“Ras… tolong…”
Suara Asila nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa seperti tercekik pasir. Ruangan VIP bar itu lebih sunyi dari yang seharusnya. Musik dari luar hanya terdengar samar, teredam dinding tebal dan pintu kayu berat yang kini tertutup rapat.Pria di depannya tersenyum.
Senyum yang terlalu lebar. Terlalu puas.
“Tenang dong, Dek,” katanya pelan, suaranya berat dan membuat bulu kuduk Asila berdiri.
“Rasya udah jelasin semuanya kok.”
Asila menggeleng cepat. “Nggak… dia cuma ngajak nongkrong. Bukan—”
“Bukan apa?” pria itu mendekat.
Asila mundur satu langkah.Satu langkah lagi.Sampai punggungnya menyentuh dinding empuk ruangan itu.Baru saat itu dia sadar.Rasya sudah tidak ada.Dan pintunya terkunci.Jantungnya berdegup liar.
“Aku mau pulang,” katanya gemetar. “Tolong buka pintunya.”
Pria itu malah tertawa kecil.
“Lucu banget sih kamu. Polos banget.”
Tangannya terulur, menyentuh dagu Asila, memaksa wajahnya terangkat.
Asila menepis cepat.“Jangan sentuh aku!”
Seketika wajah pria itu berubah. Senyumnya memudar, digantikan tatapan dingin.
“Kamu tahu nggak berapa harga kamu malam ini?”
Kalimat itu seperti tamparan.Asila membeku.“Apa maksud Anda?”
Pria itu tidak menjawab. Ia justru menarik pergelangan tangan Asila dan menyeretnya lebih dalam ke arah sofa besar di tengah ruangan.“Sayang,aku sudah siap membahagiakan kamu malam ini..”
Tubuhnya terdorong ke sofa. Nafasnya memburu. Dia mencoba bangkit, tapi tangan pria itu menekan bahunya kuat.
“Aku bilang jangan melawan,” desisnya.
Air mata mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
“Rasya nggak mungkin—”
“Rasya?” pria itu tertawa pendek.
“Dia yang nawarkan kamu kepada saya.”
Dunia Asila runtuh.Semua kenangan manis, semua pesan cinta, semua janji masa depan — hancur dalam satu kalimat.Dia bukan pacar.Dia barang.“Aku nggak percaya…” suaranya pecah.Pria itu mendekat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Asila lebih keras. Tubuhnya dipaksa duduk kembali saat ia mencoba berdiri.“Jangan drama.”
Jantung Asila seperti ingin keluar dari dadanya.“Lepaskan!” Dia meronta.
Tangannya ditahan.Tubuhnya didorong kembali ke sofa.Kancing atas bajunya tertarik kasar.“Jangan!” Asila berteriak, tapi musik di luar terlalu keras. Tak ada yang akan mendengar.Tangannya berusaha menutup bagian depan tubuhnya.Air mata mengaburkan pandangan.“Aku mohon…”
Pria itu sudah tak sabar. Tangannya menarik kain di bahu Asila, membuatnya hampir terlepas.Saat itulah rasa panik berubah menjadi ketakutan murni.Bukan cuma takut.Tapi sadar.Sadar bahwa malam ini hidupnya benar-benar berakhir.
“Rasya… kenapa…” bisiknya hancur.
Pria itu membungkuk, napasnya terasa panas di dekat wajah Asila.
“Kamu sudah dibayar mahal, Sayang.”
Tangannya kembali bergerak.
Dan tepat ketika kain itu hampir tersingkap
BRAK!
Pintu ruangan terbuka keras.
Suara langkah berat memasuki ruangan.
“Eh, santai dong, Om.”
Suaranya datar. Tenang.Tapi berbahaya.
Pegangan di tubuh Asila terlepas seketika.
Pria itu berdiri cepat. “Siapa kamu?!”
Sosok tinggi berdiri di ambang pintu. Kemeja hitamnya kontras dengan cahaya redup ruangan. Rahangnya tegas. Tatapannya dingin seperti baja.
Matanya hanya tertuju pada satu hal.
Asila.Bajunya kusut. Rambutnya berantakan. Air mata membasahi pipinya.
Dan matanya penuh ketakutan.Sesuatu di mata pria itu berubah.Gelap.Berbahaya.
“Aku cuma ambil yang bukan hakmu,” katanya tenang.
“Rasya sudah jual cewek ini ke saya!” bentak pria tadi.
“Rasya nggak punya hak atas apa pun,” jawabnya dingin.
Asila hampir tak bisa berdiri saat pria itu mendekat dan menariknya berdiri di belakang tubuhnya.
“Aku nggak suka mengulang kata-kataku,” katanya pelan.
“Kalau kamu masih sentuh dia, aku pastikan kamu nggak bisa keluar dari tempat ini dengan utuh.”Tatapannya tajam mengancam pria didepannya.
Beberapa detik yang terasa seperti satu jam.Akhirnya pria itu mundur. Mengumpat. Lalu pergi dengan marah.Ruangan kembali sunyi.Asila gemetar.Tangannya mencengkeram kemeja hitam di depannya.“Pegang lengan aku,” suara pria itu lebih lembut sekarang.“Dan jangan lepaskan.”Dia tidak tahu kenapa dia menurut.Mungkin karena dia tidak punya siapa-siapa lagi.
DI MOBIL
Tangannya masih gemetar.
“Aku Dion,” katanya singkat.
“Asila…” jawabnya lirih.
Dion tidak banyak bicara sepanjang perjalanan.Tapi tatapannya berkali-kali berubah dingin setiap kali nama Rasya disebut.
“Dia nggak akan berhenti,” katanya akhirnya.Asila terdiam.
“Orang kayak dia nggak akan pernah berhenti.”
Dion membawanya ke apartemennya.
Tempat itu luas. Bersih. Dingin.
Berbeda dengan bar tadi.Berbeda dengan neraka tadi.
Pagi datang terlalu cepat.Dion berdiri di depan jendela, mengenakan jas hitam. Auranya berbeda. Lebih tajam. Lebih dominan.
“Asila,” katanya tanpa menoleh.
“Kamu nggak bisa balik ke hidup kamu yang lama.”
“Aku cuma mau aman…”
“Kamu hampir dihancurkan tadi malam.”
Asila menunduk.
“Dan dia pasti akan cari kamu lagi.”
“Terus aku harus gimana?”
Dion berbalik. Mendekat perlahan. Tatapannya tajam.“Aku butuh calon istri.”Asila membeku.“Apa?”
“Kalau kamu pakai namaku, nggak ada yang berani sentuh kamu.”
Suaranya tenang. Logis. Kejam.
“Kalau nggak?”
Dion berhenti tepat di depannya.
Bayangannya menelan tubuh Asila.
“Kalau nggak… dunia bakal hancurin kamu sebelum aku sempat nolongin kamu lagi.”
Air mata kembali jatuh.
“Kamu kejam…”
“Iya.”
Jawabannya tanpa ragu.“Kenapa harus aku?”
Dion menatapnya lama.Karena kamu hampir hancur.Karena kamu lemah.Karena kamu butuh perlindungan.
Dan karena aku nggak suka kehilangan sesuatu yang sudah aku ambil.
Tapi yang ia katakan hanya satu kalimat.
“Karena kamu sekarang sudah menjadi milikku.”