“Yaya! Tunggu aku! Yaya! Yaya!” panggil Zoya sembari mengejar Navaya yang terburu buru keluar dari lift. “Ya, ampun! Yaya! Kau masih marah padaku?” tanyanya begitu berhasil menahan lengan sang sahabat. Zoya menghela napas panjang. “Baiklah. Aku minta maaf karena tidak mendengarmu. Aku spontan meladeni ucapan mereka karena sudah tidak tahan. Mereka sudah keterlaluan padamu. Apa kau sama sekali tidak marah pada mereka? Kalau aku jadi kau, mungkin aku sudah menjahit mulut mereka satu-satu.” “Aku marah bukan karena itu,” elak Navaya. “Kenapa kau dengan seenaknya menyuruh mereka datang ke rumahku tanpa persetujuanku?” “Itu karena mereka menginginkan bukti. Jika tidak seperti itu, mereka tidak akan percaya dan kita akan dicap pembohong. Memang kenapa kalau mereka datang ke rumahmu? Mereka han

