Ruangan itu terasa membeku. Tidak ada suara selain napas Ami yang memburu dan detak jam dinding yang terdengar samar dari sudut kamar.
Sagara masih berdiri di ambang pintu. Diam, tidak bergerak. Tatapannya tertuju lurus pada dua orang di hadapannya, tetapi sorot matanya begitu dingin hingga membuat udara di ruangan itu terasa menyesakkan.
Ami buru-buru menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Jemarinya gemetar hebat.
“S-Sagara…”
Sementara di sisi lain, Gandi turun dari tempat tidur dengan gerakan jauh lebih tenang dibandingkan Ami. Ia mengambil kemejanya yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya tanpa terburu-buru.
Pemandangan itu justru membuat sesuatu di dalam daada Sagara terasa semakin hancur.
Mereka terlihat terlalu terbiasa dan nyaman seolah ini bukan pertama kalinya terjadi.
“…jelaskan,” ulang Sagara pelan.
Nada suaranya tidak tinggi. Namun justru karena terlalu tenang, Ami merasa semakin takut.
Wanita itu turun dari tempat tidur dengan wajah pucat. Air mata mulai memenuhi matanya bahkan sebelum ia sempat bicara.
“Aku bisa jelasin semuanya…”
“Bagus,” potong Sagara cepat. “Karena aku juga ingin tahu sejak kapan tunanganku tidur dengan kakakku sendiri.”
Ami menangis seketika.
“Ini nggak seperti yang kamu pikir—”
Sagara tertawa pendek.
“Kalimat paling klise di dunia.”
Ami menggigit bibirnya keras. “Tolong dengarkan aku dulu…”
“Ok.” Sagara menatapnya tanpa ekspresi. “Beri aku penjelasan masuk akal atau diam.”
Saat diberi kesempatan bicara, Ami justru terdiam. Dadanya naik turun cepat. Wanita itu terlihat kacau.
Untuk pertama kalinya malam itu, Sagara melihat ketakutan nyata di mata Ami.
“Aku…” suara Ami pecah. “Aku capek, Sagara.”
Tatapan Sagara tidak berubah.
“Kamu selalu sibuk,” lanjut Ami dengan air mata jatuh satu per satu. “Setiap kali aku butuh kamu, kamu selalu ada di rumah sakit. Setiap kali aku mencoba bicara, pikiranmu selalu ke pasien, penelitian, operasi…”
“Aku bekerja.”
“Aku tahu!” Ami meninggi tanpa sadar. “Aku tahu kamu bekerja! Tapi aku juga manusia!”
Tangannya mengepal di atas selimut.
“Aku sendirian terus!”
Ruangan kembali hening.
Sagara menatap wanita yang sudah lima tahun bersamanya itu tanpa bisa membaca apa pun lagi.
Lucu. Dulu ia pernah berpikir Ami adalah satu-satunya tempat yang terasa tenang setelah semua tekanan hidupnya. Namun sekarang, wanita itu justru menjadi sumber kehancuran paling besar dalam hidupnya.
“Aku tidak pernah melarangmu pergi kalau merasa tidak bahagia,” ucap Sagara akhirnya.
Suara Ami langsung melemah.
“Aku nggak mau kehilangan kamu…”
“Jadi kamu memilih tidur dengan kakakku?”
Ami langsung terdiam.
Pertanyaan itu terdengar begitu tajam hingga membuat napasnya tercekat.
Di sisi lain, Gandi akhirnya melangkah maju.
“Sudah cukup, Mi.”
Sagara mengalihkan pandangannya perlahan pada pria itu.
Ada sesuatu dalam tatapan Gandi yang langsung membuat rahang Sagara mengeras. Tidak ada rasa bersalah. Setidaknya tidak sebanyak yang seharusnya.
“Kamu marah padaku?” tanya Gandi tenang.
Sagara tertawa pelan lagi.
“Menurutmu?”
Gandi menghela napas panjang.
“Kamu terlalu sibuk buat sadar Ami kesepian.”
Kalimat itu langsung membuat Ami menoleh panik.
“Gandi, jangan—”
“Tapi itu kenyataannya,” lanjut pria itu tanpa melepas tatapannya dari Sagara. “Kamu pikir semua orang bisa hidup seperti mesin?”
Sagara melangkah masuk ke kamar. Namun cukup membuat Ami mundur beberapa langkah.
“Kamu tidur dengan tunanganku,” ucapnya dingin. “Lalu bicara seolah aku yang salah?”
“Aku nggak bilang itu benar.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Gandi terdiam sesaat kemudian berkata sesuatu yang membuat suasana berubah semakin buruk.
“Karena Ami lebih nyaman denganku.”
Ami langsung memejamkan mata.
“Sagara…”
Namun pria itu sudah tidak mendengarnya lagi. Sesuatu di dalam dadanya seperti retak perlahan. Bukan hanya karena pengkhianatan itu melainkan karena cara Gandi mengatakannya. Yang paling membuat Sagara muak seolah Gandi merasa menang.
Tatapan Sagara berubah jauh lebih dingin.
“Sudah berapa lama?”
Tidak ada jawaban.
“Aku tanya,” ulangnya perlahan, “sudah berapa lama?”
Ami mulai menangis lebih keras.
“…setahun.”
Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi.
Sagara tidak bergerak. Tidak bicara. Namun justru itu yang membuat Ami semakin takut.
Setahun. Artinya selama setahun penuh mereka membohonginya. Selama setahun penuh ia terlihat seperti orang bodoh.
Sagara menunduk sebentar lalu mengangguk kecil.
“Menarik.”
Ami buru-buru mendekat.
“Sagara, aku beneran nggak bermaksud—”
“Kapan kalian mulai berselingkuh?”
Wanita itu terdiam lalu dengan suara kecil, ia menjawab, “Waktu kamu sibuk program master di Singapura…”
Sagara langsung mengingat masa itu. Enam bulan hidup berpindah antara rumah sakit dan penelitian.
Setiap kali pulang, Ami selalu menyambutnya dengan senyum manis.
Betapa lucunya hidup.
“Kamu tahu apa yang paling menjijikkan?” gumam Sagara pelan.
Ami menatapnya dengan napas tertahan.
“Aku benar-benar percaya sama kalian.”
Kalimat itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan marah.
Ami mulai menangis histeris sekarang.
“Aku salah… aku tahu aku salah… tapi...”
Tiba-tiba wanita itu memegang perutnya sendiri. Gerakan kecil, tapi cukup membuat Sagara menyadarinya.
Tatapannya turun perlahan dan firasat buruk langsung muncul di kepalanya.
Ami terlihat pucat.
“Sagara…” suaranya gemetar. “Aku sebenarnya mau ngomong dari minggu lalu…”
Jantung Sagara berdetak semakin keras.
“Aku hamil.”
Dunia terasa benar-benar sunyi. Tidak ada suara apa pun. Bahkan hujan di luar terasa menghilang.
Sagara menatap Ami lama sekali seolah otaknya menolak memahami kalimat itu.
“…apa?”
Air mata Ami jatuh semakin deras.
“Tiga bulan.”
Sagara perlahan menoleh ke arah Gandi.
Pria itu diam. Namun ekspresinya sudah cukup menjawab semuanya. Anak itu milik Gandi.
Sagara tertawa kecil dan pahit.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke kamar itu, matanya benar-benar terlihat terluka.
“Luar biasa.”
Ami menggeleng panik.
“Aku mau jujur sebelum pernikahan kita—”
“Betapa baiknya kamu.”
“Sagara…”
“Aku bahkan hampir menikahimu sambil membesarkan anak kakakku sendiri.”
Nada suaranya tetap tenang. Namun justru itu yang membuat Ami menangis semakin keras.
Gandi melangkah maju sedikit. “Sudah cukup.”
Sagara menatapnya tajam.
“Kamu tahu apa yang lucu?”
Tatapan mereka bertemu.
“Seumur hidup Ayah selalu bilang kamu harus belajar jadi kakak yang baik.”
Rahang Gandi langsung menegang.
“Tapi ternyata…” lanjut Sagara lirih, “kamu bahkan nggak bisa berhenti mengambil milikku.”
Kalimat itu sukses membuat wajah Gandi berubah untuk pertama kalinya malam itu.
Karena Sagara benar.
Sejak kecil, semua orang selalu membandingkan mereka. Sagara si anak jenius. Sagara si pewaris utama. Sagara yang selalu dipuji ayah mereka. Sementara Gandi hanya bayangan.
Malam ini, akhirnya ia berhasil merebut sesuatu dari adiknya. Namun kemenangan itu tetap terasa kotor.
Sagara mundur satu langkah lalu satu langkah lagi.
“Ada yang harus kita bicarakan!” seru Ami panik saat melihatnya hendak pergi.
Sagara tidak menjawab.
Ia berbalik dan berjalan keluar kamar.
“Aku mencintaimu, Sagara!”
Langkah pria itu berhenti sepersekian detik. Namun ia tidak menoleh.
Hal itu jauh lebih menyakitkan bagi Ami daripada kemarahan apa pun.
Sagara menuruni tangga dengan langkah cepat. Dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau.
Ia bahkan tidak yakin bagaimana bisa tetap berdiri setelah semua yang baru saja terjadi.
Rumah itu terasa menjijikkan sekarang. Penuh kebohongan dan penghianatan.
Ia membuka pintu rumah lalu keluar begitu saja ke tengah hujan malam.
Udara dingin langsung menghantam wajahnya. Namun tidak cukup untuk meredakan panas di dadanya.
Sagara masuk ke mobil dan membanting pintu lebih keras dari biasanya. Tangannya mencengkeram setir. Napasnya berat.
Bayangan Ami dan Gandi terus berputar di kepalanya seperti kutukan. Setahun. Hamil. Anak Gandi.
Sagara memejamkan mata kuat-kuat lalu menyalakan mesin mobil.
Mobil melaju cepat meninggalkan rumah itu.
Hujan semakin deras. Lampu jalan berubah buram terkena air. Namun Sagara terus mengemudi tanpa arah jelas.
Pikirannya terlalu penuh untuk berpikir lurus. Ia bahkan tidak sadar mobilnya melaju jauh lebih cepat dari batas aman.
Tangannya mengepal di setir. Dadanya terasa kosong. Lucunya, selama ini ia pikir hidupnya sempurna. Karier bagus. Tunangan baik. Masa depan jelas. Ternyata hampir semuanya palsu.
Lampu mobil dari arah berlawanan tiba-tiba muncul terlalu dekat. Klakson keras memekakkan telinga.
Sagara refleks menoleh dan semuanya terjadi terlalu cepat. Ban mobil tergelincir di jalan basah. Setir berputar liar di tangannya.
Tubuhnya terdorong keras ke depan. Lampu putih menyilaukan memenuhi pandangannya.
Lalu—BRAK!
Benturan keras mengguncang malam. Darah mengalir pelan dari pelipis Sagara.
Pandangan pria itu mulai kabur. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang… hanya ada satu pikiran terakhir di kepalanya. Pengkhianatan lalu dunia berubah gelap sepenuhnya.