Mobil hitamnya akhirnya berhenti di depan rumah Ami sekitar tiga puluh menit kemudian.
Rumah dua lantai itu terlihat tenang. Lampu ruang tamu masih menyala, tetapi halaman depan tampak kosong.
Sagara turun dari mobil sambil merapikan lengan kemejanya. Ia tidak mengetuk pintu. Ami pernah memberinya kunci cadangan.
Pintu terbuka pelan saat ia masuk ke dalam rumah.
“Ami?”
Tidak ada jawaban.
Rumah itu sunyi.
Sagara melepas sepatunya lalu melangkah masuk lebih jauh.
“Ami?”
Tetap tidak ada sahutan. Namun beberapa detik kemudian, samar-samar terdengar suara dari lantai atas.
Suara benda jatuh lalu terdengar suara napas berat.
Sagara mengernyit pelan. Ia mulai menaiki tangga dengan langkah perlahan. Semakin dekat ke arah kamar Ami, suara itu semakin jelas.
Ketika pandangannya jatuh pada pintu kamar yang sedikit terbuka, langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku.
"Babe, harder!"
Ami yang cantik dan polos, sekarang berada di atas kasur dalam keadaan yang hampir tidak pernah dilihatnya, puas dan brutal. Rambutnya acak-acakan. Namun jelas senyumannya lebih lebar dari semua senyuman yang pernah diberikannya pada Sagara.
"Akh.. terus, lebih dalam..." Ami meracau.
Dia tidak sendirian. Ada pria yang berada di sana bersamanya. Pria yang sangat Sagara kenal. Seseorang yang bahkan memiliki darah yang sama dengannya. Gandi, kakaknya sendiri.
Dunia seakan berhenti bergerak. Sagara tidak mendengar apa pun selama beberapa detik.
Sampai akhirnya Ami menoleh ke arah pintu dan wajahnya langsung pucat.
“Sagara—”