“Apa yang kamu lakukan disini, Dar? Tumben ke kantor Papa?”
Pikiran melayang Aruna kembali berpijak saat mereka kembali mengobrol.
Karena rasa penasarannya, gadis itu malah tinggal sebentar, alih-alih langsung meninggalkan tempat.
“Em…” Darrel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lelaki itu tampak canggung dengan senyum aneh.
“Papa kira, kamu udah berangkat ke kampus. Kamu udah nggak di rumah pas Papa turun tadi,” lanjut Sagara lagi, karena Darrel tidak cepat menjawab.
Deg.
Keyakinan Aruna atas dugaannya sendiri, menguat dengan sendirinya.
Jadi, selain Darrel memanggil Sagara dengan sebutan Papa, mereka juga tinggal satu rumah?
Berarti benar dong, Darrel anak Sagara? Benar-benar, luar biasa kejutan Aruna pagi ini.
“Hehehe…. Tadi, Darrel jemput Una dulu, Pa. Em, kenalin.” Tiba-tiba, Darrel menarik lengan Aruna. “Dia pacar Darrel, Pa. Cantik kan?”
Aruna langsung melotot karena keterkejutan itu. Merasa tidak punya kesempatan untuk protes, gadis itu terpaksa harus menghadapi atasannya yang selama ini sangat dia segani.
Sagara yang terkenal sebagai atasan perfeksionis itu, hampir tidak pernah tersenyum kepada karyawannya. Sikapnya serius, ekspresinya datar, tapi aura ketampanannya memancar sempurna.
Sialnya, semua karyawan wanita justru tergila-gila karena sikap lelaki itu. Lelaki yang membuat penasaran dengan segala aura dominasinya.
Menurut mereka, Sagara adalah kesempurnaan yang Tuhan ciptakan untuk menghibur mereka seperti para aktor drama China.
Bisa dilihat dan dikagumi, tapi tidak bisa dimiliki.
Parahnya lagi, lelaki dingin di depannya itu adalah Ayah kekasihnya sendiri. Dan yang paling gila dari semuanya, pria itu adalah pria yang muncul di mimpi erotisnya tadi pagi.
“Em, Na. Kenalin juga. Ini Papaku.”
Suara Darrel mengembalikan pikiran Aruna yang berkelana.
“Se—selamat pagi, Pak.” Karena tak tahu harus bersikap bagaimana, Aruna memilih menyapa dan membungkuk sekali lagi.
Tak ada jawaban dari lelaki itu, selain hanya tatapan dingin selama dua detik saja. Setelahnya, Sagara kembali kepada Darrel.
“Ya sudah, berangkat sana! Jangan sampai kamu mangkir kuliah karena melakukan hal nggak penting seperti ini.”
Deg.
Jantung Aruna kembali berdetak kencang karena perkataan Sagara. Gadis itu langsung diingatkan ada dimana posisinya.
Baru begini saja, Aruna sudah paham kalau Ayah kekasihnya itu tidak menyukainya.
“Ya. Aku berangkat dulu, Pa.”
Darrel mencium punggung tangan Sagara. Kemudian, dia menatap Aruna dengan senyum manis.
“Aku pergi dulu ya, Na. Sana masuk! Kerja yang bener biar cepet bisa lanjut kuliah.” lelaki itu menyempatkan diri mengusap puncak kepala Aruna.
Aruna tersenyum tipis, cenderung aneh. Dia melirik Sagara, berusaha memastikan apa reaksinya. Dan ternyata, lelaki itu masih dingin seperti biasanya.
Saat Darrel sudah menjauh, Aruna siap jika Sagara akan mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Tapi nyatanya, Aruna salah. Sagara justru pergi begitu saja, tanpa peduli dirinya yang sedang menunduk tak jauh dari posisinya.
Mungkin, bagi Sagara Aruna adalah makhluk tak kasat mata yang tidak pantas dianggap keberadaannya.
Setelah Sagara pergi, Aruna meluruhkan bahunya pasrah. Antara memasrahkan nasibnya di perusahaan itu setelah ini, juga memasrahkan hubungannya dengan Darrel setelah Sagara tahu.
Aruna berjalan gontai ke kantor divisinya. Pikirannya masih berlarian pada kenyataan yang baru saja dia dapatkan.
Antara percaya dan tidak percaya, jujur saja, Aruna masih meragukan kalau Darrel benar-benar anak kandung Sagara.
Pasalnya, kalau dilihat-lihat, rasanya tidak mungkin Sagara sudah punya anak sebesar Darrel. Apalagi dengan fisik Sagara yang seperti itu, kalaupun dia sudah memiliki keturunan, menurut Aruna Sagara lebih cocok memiliki anak usia lima atau enam tahun.
Bukan 19 tahun seperti kekasihnya saat ini.
Tapi, kalau dikaitkan lagi, hubungan mereka ada benarnya juga. Bukankah Darrel mudah sekali memasukkannya ke Bhimantara Group?
Jangan-jangan, bukan karena Omnya Darrel yang di HRD yang membuat Aruna diterima disana dengan mudah. Melainkan karena Darrel sendiri yang punya kuasa sebagai anak pemilik perusahaan.
“Woy!”
Aruna terlonjak karena tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan keras.
“Mbak Monik…. Ngagetin aja sih?” rengek Aruna setengah kesal. Gadis itu benar-benar sedang tidak berminat untuk bercanda.
“Ngapain lo ngalamun aja? Duit lo diambil Bapak tiri lo lagi?” tebak gadis yang usianya lebih tua lima tahun darinya itu.
“Enggak….” malas Aruna.
Dia meletakkan kotak bubur yang Darrel belikan tadi di atas meja dengan sangat tidak minat. Kemudian, dia mendudukkan tubuh di kursinya dengan lemas.
Rasanya, pertemuan Sagara dengan Darrel tadi, membuat selera makannya hilang begitu saja. Jangankan soal selera makan, semangat hidupnya saja meredup begitu saja.
“Terus, kenapa muka lo ditekuk? Cowok lo ketahuan selingkuh?” Penasaran, Monik ikut duduk di samping Aruna, di kursinya sendiri.
Diingatkan lagi tentang sosok Darrel, rasa cemas Aruna bertambah lagi. Gadis itu hanya bisa menghela nafas berat.
“Lebih parah dari itu, Mbak,” curhat Aruna.
Monik yang memang sangat tertarik dengan masalah orang lain, semakin penasaran.
“Ada apa? Ada apa? Cerita dong!” Pertanyaannya tidak cukup sekali.
Tapi, alih-alih menjawab, Aruna justru menjatuhkan keningnya di atas meja, dalam keadaan telungkup.
Tentu saja, Monik keheranan.
“Lo kenapa sih, Na? Ada masalah berat?” sikap Monik melunak. Bersimpati kepada teman kecilnya itu.
Aruna mengangkat kepalanya dengan dramatis. Kemudian, dia menatap Monik dengan tatapan yang sulit diartikan tapi cukup membuat Monik semakin cemas.
“Tadi, aku diantar kerja sama Darrel, Mbak.” Aruna memulai ceritanya dengan wajah pias.
“Terus? Darrel mutusin kamu, gitu? Mentang-mentang dia kaya?” Sedikit banyak, Monik paham tentang Darrel dari cerita Aruna.
Aruna menggelengkan kepalanya, dengan tidak bersemangat.
“Mbak tahu nggak?”
Aruna sengaja menjeda ucapannya, membuat Monik semakin tidak sabar.
“Tahu apa? Lo aja belum lanjutin cerita lo, Una.”
Aruna menunduk sebentar. Dia ragu antara harus melanjutkan ceritanya atau tidak. Tapi, kalau dia tidak cerita, dia bingung harus mencari solusi dari mana.
“Tadi, aku sama Darrel ketemu Pak Gara di depan lobby.” Pada akhirnya, Aruna melanjutkan ceritanya.
“Oke… terus kenapa? Pak Gara negur lo? Lo melakukan kesalahan?”
Tiba-tiba Aruna menutup wajahnya, kemudian melanjutkan dengan menyugar rambutnya frustasi.
Bukan, bukan karena Monik terus menyelanya. Tapi, karena hanya dengan mendengar nama Sagara saja, sudah membuatnya semakin tertekan.
“Lo kenapa sih sebenarnya, Na?” Monik benar-benar tidak bisa menunggu.
Aruna menatap sekelilingnya dulu, sebelum benar-benar menjawab Monik. Setelah yakin tidak ada yang mendengar mereka, Aruna kembali menatap Monik dengan lebih intens.
“Mbak harus janji dulu nggak akan bilang ini ke siapa-siapa. Meskipun Mbak Monik tukang gosip, tapi simpen rahasia ini buat Mbak Monik aja."
Monik langsung melakukan gerakan menutup mulutnya. Menunjukkan ekspresi meyakinkan kalau dia tidak akan menceritakan apa yang Aruna katakan.
“Ekhem.” Aruna berdehem kecil sebelum memulai. “Masa, aku tadi ketemu Pak Gara di depan lobby. Beliau baru turun dari mobilnya, langsung nyamperin aku sama Darrel.” Aruna menjeda ucapannya lagi.
Monik mengangguk-angguk tak sabar, tapi kali ini, Monik tidak menyela.
“Mbak tahu nggak apa yang Darrel bilang?” lanjut Aruna lagi.
“Mana gue tahu, Una. Buruan ih! Jangan bikin gue penasaran,” sewot gadis itu, mulai tak tahan juga.
Aruna menarik napasnya dalam-dalam.
“Masa... Darrel panggil Pak Gara dengan sebutan Papa.”
“Apa?!”
Sontak saja, Aruna membekap mulut Monik karena teriakannya membuat semua orang menoleh ke mereka.
Beruntung, tak terjadi apa-apa lagi setelah itu. Mereka memulai pekerjaan sebagai tukang input data dengan serius karena memang sudah waktunya.
Meskipun, pikiran Aruna sedang tidak ada di tempatnya, tapi untungnya dia masih bisa mengerjakan tugasnya dengan baik.
“Makan yuk!” ajak Monik begitu jam istirahat makan siang tiba.
Tapi, Aruna justru malas-malasan membereskan pekerjaannya.
“Mbak Monik aja. Aku males.” Aruna langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja—berbantal lengannya sendiri, setelah menutup komputernya.
Monik menghela napas, kemudian merangkul bahu Aruna.
“Udahlah, Na. Nggak usah dipikirin. Kalau emang Pak Gara nggak restuin kalian, ya udah putus aja. Cari cowok lain lagi.”
Sayangnya, baru sedetik mulutnya selesai berbicara, Monik segera meralat ucapannya sendiri.
“Eh, tapi sayang juga ya. Udah ganteng, tajir lagi. Mana ternyata anak pemilik Bhimantara Group lagi.”
Bukannya merasa tenang, Aruna malah semakin gelisah.
Sebenarnya, ini bukan perkara dia harus putus dari Darrel atau tidak. Untuk ukuran anak muda seperti mereka, putus nyambung dalam pacaran itu sudah biasa.
Tapi, sikap Sagara tadi yang justru cukup mempengaruhi suasana hati gadis itu. Entahlah, dibandingkan dengan kehilangan Darrel, Aruna lebih takut dipecat dari pekerjaannya.
“Ya udah, ke kita ke kantin aja, Mbak.” Pada akhirnya, Aruna memilih mengalah dibandingkan membahas Darrel dan Sagara lebih banyak lagi.
Kedua gadis itu lantas berjalan santai menuju kantin perusahaan karena mereka mendapatkan fasilitas makan siang dengan kualitas sangat baik.
“Eh, Na. Lihat! Ada yang ngirim foto Pak Gara lagi. Mereka dapet kayak gini dari mana sih sebenarnya? Duh, mana keren banget lagi camer lo.”
Aruna memutar bola matanya malas. Baginya, Monik terlihat seperti gadis bodoh yang sedang tergila-gila pada foto Sagara di ponselnya. Dan memang, Monik adalah salah satu penggemar garis keras Sagara di perusahaan itu.
“Serius lo nggak mau lihat, Na? Ini keren banget loh. Celana yang dipakai Pak Gara lebih pendek dari kemarin.”
“Enggak, Mbak.” Aruna menjawab malas.
Dia bahkan tidak berminat mengintip barang sebentar saja apa yang Monik pamerkan.
“Tapi, lo pasti nyesel kalau nggak lihat ini, Na. Nggak apa-apa kok lihat badan camer sendiri. Kalau nggak jadi sama anaknya, lo bisa tetap mengagumi Papanya.”
Aruna mendengus saja. Dia benar-benar kesal menanggapi Monik. Sayangnya, sebelum dia mempercepat langkahnya sendiri hendak meninggalkan sang sahabat, Monik sudah menahannya dan menunjukkan foto yang dia maksud.
“Nah, lihat! Keren banget kan Pak Gara? Bayangin deh, Na, kalau lo ada di bawahnya. Pasti merem melek banget.”
Hidung Aruna kembang kempis karena ucapan Monik. Selain dia menyesal karena sudah menatap foto yang tidak seharusnya dia lihat, Aruna justru mendadak diingatkan pada mimpinya tadi pagi.
Mimpi yang sangat memalukan, tapi juga sangat terasa nyata.
“Na, menurut lo, ini udah bangun apa masih tidur?”
Belum selesai rasa kesal Aruna, Monik sudah bertanya lagi.
“Menonjol banget tau, Na. Kayaknya ukurannya di atas rata-rata.”
Aruna benar-benar tidak tahan dengan Monik yang selalu mempengaruhinya hal-hal tabu seperti itu. Tapi, belum Aruna menyemprot gadis itu, sebuah suara bariton, menginterupsi mereka secara paksa.
“Apanya yang menonjol?”
Kedua gadis itu, menoleh ke belakang secara spontan. Dan detik itu juga, Aruna merasa hidupnya akan benar-benar selesai.
‘Mati aku? Pak Gara denger omongan Mbak Monik nggak ya?’