Bab 1 - Malam Pertama Yang Dingin
"Nggak usah dibuka. Aku nggak berminat."
Tangan Senandika yang sudah menyentuh simpul tali cadarnya seketika membeku.
Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.
Ia terdiam, mematung dengan jari-jari yang mulai gemetar hebat.
Di depan meja rias, Baskara melepas jam tangan peraknya dengan gerakan kasar. Ia bahkan tidak sudi melirik sedikit pun melalui cermin pada perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya.
"Tapi Mas ... ini malam pertama kita," suara Sena pecah, nyaris tak terdengar.
Baskara tertawa sinis, sebuah tawa pendek yang menusuk ulu hati.
"Malam pertama kamu bilang?"
Pria itu berbalik, menatap Sena dengan tatapan jijik.
"Dengar, Sena. Kamu ada di sini cuma karena orang tuaku memaksa. Bagiku, kamu itu cuma orang asing yang kebetulan masuk ke rumah ini sebagai pengganti."
Sena membeku, kata-kata itu bukan hanya dingin, tapi amat menusuk.
"Jadi jangan harap aku mau menyentuhmu, apalagi melihat apa yang kamu sembunyikan di balik kain itu."
Sena merasakan dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di kamar pengantin yang harum melati itu mendadak hilang.
Ia meremas kain bajunya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang sudah mendesak di pangkal tenggorokan.
"Mas ... aku ini istrimu. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untuk pernikahan ini," bisik Sena parau.
"Itu urusanmu, bukan urusanku," sahut Baskara dingin.
Ia melangkah mendekat, namun hanya untuk menyambar ponselnya yang tergeletak di dekat kaki Sena.
"Jangan pernah berharap aku bakal berbagi tempat tidur sama kamu. Tidur di sofa, atau lantai kalau perlu. Aku nggak mau bangun pagi dengan melihat wajah orang yang nggak aku inginkan."
Baskara kemudian mematikan lampu utama dengan kasar, meninggalkan kamar dalam keremangan lampu tidur yang menyedihkan.
Ia merebahkan diri di ranjang luas itu, memunggungi Sena tanpa beban sedikit pun.
Sena berdiri sendirian di kegelapan.
Air matanya akhirnya luruh, membasahi kain cadar yang masih terikat di wajahnya.
Dengan langkah gontai dan bahu yang merosot, ia mengambil bantal dan selimutnya sendiri.
Ia tidak membantah.
Tubuhnya terasa lemas seolah tulang-tulangnya baru saja dipatahkan oleh kata-kata suaminya sendiri.
Sena berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, meringkuk di sana dengan napas yang tertahan agar isak tangisnya tidak terdengar.
"Besok bangun lebih awal. Jangan muncul di depan mataku saat aku membuka mata," suara Baskara kembali terdengar, datar dan penuh penolakan.
Sena hanya bisa memejamkan mata erat-alih-alih menjawab.
Setiap kata yang keluar dari mulut Baskara terasa seperti sembilu yang menyayat kulitnya pelan-pelan.
Di malam yang seharusnya menjadi momen terindah dalam hidupnya, Sena justru merasa menjadi wanita paling hina dan tak berarti di dunia ini.
**
Sena tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. mendengarkan deru napas Baskara yang teratur di atas ranjang empuk.
Kamar hotel itu begitu dingin, tapi hatinya jauh lebih beku.
Bayangan cengkeraman tangan Baskara dan bisikan ancamannya terus berputar di kepala, membuatnya merasa seperti benalu dalam hidup suaminya sendiri.
Ketika fajar menyingsing, Sena sudah lebih dulu selesai dengan salatnya di sudut ruangan yang sempit.
Ia duduk mematung di kursi dekat jendela, menatap matahari terbit dengan mata sembab yang terasa perih.
"Kenapa belum siap-siap?"
Suara berat Baskara memecah kesunyian. Pria itu baru saja bangun, duduk di tepi ranjang dengan rambut berantakan, namun tatapannya langsung menajam saat melihat Sena masih mengenakan mukenanya, dan tak lupa cadarnya.
"A-Aku pakai ini karna Mas bilang nggak mau melihat wajah—" ucap Sena sambil menyentuh cadarnya, tapi kata-katanya langsung diputus oleh Baskara, seolah tak ingin mendengarnya.
"Aku nggak peduli. Segera bersiap, aku tak suka menunggu."
"Aku ... aku sudah siap, Mas. Aku hanya menunggu Mas bangun," bisik Sena pelan.
"Jangan lambat. Sepuluh menit lagi kita turun ke restoran. Ibu mau kita foto sarapan berdua buat dikirim ke grup keluarga," ketus Baskara bangkit, berjalan menuju kamar mandi tanpa memedulikan air mata dibalik cadar istrinya.
"Pakai baju yang pantas. Walaupun aku nggak tau apa baju yang pantas cukup menutupi kemunafikanmu."
Sena menghembuskan napas, menahan segala hinaan suaminya. Dengan tangan gemetar, ia merapikan pakaiannya dan memastikan cadarnya terpasang sempurna untuk menyembunyikan wajahnya yang hancur karena tangis.
Di dalam lift menuju restoran, suasana terasa begitu menyesakkan. Hanya ada mereka berdua, namun jarak yang tercipta terasa ribuan kilometer.
Baskara berdiri di depan, sibuk dengan ponselnya, sementara Sena berdiri di pojok belakang, menunduk menatap ujung sepatunya.
Begitu sampai di restoran hotel yang ramai, Baskara langsung memilih meja di sudut yang agak tersembunyi. Ia menarik kursi dengan kasar, lalu duduk tanpa menunggu Sena.
"Duduk," perintahnya pendek.
Sena duduk perlahan di hadapan suaminya. Aroma kopi dan roti yang menggugah selera sama sekali tidak membangkitkan nafsunya.
Ia merasa semua mata di restoran itu sedang menatapnya, menghakiminya sebagai wanita aneh yang duduk di depan pria tampan yang bahkan tidak sudi melihatnya.
"Pesan apa saja yang cepat. Aku nggak punya waktu lama buat sandiwara ini," Baskara bicara sambil terus menatap layar ponsel, sama sekali tidak memberi menu pada Sena.
"Aku ... aku terserah Mas saja," jawab Sena lirih.
Baskara mendongak, matanya menatap Sena dengan kilat ketidaksabaran.
"Terserah? Kamu pikir aku tahu selera makan orang asing sepertimu? Jangan buat aku kesal di pagi hari, Sena. Cepat pilih."
Sena meraih buku menu dengan tangan yang disembunyikan di bawah meja.
Ia merasa sangat kecil, seolah-olah bernapas di depan Baskara pun adalah sebuah kesalahan besar.
Sena meraih buku menu dengan jari-jari yang masih terasa kaku. Ia bahkan tidak bisa fokus membaca deretan tulisan di sana karena pandangannya buram oleh sisa air mata yang tertahan.
"Lama sekali. Sudahlah," Baskara mendengus, lalu memanggil pelayan dengan lambaian tangan yang angkuh.
Ia memesan dua porsi menu sarapan tanpa sekali pun bertanya apakah Sena bisa memakannya atau tidak.
Setelah pelayan pergi, keheningan yang menyiksa kembali menyelimuti meja mereka. Baskara sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Sena hanya bisa menunduk, meremas jemarinya di bawah meja.
Tiba-tiba, ponsel Baskara yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama ibunya.
Raut wajah Baskara seketika berubah. Amarah yang tadinya meluap-luap kini berganti dengan ketegangan yang tertata.
Ia menyambar ponsel itu, namun sebelum menggeser tombol hijau, ia memajukan tubuhnya ke arah meja.
Mata Baskara menatap Sena dengan kilat yang sangat mengancam. Suaranya berubah menjadi bisikan tajam yang hanya bisa didengar oleh Sena.
"Ibu telepon. Ingat pesan aku semalam," desisnya sambil memberikan tatapan yang seolah siap menguliti Sena hidup-hidup.
Sena tersentak, bahunya gemetar pelan saat Baskara mencengkeram pinggiran meja dengan kuat.
"Kalau sampai aku dengar suara isakan atau kata-kata yang memancing kecurigaan, kamu tahu apa konsekuensinya saat kita kembali ke kamar nanti. Jangan hancurkan mood Ibu hanya karena perasaan cengengmu itu."
Ponsel itu masih terus berdering, memecah ketegangan di antara mereka.
Baskara menarik napas panjang, mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang secara instan, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Bu?" ucap Baskara dengan nada suara yang mendadak lembut dan penuh perhatian, sangat kontras dengan tatapan matanya yang masih menghunus tajam ke arah Sena.
Sena hanya bisa mematung, menahan napasnya dalam-dalam.
Ia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak saat Baskara kemudian mengarahkan ponselnya ke arahnya.
"Sena juga ada di sini, Bu. Mau bicara?"
Baskara menyodorkan ponsel itu ke depan wajah Sena. Matanya seolah memberi aba-aba agar Sena mulai bersandiwara dalam kebohongan yang paling menyakitkan ini.
"Halo, Bu," ucap Sena agak gemetar.
"Sena, apa Baskara bersikap buruk padamu, Nak? Kenapa suaramu gemetar?" sahut Ibu dari sambungan telepon.