Bab 3: Tatapan Sang CEO

1156 Words
Kantor terlihat sama seperti biasanya, berdenyut dengan ritme kesibukan. Deretan kubikel yang rapi berjajar, membentuk labirin kecil di lantai itu. Suara keyboard mengetik tak henti, menciptakan simfoni monoton yang mengisi ruang. Aroma kopi yang menguar dari pantry, bercampur dengan bau kertas dan tinta, adalah hal yang familiar. Tapi bagi Amelia, semua itu terasa asing, dingin, dan jauh, seolah ia terpisah oleh dinding kaca tak kasat mata. Ia melangkah melewati meja-meja kerja, berusaha menyembunyikan mata sembabnya di balik kacamata berlensa tebal dan senyum tipis yang terasa palsu, berat, dan sulit dipertahankan. Setiap langkah terasa menyeret. Kelelahan bukan hanya menjalar di fisiknya, membuat pundaknya terasa berat dan kelopak matanya perih, tapi juga menggerogoti jiwanya, meninggalkan rasa hampa yang menusuk. Semalaman ia tak bisa tidur, hanya berbaring menatap langit-langit kamar. Angka miliaran itu terus berputar-putar di benaknya, menghimpit napasnya, seperti tangan raksasa yang mencekik. "Amel, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," suara Vina, rekan kerjanya yang ramah dan selalu perhatian, memecah lamunannya. Vina berdiri di samping mejanya, memegang secangkir teh hangat yang mengepul, aroma melatinya sedikit menenangkan. "Semalam lembur lagi? Jangan terlalu dipaksakan, Amel. Nanti sakit, lho. Kamu butuh istirahat." Amelia menggeleng pelan, menghindari tatapan khawatir Vina. "Tidak apa-apa, Vina. Hanya kurang tidur sedikit. Mungkin karena perubahan cuaca di Semarang." Ia memaksakan senyum yang lebih lebar, berharap Vina tak lagi bertanya. "Banyak proyek yang harus kuselesaikan minggu ini." Vina mengerutkan kening, tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban Amelia. Matanya menyiratkan kecurigaan, seolah bisa membaca kebohongannya. "Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang, ya, Amel. Aku siap bantu kok." Amelia hanya mengangguk, hatinya terasa semakin berat dan tertekan. Ia tak mungkin menceritakan beban yang sebenarnya pada Vina. Itu terlalu pribadi, terlalu memalukan, dan terlalu berat untuk dibagi. Bagaimana Vina bisa membantu dengan masalah miliaran rupiah? Beberapa jam berlalu dengan lambat, setiap menit terasa seperti jam. Amelia tenggelam dalam pekerjaannya, berusaha mengalihkan pikiran dari Bima dan tagihan rumah sakit yang terus membayangi. Jemarinya menari di atas keyboard, namun pikirannya melayang jauh. Setiap kali ponselnya bergetar di saku blusnya, jantungnya mencelos, detak jantungnya melonjak, takut itu adalah kabar buruk dari rumah sakit, sebuah telepon yang mengakhiri segalanya. Ia harus tetap kuat, ia harus bekerja, ia harus mencari jalan keluar, apapun risikonya. Tiba-tiba, sebuah suara yang familiar, namun jarang sekali berinteraksi langsung dengannya, memanggil dari ambang pintu kubikelnya. Suara itu dalam, penuh otoritas, dan membuat semua orang di sekitarnya terdiam sejenak. "Amelia, bisa ke ruangan saya sebentar?" Itu Ardi. CEO muda perusahaan itu. Usianya mungkin akhir dua puluhan, namun auranya sangat dominan, memancarkan kekuasaan dan kecerdasan yang tajam. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas yang mencerminkan ketegasan karakternya, dan mata tajam yang selalu tampak menghitung, menimbang, seolah bisa membaca pikiran orang lain. Ia selalu tampil rapi dengan setelan jas mahal, karismatik di depan klien, dan dikenal sebagai sosok yang sangat ambisius, yang mampu mencapai apa pun yang ia inginkan. Amelia merasakan getaran aneh, campuran rasa hormat yang mendalam dan sedikit gentar, setiap kali Ardi berada di dekatnya. Amelia mengangguk kaku, seolah lehernya tiba-tiba membeku. "Baik, Pak." Ia segera berdiri, merapikan blus kerjanya yang sedikit kusut, tangannya gemetar halus. Ia melirik sekilas ke arah Vina yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya, ada kekhawatiran di matanya. Vina mengangkat alis, seolah bertanya 'Ada apa?'. Amelia hanya bisa menggelengkan kepala samar. Ardi sudah berbalik dan melangkah pergi, tanpa menunggu jawaban penuh, menunjukkan dominasinya. Gerakannya tenang dan efisien. Amelia mengikutinya menyusuri koridor yang elegan menuju ruangan Ardi di ujung lantai, sebuah ruangan yang terasa begitu jauh dan intimidatif. Lantai marmer dingin terasa di telapak kakinya yang tertutup sepatu. Santi, sekretaris pribadi Ardi yang selalu tampak sibuk dan efisien, sedang sibuk di mejanya di depan ruangan, mengetik dengan kecepatan luar biasa. Ia melirik Amelia sekilas, tatapannya datar, lalu kembali fokus pada komputernya, seolah kejadian ini adalah rutinitas biasa. Ardi membuka pintu ruangannya yang besar, dari kayu mahoni gelap, dengan gerakan halus. Amelia masuk, jantungnya berdebar kencang di dalam dadanya. Ruangan itu didominasi oleh perabotan minimalis modern, dengan sentuhan seni kontemporer. Dinding kaca raksasa menghadap ke pemandangan kota Semarang yang terhampar luas, gedung-gedung pencakar langit, dan lalu lintas yang ramai di bawah sana. Sebuah meja kerja besar dari kayu gelap, mengkilap dan bersih, mendominasi tengah ruangan. Ardi duduk di kursinya, gesturnya tenang dan terkontrol, seolah ia adalah raja di singgasananya. "Silakan duduk, Amelia," ucap Ardi, suaranya tenang namun ada nada yang sulit diartikan di sana, sebuah nada yang membuat Amelia merasa gelisah. Amelia duduk di kursi tamu berwarna abu-abu di hadapan meja Ardi. Dadanya berdebar lebih kencang, suaranya menguasai seluruh indranya. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, bertanya-tanya ada urusan pekerjaan apa sampai Ardi memanggilnya secara langsung, bukan melalui manajernya. Ini adalah pertama kalinya ia berinteraksi langsung dengan CEO sejak ia bergabung dua tahun lalu. "Saya dengar ada masalah keluarga yang sedang kamu hadapi?" Ardi memulai, tanpa basa-basi, langsung menusuk ke inti permasalahan. Matanya menatap tajam, menembus pertahanan Amelia, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam jiwanya yang rapuh. Tatapannya itu tidak hanya tajam, tapi juga mengamati, menimbang, seolah ia adalah subjek penelitian. Amelia terkesiap, terkejut dengan pertanyaan langsung itu. Ia tidak menyangka Ardi akan langsung menanyakan hal itu, apalagi mengetahui detailnya. "Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud Bapak," ia mencoba mengelak, berusaha terlihat tenang, meskipun dalam hati ia merasa sangat tidak nyaman. Wajahnya terasa panas. Ardi tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum itu tidak mencerminkan kehangatan, melainkan perhitungan. "Jangan pura-pura, Amelia. Informasi di kantor ini mengalir lebih cepat dari yang kamu kira. Apalagi jika menyangkut karyawan yang memiliki performa seperti kamu." Ia jeda sebentar. "Suamimu, Bima, kan? Saya turut prihatin mendengarnya. Penyakit yang serius, bukan? Saya dengar dari sumber yang cukup kredibel." Darah Amelia berdesir dingin. Bagaimana Ardi bisa tahu? Ia berusaha sebisa mungkin merahasiakan kondisi Bima dari rekan kerja, apalagi dari CEO yang begitu berjarak. Perasaan terintimidasi merayapi dirinya, seperti bayangan yang semakin memanjang. Tatapan Ardi seolah menelanjanginya, melihat segala keputusasaan dan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng profesionalisme. "Saya... saya akan tetap fokus pada pekerjaan, Pak," Amelia berusaha mengalihkan pembicaraan, suaranya sedikit bergetar, meskipun ia mencoba menguatkannya. Ia menggenggam erat jemarinya di bawah meja. Ardi menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam, mengamati Amelia dengan tatapan penuh penilaian, seperti pemangsa yang sedang mengamati mangsanya. "Saya tidak meragukan profesionalismemu, Amelia. Justru sebaliknya. Kamu salah satu aset terbaik di departemenmu." Pujian itu terdengar aneh di telinga Amelia. "Tapi saya percaya, karyawan yang pikirannya tidak tenang tidak akan bisa memberikan performa terbaik. Produktivitas bisa menurun drastis. Saya peduli pada karyawan saya. Apalagi jika itu menyangkut masalah sebesar ini, masalah hidup dan mati." Ada sesuatu dalam nada suara Ardi, sesuatu yang licin dan mencurigakan, yang membuat bulu kuduk Amelia merinding. Itu bukan sekadar perhatian seorang atasan yang tulus. Ada niat lain di balik tatapan tajam dan kata-kata lembutnya yang terdengar terlalu manis. Ardi sedang mengamati, mencari celah, seperti predator yang sabar menunggu momen yang tepat untuk menyerang. Amelia merasakan jantungnya berdebar kencang, firasat buruk menyelimuti dirinya, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tahu, percakapan ini tidak akan berakhir hanya dengan simpati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD