Telepon berdering nyaring. Suaranya memecah keheningan apartemen Amelia yang sunyi. Dentingnya memantul di dinding kamar yang kosong. Menggema seperti lonceng kematian.
Jemarinya gemetar hebat. Ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Tangannya dingin. Layar menunjukkan nomor Rumah Sakit Bhakti Husada.
Jantungnya mencelos. Terasa jatuh ke dasar perutnya. Pasti Dr. Surya. Atau salah satu perawat ICU. Firasat buruk menyelimutinya.
"Halo?" suara Amelia serak. Nyaris tak bersuara. Hanya bisikan. Tenggorokannya kering. Setiap kata terasa sulit diucapkan.
"Ibu Amelia? Ini Suster Rina dari ICU," suara di seberang sana tegang. Penuh urgensi. Nadanya cepat. Panik.
"Kondisi Bapak Bima memburuk drastis, Bu. Sangat cepat. Tekanan darahnya turun sangat rendah. Hampir tidak terdeteksi."
"Jantungnya menunjukkan tanda-tanda gagal fungsi lebih parah," lanjut Suster Rina. "Dr. Surya meminta Ibu segera datang ke rumah sakit. Sekarang juga."
"Kami harus melakukan tindakan darurat secepatnya. Jika tidak, kami tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan."
Tindakan darurat. Kata-kata itu bergaung di telinga Amelia. Memekakkan. Seperti ribuan lebah menyerbu otaknya.
Panggilan itu bagai palu godam raksasa. Menghantam kepalanya berkali-kali. Menghancurkan sisa-sisa harapannya.
Ia menjatuhkan ponselnya ke kasur. Benda itu memantul pelan. Tangan-tangannya gemetar hebat. Tak mampu menahannya lagi.
Udara di separuh paru-parunya lenyap seketika. Menyisakan sesak tak tertahankan. Membuatnya sulit bernapas. Tercekik oleh kepanikan.
Ini tak boleh terjadi. Tidak sekarang. Tidak setelah semua perjuangannya. Ia tak siap kehilangan Bima.
Tanpa berpikir panjang, ia menyambar kunci mobil di nakas. Cincinnya dingin di jemarinya. Ia tak sempat mengganti piyama tidur bermotif bunga.
Rambutnya acak-acakan. Wajahnya sembab dan pucat. Namun ia tak peduli sedikit pun.
Sepanjang perjalanan singkat menuju rumah sakit. Di tengah hiruk pikuk kota Semarang. Ia mengemudi seperti orang gila.
Pedal gas ia injak dalam-dalam. Menerobos lampu kuning yang menyala. Bahkan sedikit melanggar lampu merah.
Klakson mobil lain meraung di belakangnya. Tak ia hiraukan sama sekali. Fokusnya hanya pada Bima.
Air mata mengalir deras. Membanjiri pipinya. Membasahi kerudung instan yang ia kenakan terburu-buru. Pandangannya kabur. Buram oleh genangan air mata dan kecepatan mobil.
Namun ia terus maju. Fokus pada satu tujuan: Bima. Bima tak boleh meninggalkannya. Tak akan pernah. Kehilangan Bima adalah akhir segalanya baginya.
Sesampainya di rumah sakit, ia berlari sekuat tenaga ke ruang ICU. Paru-parunya terasa terbakar. Koridor-koridor yang biasanya tenang. Kini terasa memanjang. Tak berujung. Seperti labirin tanpa cahaya.
Melalui jendela kaca transparan di pintu ICU, ia melihat pemandangan mengerikan. Dr. Surya dan beberapa perawat. Termasuk Suster Rina. Terlihat panik di dalam.
Mereka dikelilingi monitor yang berbunyi nyaring. Menampilkan angka-angka dan grafik yang mengkhawatirkan. Menunjukkan kondisi Bima yang sangat kritis.
Wajah Bima lebih pucat dari sebelumnya. Nyaris seperti kertas putih. Bibirnya membiru. Tak ada lagi rona merah muda kehidupan.
Alat bantu napas terpasang di mulutnya. Selang-selang transparan terlihat di hidung dan tenggorokannya. Berbagai selang infus memenuhi lengannya yang kurus. Menyalurkan cairan dan obat-obatan. Yang menjaga detak jantungnya. Tubuhnya terbaring kaku. Tak bergerak.
"Dokter! Bagaimana Bima?!" Amelia berteriak. Suaranya bergetar hebat. Nyaris pecah menjadi isakan. Ia berusaha menahan tangis yang mendesak. Mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Dr. Surya menoleh. Wajahnya tegang. Penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Keringat membasahi pelipisnya. Ia mengusapnya dengan punggung tangan.
"Bu Amelia, kami perlu melakukan operasi darurat secepatnya," kata Dr. Surya. "Untuk memasang alat bantu jantung sementara. Ini kritis. Jantungnya hampir menyerah total."
"Tidak bisa lagi memompa darah dengan efektif," lanjutnya. "Kita butuh persetujuan cepat dan... biayanya harus segera disiapkan. Sekarang juga. Tidak ada waktu untuk menunggu."
Biaya. Kata itu lagi. Miliaran. Sebuah angka yang mencekik. Kepala Amelia berdenyut kencang. Seperti palu yang memukulnya berulang kali. Membuat otaknya mati rasa.
Seketika, ia teringat tawaran Ardi. Tawaran keji yang tadi malam ia tolak mentah-mentah. Dengan amarah dan rasa jijik yang meluap.
Tawaran yang kini terasa seperti satu-satunya jalan. Satu-satunya benang tipis yang bisa menyelamatkan Bima.
"Tapi... tapi saya belum ada uangnya, Dokter!" Amelia tak sanggup melanjutkan. Lidahnya kelu. Tercekat oleh keputusasaan yang melumpuhkan. Tenggorokannya terasa tersumbat.
Bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Dalam hitungan menit? Atau bahkan jam? Ini adalah jumlah yang tak terjangkau baginya.
Dr. Surya menatapnya prihatin. Tatapannya penuh belas kasihan. Namun juga urgensi yang tak terbantahkan. Matanya memohon Amelia segera mengambil keputusan.
"Bu Amelia, kami tidak punya banyak waktu," ucap Dr. Surya. "Operasi ini harus segera dilakukan. Setiap detik berharga bagi Bapak Bima."
"Jika tidak, jantung Bima mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi," tambahnya. "Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi kami butuh dukungan Anda sekarang."
Ia menunjuk monitor. Menampilkan garis-garis datar yang mengkhawatirkan. Dengan sesekali lonjakan lemah. Tanda perjuangan terakhir dari organ yang sekarat itu.
Amelia melihat suaminya. Satu-satunya cinta dalam hidupnya. Tubuhnya lemah tak berdaya. Di atas ranjang rumah sakit yang dingin dan steril.
Napasnya terengah-engah melawan alat bantu. Wajah Bima, yang dulu selalu tersenyum padanya. Wajah yang selalu ia rindukan. Kini adalah cerminan kematian yang mengintai. Sebuah topeng pucat nyaris tanpa kehidupan.
Cinta yang mendalam. Rasa takut kehilangan satu-satunya orang yang ia cintai di dunia ini. Semua harga diri yang ia miliki. Semua prinsip yang ia pegang teguh. Semua moral dan etika yang ia junjung tinggi.
Semuanya terasa tidak berarti. Jika dibandingkan dengan nyawa satu-satunya orang yang ia cintai.
Ia teringat jelas kata-kata kejam Ardi. Kata-kata yang menusuk sampai ke tulang: "Nyawa suamumu ada di tanganmu. Sekarang, putuskan. Uang atau suamumu?"
Kata-kata itu berputar-putar di benaknya. Menggerogoti setiap sisa kekuatan. Setiap pertahanan dirinya.
Napas Amelia tersengal. Dadanya sesak oleh tekanan yang luar biasa. Pilihan itu kini bukan lagi pilihan bebas. Ini adalah paksaan mutlak.
Sebuah ultimatum kejam dari takdir. Dari dunia yang tampaknya ingin menghancurkannya. Ia harus menyelamatkan Bima. Apapun harganya.
Bahkan jika itu berarti menjual jiwanya sendiri. Menjual integritasnya. Menjual segala yang ia hargai dan yakini dalam hidup.
Amelia memejamkan mata erat-erat. Air mata meluncur deras dari sudut matanya. Membasahi pelipisnya. Mengalir ke telinganya.
Air mata jijik pada dirinya sendiri. Yang harus menghadapi pilihan sekeji ini. Air mata jijik pada situasi yang tidak adil ini.
Dan air mata jijik pada pria keji, Ardi. Yang memanfaatkannya di saat paling rapuh. Di titik terendah dalam hidupnya.
Ia merasa lumpuh. Hancur. Namun ia tahu ia harus bertindak. Tidak ada jalan lain.
"Baik, Dokter," kata Amelia. Suaranya hampir tidak terdengar. Hanya bisikan memilukan. Penuh kepasrahan.
Ia membuka mata. Menatap Dr. Surya dengan pandangan kosong. Namun dengan tekad yang mengerikan. Tekad yang lahir dari keputusasaan paling dalam.
"Lakukan operasinya. Tolong selamatkan Bima. Saya... saya akan siapkan biayanya."
"Saya akan hubungi orang itu sekarang juga. Saya akan melakukan apa pun."
Dr. Surya menghela napas lega. Seolah beban berat terangkat dari pundaknya. "Baik, Bu Amelia. Terima kasih banyak. Kami akan segera bersiap."
"Tim bedah akan segera masuk. Tolong tanda tangani formulir persetujuan operasi ini sesegera mungkin di meja perawat."
Suster Rina segera menyodorkan pulpen dan formulir berwarna putih. Amelia meraih pulpen itu. Tangannya gemetar begitu hebat.
Ia nyaris tidak bisa membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Setiap goresan pena yang ia torehkan. Adalah goresan di jiwanya.
Sebuah perjanjian dengan iblis. Sebuah transaksi yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia akan menghubungi Ardi.
Dan nerakanya baru saja akan dimulai. Babak baru dalam hidupnya yang penuh kepahitan dan pengorbanan. Langit di luar rumah sakit tampak kelabu. Seolah turut berduka untuk nasib yang akan ia hadapi.