Mulai Malam Ini, Kamu Milikku

935 Words
“Tapi aku belum siap kalau harus sekarang!!” Dion menatap Asila dengan wajah penuh emosi. “Kita bicarakan nanti. Sekarang kamu ikut ke apartemenku.” Dion menarik Asila tanpa peduli mereka sedang menimbulkan perhatian penghuni kos Asila. “Lepas,Aku bisa jalan sendiri.” Asila berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dion, namun tidak berhasil. “Masuk mobil. Cepat.” Nada suara Dion datar, tapi menakutkan bagi Asila. “Aku bisa balik ke kamarku lagi. Situasinya kan sudah aman sekarang.” Dion berhenti membuka pintu mobil, lalu menoleh tajam ke arah Asila. “Kata siapa sudah aman?” “Kalau aku pergi, kamu balik lagi ke kamar, kira-kira kamu bakal aman, nggak?” Asila menggeleng. “Kamu sudah cukup pintar untuk menyimpulkan akibat dari kejadian hari ini.” Asila mengangguk lemas, membayangkan jika Rasya kembali ke kamar kos dan tak ada yang menyelamatkannya lagi. “Kita ke apartemenku,” lanjut Dion. “Sekarang!!” “Tapi aku nggak suka dipaksa.” Dion menatap Asila tajam. “Aku nggak maksa kamu,” katanya tenang. “Aku cuma ngasih kamu dua pilihan.” Asila mendongak. “Pilihan apa?” Dion mendekat setengah langkah. “Naik mobil sama aku.” “Atau kamu balik ke kos lagi dan nerima risikonya sendiri. Aku nggak mau bantu lagi habis ini.” “Risiko didatangi Rasya lagi?” Dion tersenyum tipis. “Kamu pandai, kan? Pasti bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya.” Asila gemetar. Dadanya naik turun. Ia benci cara Dion mendesaknya, seolah hidupnya selalu penuh bahaya. Akhirnya Asila mengangguk. “Baik. Aku ikut kamu ke apartemen. Tapi cuma sementara.” Dion menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobil. “Hm. Selama aku izinkan.” Asila bergidik mendengar jawabannya. Di dalam mobil, tak ada percakapan. Dion menyetir dengan serius. Asila menatap keluar jendela, pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja dialaminya. “Kenapa kamu melamun? Kamu takut?” suara Dion memecah keheningan. “Nggak.” “Kamu nggak akan kelihatan kuat dengan bohong ke aku.” Asila mendengus. “Iya. Aku ketakutan.” “Orang yang ketakutan biasanya jadi lebih nurut.” Asila menoleh tajam. “Kamu sengaja bikin aku takut?” Lampu merah menyala. Mobil Dion berhenti mendadak. Ia menoleh ke arah Asila. “Aku bikin kamu sadar kalau kamu itu bodoh!” “Kalau Rasya nyariin aku lagi, gimana?” tanya Asila pelan. “Astaga! Emang bener kamu bodoh,” decak Dion. “Dia pasti nyariin kamu terus sampai dapat.” Asila menegang. “Terus kenapa aku harus sama kamu?” “Karena selama kamu sama aku,” jawab Dion dingin, “dia nggak akan berani nyentuh kamu.” “Kenapa?” Dion sedikit mencondongkan badan. “Karena dia tahu aku nggak pernah suka main aman.” Sesampainya di lobi apartemen, Dion berkata singkat, “Turun.” Asila menuruti tanpa membantah. Apartemen Dion masih sama—rapi, dingin, dan kaku. Sangat mencerminkan pemiliknya. Begitu pintu terkunci otomatis, Asila refleks menarik napas. “Kamu aman di sini,” kata Dion. “Selama kamu dengar perkataanku.” Kalimat itu terdengar seperti perintah. “Aku nggak mau jadi beban.” Dion melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. “Kamu bukan beban. Tapi aset.” Asila terdiam. “Kamu aman, aku dapat solusi,” lanjut Dion. “Transaksi yang adil, kan?” Asila tertawa kecil. “Jahat banget cara mikir kamu.” Dion menatapnya datar. “Aku nggak pernah ngaku baik.” “Kita perlu bahas aturan,” lanjutnya serius. Asila langsung menegakkan badan. “Aku bukan anak kecil yang harus diatur.” “Aku tahu kamu bukan bayi,” balas Dion. “Tapi sekarang kamu ada di wilayahku. Dan kamu harus nurut sama aku.” Dion berdiri di depannya. “Satu, kamu nggak boleh keluar sendirian.” “Dua, HP kamu harus selalu aktif.” “Tiga, kalau Rasya hubungi kamu, aku yang harus pertama tahu.” “Kalau aku nolak?” Dion mendekat. Jarak mereka tinggal sejengkal. “Kamu boleh nolak,” katanya pelan. “Tapi aku juga bebas narik perlindunganku dari kamu.” Asila membeku. “Pilihan selalu ada,” lanjut Dion. “Konsekuensinya juga.” Malam makin larut. Asila duduk di tepi ranjang kamar tamu, kepalanya penuh. Tiba-tiba terdengar ketukan. “Asila.” “Iya?” Dion berdiri di ambang pintu. “Aku mau lurusin satu hal.” “Soal nikah.” Tubuh Asila menegang. “Kalau soal itu… belum,” potong Dion. “Tapi arahnya ke sana.” Asila menghela napas. “Aku nggak mau.” “Aku tahu.” “Terus kenapa kamu bahas lagi sekarang?” “Karena kamu udah nggak punya posisi buat nawar,” jawab Dion tanpa ragu. Asila berdiri. “Aku bukan barang.” “Benar,” kata Dion. “Kamu lebih berharga dari itu.” “Maksud kamu apa?” “Aku nggak mau kamu jatuh ke tangan orang yang salah.” “Maksud kamu Rasya?” “Termasuk aku,” ujar Dion tenang. Asila terdiam. “Aku nggak maksa kamu jawab sekarang,” lanjut Dion. “Tapi besok keluargaku bakal hubungi kita.” “Mau ngomongin apa?” Dion menatapnya lama. “Kamu. Sebagai calon istriku.” Jantung Asila serasa berhenti berdetak. “Tenang,” tambah Dion pelan. “Aku yang pegang kendali.” Jantung Asila berdegup keras. “Aku nggak setuju.” Dion menatapnya lama. Tatapannya bukan marah. Tapi penuh keputusan. “Kamu belum setuju,” katanya pelan. “Dan aku belum berhenti.” Ia berbalik hendak pergi, lalu berhenti di ambang pintu. “Dan Asila…” Asila menoleh. “Mulai malam ini, kamu bukan lagi perempuan yang bebas.” Hening satu detik. “Kamu berada di wilayahku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD