2. Menikah Lagi

1255 Words
Aku Roni, Roni Baskoro. Anak kedua dari Baskoro. Iya. Papaku punya dua orang anak laki-laki, tapi yang satunya lagi sudah menikah dan memutuskan pisah rumah dari kamu, dan mulai membangun keluarganya sendiri, meskipun sampai saat ini, kakak ku itu masih bekerja di perusahaan di mana papaku juga bekerja. Tentu saja tujuannya ingin hidup mandiri, jauh dari campur tangan orang tua kami , karena kebanyakan menantu kan inginnya seperti itu. Tidak mau tinggal bersama mertuanya, terlebih lagi saat kakak ku menikah waktu itu, Mamaku sedang lumpuh, dan kesulitan untuk bergerak sendiri, dan sepertinya wanita yang menjadi kakak iparku itu juga tidak mau repot jika harus ikut terlibat mengurus Mama yang saat itu benar-benar butuh perawatan khusus. Sudah cukup lama mamaku sakit-sakitan, dan hampir lima tahun ini dia justru lumpuh total. Namun meskipun kakakku tinggal di rumah besar ini, istrinya juga tidak akan kerepotan untuk mengurus mama kami, karena waktu itu papa memperkerjakan dua orang perawat untuk merawat mama, tapi namanya juga pengantin baru, mereka tidak ingin diganggu oleh siapapun hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen yang juga tidak kalah mewahnya dengan tempat tinggal kami saat ini. Hingga akhirnya, mamaku meninggal enam bulan lalu, setelah sempat dirawat di rumah sakit lebih dari dua minggu, dan tiga bulan setelah kepergian mama, Papaku justru membawa seorang wanita muda yang usianya hampir sebaya denganku. Awalnya aku pikir wanita itu adalah anak papaku dari perempuan lain, akan tetapi setelah tertegun cukup lama, Papaku justru memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya. Aku masih ingat betul bagaimana hari itu ketika Papa membawa Susi datang ke rumah ini, dan memperkenalkannya sebagai istri mudanya. Aku tentu saja syok... tapi itu tidak berlangsung lama. Aku dengan cepat menormalkan perasaanku sendiri mengingat mamaku sudah lama sakit-sakitan dan mustahil rasanya jika selama Mama sakit papa tetap memaksa Mama untuk melayani kebutuhan biologisnya. Aku tidak tahu bagaimana Papaku melampiaskan hasratnya selama ini. Mamaku sudah sakit lebih dari sepuluh tahun dan lima tahun ini dia justru lumpuh total. Sementara untuk laki-laki seumuran papaku, yang masih sangat sehat dan modis, mustahil rasanya jika hasratnya tidak akan tergerak untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya, terlebih lagi kami bukan keluarga tidak mampu, meskipun kami juga bukan keluarga yang kaya raya... tapi tentu saja papaku punya cukup uang dan aset untuk dia banggakan, lantas mencari pelampiasan lain selama Mama sakit. Aku tidak berani memikirkan itu, tapi jika melihat ke agresifan Papa pada istri mudanya, sepertinya selama ini Papa lebih memilih menggunakan jasa profesional untuk menuntaskan hasratnya itu. Flashback. Hari itu aku sedang memarkirkan motor sport milikku di garasi rumah saat tiba-tiba suara mobil papaku terdengar dari arah gerbang utama rumah kami. Aku menoleh kemudian tersenyum seperti biasanya, dan saat itu Papaku juga membalas senyumku dengan cara yang sama, hangat dan figur papa benar-benar terpancar dari aura wajahnya. "Ron.. baru pulang kamu...?!" sapa Papa ramah dan aku hanya mengangguk. Menurunkan standar satu motorku lalu turun dari atas motor itu. "Ah iya Pa... Papa tumben pulang jam segini, biasanya juga malem baru pulang!" Aku membalas sapaan ramah Papa, dan aku melihat Papa mengitari mobilnya kemudian membuka pintu penumpang sebelah kemudinya, lalu turunlah seorang wanita cantik dari pintu itu. Senyum papa masih senantiasa terpatri di bingkai wajah tampannya, tapi kali ini ada senyum lain yang juga turut menyapaku. Untuk sesaat aku mengerutkan alisku, pertanda bingung. Siapakah gadis cantik yang baru saja turun dari mobil Papaku itu...? Namun pertanyaan yang belum lepas dari bibirku itu langsung terjawab menit itu juga oleh papaku. "Roni... Kenalkan , dia Susi!" ucap Papa dengan intonasi suara yang terdengar sangat lembut dan aku kembali tersenyum seraya mengulurkan tangan di hadapan wanita itu dan wanita itu langsung menjabat tanganku seraya menyebutkan namanya sendiri , dan aku pun menyebut namaku sendiri. "Susi." "Roni." Aku menunjuk ke arah Susi akan tetapi tatapan mataku justru tertuju ke arah papa, dan sepertinya papa mengerti apa maksud dari isyarat itu dan detik berikutnya papa juga langsung memperkenalkan siapa Susi. "Roni. Kenalkan, ini Susi. Istri baru Papa. Papa baru saja menikahinya , dan sekarang Susi akan menjadi ibu tiri kamu. Dia juga akan tinggal di rumah kita, jadi papa harap kamu bisa akur sama Susi. Jangan merepotkan dia atau menyulitkan dia. Kau juga harus banyak membantunya, karena mulai sekarang Susi yang akan mengurus segala keperluan Papa. Segalanya, tanpa terkecuali!" ucap Papa dengan menekan setiap kalimatnya bahwasanya Suci akan mengurusnya mulai hari ini, dan pastinya aku mengerti maksud dari kata mengurus itu. Namun yang masih belum bisa aku mengerti adalah bagaimana bisa papa yang sudah berusia lima puluh lima tahun ini menikahi seorang wanita yang berani aku prediksikan usianya masih dua puluh dua , atau dua puluh tiga tahun. "Aah begitu ya!" Aku mengangguk-ngangguk seolah setuju dengan apa yang baru saja papa katakan, meskipun logikaku masih saja merasa ini tidak benar. "Dan kamu Susi. Kamu juga harus secepatnya menyesuaikan diri dengan putraku ini, karena hanya dia yang tinggal bersamaku saat ini, sementara putraku yang satunya lagi... Dia sudah punya kehidupan sendiri! Nanti aku akan menelponnya dan memintanya datang ke rumah, nanti aku juga akan memperkenalkanmu padanya agar kalian bisa segera akrab!" ucap papa penuh keyakinan. Aku yakin kak Dicky tidak akan terkejut ketika nanti papa mengatakan jika dia sudah menikah, karena bagaimanapun usul agar papa menikah lagi adalah dari dia, hanya saja yang akan membuat Dicky terkejut mungkin wanita pilihan papa yang terlalu muda untuk menyandang status mama dari dua laki-laki dewasa yang bahkan usianya mungkin lebih tua dari Susi sendiri . Susi hanya mengangguk, atas apa yang baru saja papaku sampaikan padanya, sementara aku masih terpaku, logikaku susah payah mencerna apa yang saat ini terjadi, pikiranku tetap tidak bisa menemukan jawaban pasti dari rasa terkejut ku saat ini. What happened?! Papa menggandeng mesra pinggang Susi, menggiringnya untuk masuk ke rumah besar kami dan Susi hanya menunduk ketika mengikuti langkah papaku. Tidak hanya memperkenalkan Susi padaku , tapi papa juga memperkenalkan Susi pada dua asisten rumah tangga yang bertugas untuk membersihkan rumah itu juga memasak. Papa tentu saja memperkenalkan Susi sebagai Nyonya baru di rumah ini, sebagai istri mudanya, dan sama seperti apa yang aku rasakan tadi, kedua asisten rumah tangga itu pun sempat kaget dengan kabar yang baru saja papa sampaikan padanya, akan tetapi meski demikian mereka juga tetap mengangguk patuh karena bagaimanapun di sini majikannya adalah papaku , dan tentu saja papa bisa melakukan apa saja selama itu bisa membuat hatinya senang, termasuk menikah lagi. Aku pilih mengabaikannya sesaat dan kembali ke kamarku di lantai atas. Aku lantas merebahkan tubuhku di atas tempat tidur seraya memijit keningku, dan detik berikutnya aku justru mendengar langkah seseorang menaiki anak tangga lalu disusul dengan suara pintu terbuka. Aku yakin jika itu adalah Papa dengan istri mudanya. Mereka baru saja memasuki kamar mereka dan mendadak aku justru memikirkan malam pengantin mereka. "Eeehm... Mas... nanti dulu!" tiba-tiba suara manja tertangkap lembut oleh indera pendengaranku dan aku yakin jika itu adalah suara Susi, meskipun aku dan dia baru berkenalan beberapa menit yang lalu, dan bahkan belum sempat bercengkrama banyak. Namun aku yakin jika itu adalah suara Susi. "Aku tidak sabar , Sayang. Bibirmu terlalu menggoda!" Kali ini jelas suara papa. Oooh... Apa yang sedang papa lakukan pada Susi...? Apa dia sedang memaksa ciumannya pada wanita muda itu...? Oooh apa papaku benar-benar tega untuk melakukan itu pada seorang wanita rapuh seperti Susi...? Oooh ini benar-benar sangat tidak masuk akal. Namun jauh dari adegan ciuman yang mungkin sedang dilakukan oleh papaku dan Susi, aku justru mengkhawatirkan tentang malam pertama mereka. Apakah Susi benar-benar bisa mengimbangi tubuh besar papa ketika papa nanti menindih tubuh rampingnya...? Oooh ini benar-benar sangat mendebarkan untuk sekedar dibayangkan oleh otakku, tapi detik berikutnya... aku justru....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD