bc

MALAM PANAS SEBELUM BERCERAI

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
family
HE
escape while being pregnant
opposites attract
curse
mafia
heir/heiress
blue collar
tragedy
bxg
bold
city
office/work place
small town
cheating
enimies to lovers
love at the first sight
affair
friends with benefits
polygamy
addiction
actor
like
intro-logo
Blurb

“Freya, kau hanyalah wanita pemuas nafsuku di ranjang. Jadi jangan berharap lebih, apalagi anak.”

*

Pernikahan Freya Dominica Bagaspati puteri seorang pilot terkenal Raden Ryuga Bagaspati dengan cucu pengusaha kaya raya Swan Arthur Livingston yang bernama Jacob Arthur Livingston sempat membuat gempar publik. Freya dianggap sebagai wanita yang paling beruntung di muka bumi ini, karena dipersunting oleh seorang pria tampan dengan kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan. Sayangnya, semua itu hanyalah fatamorgana.

*

Bagi Jacob, Freya hanya sebagai pemuas nafsunya di ranjang, dia selama ini dianggap angin lalu oleh sang suami. Karena bagi Jacob, wanita yang layak dicintai adalah sang penyelamatnya semasa SMA.

*

Tahun demi tahun dilewati Freya dengan pura-pura tenang, sampai akhirnya puncaknya di ulang tahun ketiga pernikahan mereka, dimana Jacob menyodorkan surat cerai ke 100. Dan malam itu, Freya yang baru saja kehilangan janinnya, membuatnya sadar bahwa dia telah bodoh selama tiga tahun ini.

*

Dengan penuh percaya diri, dia menanda tangani surat cerai itu, dan saat itu justru Jacob merasa terluka harga dirinya melihat perubahan Freya yang dingin padanya.

*

Freya memilih menghilang dan memalsukan kematiannya dan membuat Jacob semakin gila. Tanpa sengaja mereka kembali bertemu dimana Freya sudah menggandeng tangan pria lain dengan seoarang anak kecil yang mirip dengan Jacob di malam acara penghargan.

chap-preview
Free preview
Pemuas
"Kalian tidak usah khawatir, karena aku akan selalu menang. Freya itu tidak mungkin meninggalkanku." Suara gelak tawa bariton milik Jacob Livingston menembus celah pintu kayu jati ruang karaoke VVIP malam itu. “Dia bahkan rela hanya hidup menjadi pemuas nafsuku…” Di luar ruangan yang remang-remang, Freya Dominica Bagaspati berdiri mematung. Jemarinya yang memegang erat sebuah kotak hadiah kecil berpita biru mendadak kaku. Seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir seketika. Malam ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Ketika Jacob tiba-tiba mengirimkan pesan singkat berisi alamat tempat ini, jantung Freya sempat berdesir hebat. Selama tiga tahun hidup dalam pengabaian dan dinginnya sikap sang suami, ini adalah kali pertama Jacob mengajaknya keluar tepat di hari jadi mereka. Dengan kepolosan yang naif, Freya mengira Jacob ingin merayakan hari istimewa ini bersama teman-temannya. Freya mengira, pria itu akhirnya mulai membuka hati dan menerimanya sebagai seorang istri. Namun, kalimat selanjutnya yang terdengar dari dalam ruangan itu menghancurkan seluruh angan indahnya berkeping-keping tanpa sisa. "Jac, aku yakin kali ini Freya pasti mau menandatangani surat cerai itu. Apakah kau sudah siap untuk mengeluarkan uangmu satu miliar untuk taruhan kita?" tanya seorang pria yang duduk tenang di sofa, salah satu teman dekat Jacob yang selalu mengekor ke mana pun sang konglomerat pergi. Jacob terkekeh sinis. Suara klik pemantik api terdengar, disusul kepulan asap cerutu yang samar terlihat dari balik kaca kecil pintu. "Melihatku dengan wanita lain saja dia rela. Bahkan kalian tahu sendiri selama tiga tahun ini, dia tidak masalah hidupnya dijadikan lelucon yang penting aku senang. Dia semurahan itu memang. Dan bagiku aku di untungkan, ketika aku ingin tidur dengan wanita, ada dia yang selalu siap dan tidak pernah menuntut appaun dariku." Deg. Dada Freya terasa seperti dihantam batu besar yang menghimpit hingga membuat d**a itu terasa sakit, sesak, hingga paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen. Air mata yang sejak tadi dia tahan demi tampil cantik di depan Jacob, runtuh membanjiri pipinya yang pucat. Tiga tahun ini, Freya telah merendahkan dirinya setingkat b***k di rumah megah Livingston. Sebagai seorang dokter sekaligus putri dari pilot legendaris Raden Ryuga Bagaspati, dia mengorbankan kehormatan keluarganya demi mengejar cinta Jacob sejak SMA. Dia menyiapkan segala kebutuhan Jacob dari bangun tidur hingga memejamkan mata dengan kedua tangannya sendiri. Dia menelan pil KB dosis tinggi setiap kali usai berhubungan intim karena Jacob melarangnya hamil, menegaskan dengan kejam bahwa rahim Freya terlalu murah dan hanya Vanya yang berhak mengandung darah daging Livingston. Freya menerima semua hinaan itu. Dia bertahan dengan harapan palsu bahwa ketulusannya suatu hari akan mengetuk hati Jacob. Nyatanya? Bagi Jacob, harga diri Freya tak lebih dari sekadar objek taruhan satu miliar bersama teman-teman sosialitanya. "Baiklah, toh tidak ada ruginya untukmu, apalagi sekarang Vanya sudah bersamamu..." sahut suara lain di dalam ruangan, disambut tawa manja seorang wanita yang sangat Freya kenali. Vanya. Wanita masa lalu yang dulu membuat Jacob patah hati hingga mengajaknya menikah sebagai pelarian, kini telah kembali ke pelukan suaminya. "Tentu. Kalopun dia tanda tangan, aku tidak masalah kehilangan satu miliar uangku yang penting dia gak lagi keliat sama mataku," ucap Jacob dengan nada dingin yang begitu menusuk. "Dan yang paling penting adalah, ada Vanya penyelamat hidupku di sampingku. Bukan begitu, Sayang?" Matinya suara musik membuat kecupan basah milik Jacob di pipi terdengar, diiringi tawa terkekeh Vanya yang terdengar begitu puas dan mengejek di telinga Freya. "Kamu bisa aja, Jac. Vanya selama ini hanya penggantiku, dan aku sudah kembali, Jacob..." Di luar pintu, tubuh Freya bergetar hebat. Rasa sakit yang teramat sangat tidak hanya menyerang batinnya, tapi mendadak menjalar turun ke perut bagian bawahnya. Kram yang begitu menyiksa mencengkeram rahimnya secara tiba-tiba. Genggamannya pada kotak hadiah berisi dasi rajutan tangannya terlepas, jatuh tak bersuara ke atas karpet tebal lorong karaoke. Freya memegangi perutnya, merosot bertumpu pada dinding sebelah pintu. Pandangannya mengabur, rasa panas menjalar di selangkangannya bersamaan dengan cairan kental hangat yang mulai mengalir membasahi kaki. Jacob tidak tahu bahwa di dalam perut istrinya kini ada janin sebenarnya tengah berjuang untuk hidup. Sebuah mukjizat yang bertahan di tengah gempuran obat KB paksaan Jacob. Namun malam ini, tekanan batin yang luar biasa membuat pertahanan fisik Freya runtuh total. "Ah..." Freya melenguh lirih, pandangannya menggelap. Sebelum tubuhnya sepenuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kokoh dan hangat tiba-tiba menangkapnya. Aroma maskulin yang asing bercampur antiseptik tipis menyeruak. Pria misterius itu tidak bersuara, tidak juga mengajukan pertanyaan. Dengan gerakan cepat, ia langsung mengangkat tubuh kurus Freya ke dalam dekapannya, membawa wanita itu berlari menjauh dari pintu j*****m kamar VVIP sebelum Jacob sempat melangkah keluar. Dua jam kemudian, aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung Freya, memaksanya membuka mata. Langit-langit putih dan bunyi ritmis alat elektrokardiogram menyambutnya. Pria misterius yang menolongnya tadi sudah tidak ada di ruangan merah itu. Tapi, ketenangan ruangan itu tidak bertahan lama ketika seorang dokter masuk dengan gurat wajah penuh penyesalan. "Nyonya, Anda sudah sadar?" Dokter itu menghela nafas berat. "Saya harus menyampaikan kabar duka. Anda mengalami keguguran. Janin yang baru berusia enam minggu itu tidak bisa diselamatkan karena rahim Anda terlalu lemah, ditambah syok berat dan stres ekstrem yang Anda alami baru-baru ini." Dunia Freya runtuh seketika. Tangannya yang gemetar perlahan bergerak menyentuh perutnya yang kini terasa kosong melompong. Kosong. Dan dingin. "A-apa? Sa-saya kehilangan bayi saya, Dok?" Suaranya bergetar. "Dengan sangat menyesal kami tidak dapat menolong janin anda, semua sudah kami usahakan semaksimal mungkin. Suami anda sedang keluar sebentar, jadi anda silahkan istirahat dulu..." ucap sang dokter dan Freya tidak bisa membalas kalimat itu lagi Hanya air mata Freya menetes deras. Ternyata, rencana surprise malam ini, kotak yang berisi dua garis merah yang kini telah jatuh entah kemana itu sama seperti bayinya yang hilang. "Maafin mama, Nak. Kamu tidak bisa hidup di dunia karena ayahmu udah ngeracuni kamu selama ini...dan mama gak berhasil mempertahanin kamu..." bisik Freya, teringat akan kata-kata keji Jacob di ruangan karaoke. 'Dia semurahan itu memang...' Kalimat Jacob kembali terngiang, membakar habis sisa-sisa cinta yang ada di hati Freya. Rasa sakit mendambakan cinta itu perlahan mengeras menjadi sebongkah batu es yang dingin. Drrrtttt... Drrrtttt... Ponsel Freya di atas nakas bergetar. Nama "MyDestiny" berkedip-kedip. Freya menatap benda itu dengan tatapan kosong sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Freya! Kau di mana, hah?! Sialan!" Bentakan Jacob langsung menggelegar dari seberang telepon, penuh kemarahan. "Kau tahu jam berapa sekarang?! Teman-temanku dan Vanya sudah menunggumu dari tadi! Berani-beraninya kau membuatku kehilangan muka! Cepat datang ke kamar VVIP sekarang juga atau kau tahu sendiri akibatnya!" Sayangnya makian itu membuat air mata Freya justru berhenti. Dia tidak ingin orang membayar nyawa anaknya malam ini dengan makian, dan dia tidak mau menangis lagi. Wajahnya yang pucat pasi justru terlihat sangat tenang, meski dirinya di sini baru saja bertaruh nyawa. "Aku akan ke sana, Jacob," jawab Freya datar, kering, dan tanpa emosi sedikit pun. "Bagus! Jangan pakai lama!" Klik. Jacob memutuskan sambungan secara sepihak seperti biasa. Freya menahan senyum getir lalu mendongan ke atas. Dia menurunkan ponselnya, mencabut jarum infus di punggung tangannya sendiri tanpa berkedip, membiarkan setetes darah segar keluar dari sana. Dengan tubuh yang masih lemas dan sisa darah keguguran yang mengalir di sela pahanya, Freya turun dari ranjang. Dia mengumpulkan seluruh sisa kekuatan di tubuhnya. Dia akan kembali ke ruang karaoke itu. Bukan untuk bersujud atau mengemis cinta seperti sembilan puluh sembilan kali surat cerai yang di sodorkan suaminya sebelumnya. Malam ini, tekadnya akan menjemput lembar cerai ke seratusnya, dan memastikan bahwa Jacob Arthur Livingston akan membayar mahal untuk setiap tetes darah anaknya yang tumpah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
739.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
972.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
355.4K
bc

Not just, the Beta

read
346.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook