Penyelamat Palsu

1108 Words
“Ras… tolong…” Suara Asila hampir tidak keluar. Tenggorokannya kering dan tangannya dingin seperti es. Pria di depannya masih tersenyum. Senyum yang menurut Asila seperti sedang berusaha menerkam mangsanya. “Jangan tegang gitu dong, Dek,” katanya. “Rasya udah jelasin semuanya kok ke Om.” “Rasya jelasin apa sama Anda?” suara Asila bergetar. “Aku cuma diajak nongkrong. Bukan untuk nemenin om-om hidung belang seperti Anda!” Pria itu terkekeh pendek, tapi badannya semakin mendekat ke arah Asila. “Polos banget sih kamu, Sayang.” Asila berdiri buru-buru. “Aku mau pulang sekarang. Tolong jangan pegang-pegang tangan aku.” Baru selangkah, tangan itu menarik Asila ke arahnya lagi, dan kali ini lebih kuat. “Kamu duduk di sini, jangan pergi ke mana-mana,” katanya rendah. “Nggak sopan ninggalin tamu.” Air mata Asila jatuh. Dia panik. Dia berusaha mencari pertolongan. Matanya liar mencari Rasya. Namun usahanya sia-sia. Rasya nggak ada. Dan di titik itulah Asila akhirnya ngerti bahwa dia sedang dijual oleh Rasya. “Eh, santai dong, Om.” Sebuah suara masuk, datar tapi tajam. Pegangan di tangan Asila dilepas. Asila refleks mundur. Hampir jatuh. Seseorang menahan pundaknya. “Kamu nggak apa-apa, 'kan?” Suara itu terasa lebih dekat sekarang. Asila menoleh ke belakang. Di sana muncul cowok tinggi dengan kulit putih dan kelihatan tampan. Memakai kemeja hitam, dengan rahang tegas yang memancarkan aura gelap. Tatapannya dingin, tapi fokus ke Asila. Asila cuma bisa menggeleng, air matanya mengalir semakin deras. “Tolong jangan pegang-pegang, Om. Ini pacarku!” kata cowok itu ke pria tadi. Nadanya tenang, tapi auranya memancarkan ketegangan yang nggak bisa ditolak. Pria itu mengernyit, seolah tidak terima kalau barangnya diambil. “Heh? Jangan ngaku-ngaku ya. Rasya bilang kalau cewek ini dijual buat nemenin saya malam ini!” “Rasya?” Cowok itu tersenyum tipis dengan tatapan dingin. “Dia nggak punya hak ngomong apa-apa tentang pacarku.” Asila kaget. Pacar… aku? Siapa dia? Cowok itu menoleh ke Asila. Nadanya berubah pelan. “Dengerin aku baik-baik. Pegang jaket aku dan jangan dilepas sedikit pun.” Asila nurut. Tangannya mencengkeram jaket itu sekuat tenaga. Pria tadi berdiri. Wajahnya berubah tajam, menantang. “Emangnya kamu siapa, hah?” Cowok itu menatap balik tanpa gentar. “Orang yang salah dan nggak mau kamu ganggu sesuatu miliknya.” Keributan kecil itu mulai menarik perhatian. Beberapa orang menengok ke arah mereka, lalu ke Asila. Tatapan mereka sinis. Cowok itu menarik Asila sedikit ke belakang tubuhnya. “Aku nggak mau ribut di sini,” katanya. “Tapi kalau kamu masih berani nyentuh dia, aku nggak jamin kamu keluar dari sini dengan aman.” Pria itu meludah ke lantai. Dadanya membusung. “Dasar bocah sok jago! Kamu berani nantang saya, hah?!” Cowok itu cuma nyengir. Matanya tetap tajam. “Ayo maju. Silakan kalau mau coba lawan aku.” Hening. Beberapa detik terasa lama buat Asila. Akhirnya pria itu mundur, mengacungkan tangan ke arah cowok itu. “Bilangin ke Rasya, aku nggak suka dipermainkan.” Cowok itu mengangguk tipis. “Siap. Saya akan bilangin kalau Anda nggak berani nantang saya.” Pria itu mendengus dan berjalan menjauh. Asila lemas. Kakinya gemetar. Cowok itu langsung menoleh. “Kamu bisa jalan, kan?” Asila mengangguk pelan. “Bagus. Kita keluar sekarang. Jangan kelamaan di tempat kayak gini.” Begitu pintu bar tertutup, udara malam terasa menusuk kulit Asila. Dingin. Asila menghirup napas panjang. Cowok itu membuka pintu mobil. “Masuk.” Asila ragu, tapi malam ini semuanya terasa berbahaya. Dan cowok ini adalah satu-satunya yang memutus bahaya itu. Dia masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup, Asila menunduk dan menangis sesenggukan. Cowok itu tidak langsung menyalakan mesin. Dia diam sebentar, mengatur napasnya. “Kenalin, nama aku Dion.” “Nama kamu siapa?” “Asila,” jawabnya terbata. “Nama aku Asila.” Dion mengangguk, memperhatikan kondisinya. “Malam ini kamu beruntung nggak jadi korban orang gila tadi.” Asila mengangkat kepala. “Emm… maksud kamu apa?” “Karena kamu masih hidup sampai sekarang. Dan masih… utuh,” jawab Dion datar. Kalimat itu membuat Asila menggigil. “Apa yang hampir kejadian barusan itu serius,” lanjut Dion. “Bukan main-main.” “Aku nggak tahu apa yang barusan terjadi,” Asila menggeleng cepat. “Aku beneran nggak tahu.” “Aku tahu kamu masih polos banget,” potong Dion. “Dari penampilan kamu aja kelihatan.” Asila mengepal. “Rasya… dia itu pacar aku.” Dion menoleh cepat. “Apa?” “Rasya,” suara Asila pecah. “Adalah pacar pertama aku.” Dion diam beberapa detik, lalu mengumpat pelan. “b******k!” “Maaf?” “Bukan ke kamu. Tapi ke pacar pertama kamu itu. Berengsek banget.” Mesin mobil menyala, lalu melaju menjauh dari bar. “Kamu punya tempat buat pulang?” Asila menggeleng. “Kosanku… tapi dia tahu alamatku.” “Nomor telepon kamu juga tahu?” “Hem.” Dion mendecak. “Berarti kamu nggak punya apa-apa sekarang.” Asila menunduk, mengiyakan. “Kenapa kamu mau susah-susah nolongin aku?” tanyanya lirih. Dion diam. “Karena aku benci orang kayak Rasya,” katanya akhirnya. “Dan karena kamu kelihatan terlalu mudah dikendalikan.” Kalimat itu menusuk. Akhirnya Dion membawa Asila ke apartemennya. Apartemen itu besar. Dingin. Teratur. “Kamu bisa tidur di kamar tamu,” katanya. “Pintunya dikunci. Jangan keluar tanpa aku.” Asila ragu. “Aku nggak mau ngerepotin orang yang belum aku kenal.” “Berhenti,” potong Dion. “Kamu udah terlibat sama hidupku sejak kita ketemu tadi. Suka atau nggak.” Malam itu Asila hampir tidak tidur. Pagi datang. Dion bersiap ke kantor, mengenakan kemeja biru, jas hitam, dan jam tangan mahal. Auranya tajam, seperti orang yang terbiasa mengendalikan. “Kita perlu ngomong,” katanya. Asila menegang. “Rasya, pacar kamu itu, emang kerjanya jual cewek,” lanjut Dion. “Dan kamu hampir jadi barang dagangannya.” Asila pucat. “Dia nggak bakal berhenti nyari kamu,” kata Dion. “Dan kamu nggak boleh sendirian.” “Aku cuma mau hidup normal,” suara Asila gemetar. “Hidup normal itu privilese,” jawab Dion. “Dan kamu sudah kehilangan itu.” Dia mendekat. “Aku butuh calon istri. Secepatnya.” Asila membeku. “Kamu aman kalau pakai nama aku,” lanjut Dion dingin. “Kalau nggak, dunia ini bakal menghancurkan kamu.” “Kamu kejam banget ngomong kayak gitu,” bisik Asila. “Iya,” jawab Dion lurus. “Tapi itu fakta.” “Kalau aku nolak?” “Aku tetap lindungi kamu,” katanya pelan. “Tapi kamu nggak bakal bebas.” “Kenapa?” Dion mendekat satu langkah. Bayangannya menelan Asila. “Karena kamu sekarang sudah jadi milikku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD