si Besar Bima yang sering menjadi bahan pembicaraanku dengan Rani?" ucapku sedikit bersorak. "Meskipun penulis menggambarkan dia sebagai berandalan dengan tubuh besar yang kemungkinan jelek. Dia seharusnya lumayan kaya sebagai laki-laki yang memiliki banyak bisnis di dunia gelap. Bukan hanya itu saja, dia juga disegani karena dekat dengan Adrian. Dan yang lebih penting dari apapun adalah nasib kisah cintanya yang selalu tragis. Benar, Duda jelek itu pilihanku! Dia adalah pilihan yang tepat. Dan sebagai seorang gadis yang pernah hidup selama tiga puluh tiga tahun dalam garis kemiskinan ekstreme, aku jelas tahu bahwa wajah tidaklah penting, karena uang adalah penentu segalanya." ujarku mulai bertekad. "Benar Amanda! Kamu berhasil mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup dengan awal yang lebih sempurna, karena itu kamu tidak boleh menyerah!" aku menyemangati diriku sendiri sambil tersenyum lebar. Sebelum mataku mulai berat, skenario balas dendam pada keluarga Amanda dan juga teman-temannya yang jahat mulai bermunculan disana. Esok hari aku bangun tidur dengan perut yang sangat sakit karena melewatkan makan malam. Tapi aku langsung menyambar tasku dan keluar dari rumah dengan pakaian sekolah lengkap, alih-alih ikut sarapan bersama keluargaku yang jahat itu.
"Tapi yang jadi masalah, dimana Bima Tinggal?" gumamku sambil mengacak rambutku dengan frustai. Semuanya tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya.
***