Bau antiseptik. Itulah hal pertama yang menyambut kesadaran Sagara.
Aroma tajam dan dingin itu memenuhi indera penciumannya, begitu familiar hingga hampir terasa menenangkan. Namun ada sesuatu yang aneh.
Ia tidak sedang berdiri di ruang operasi. Tubuhnya terasa berat. Kelopak matanya bergerak perlahan, seolah ada beban besar yang menahannya untuk terbuka. Cahaya putih dari langit-langit langsung menusuk matanya begitu penglihatannya mulai fokus.
Sagara mengerjap beberapa kali. Semuanya putih. Langit-langit putih. Dinding putih. Tirai putih. Suara monitor jantung yang berdetak ritmis di dekat telinganya.
Bip… bip… bip…
Ia mencoba mengangkat tangan kanannya. Rasa nyeri langsung menjalar dari bahu hingga ke daada.
Desis kecil keluar dari bibirnya.
“Dokter!”
Suara perempuan terdengar tidak jauh darinya.
Langkah kaki tergesa mendekat.
“Dokter, pasiennya sudah sadar!”
Beberapa detik kemudian, seorang pria berjas putih muncul di hadapan Sagara. Wajah pria itu tampak lega.
“Dr. Sagara? Anda bisa mendengar saya?”
Sagara menatapnya beberapa saat.
Aneh. Wajah itu terasa familiar, tetapi ia tidak bisa mengingat siapa namanya.
“…di mana saya?” tanyanya pelan.
Suaranya serak dan terasa asing di telinganya sendiri.
“Rumah sakit,” jawab dokter itu hati-hati. “Anda mengalami kecelakaan mobil dua hari lalu.”
Kecelakaan. Kata itu menggantung di udara.
Sagara mengernyit pelan. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri saat ia mencoba mengingat sesuatu. Lampu. Hujan. Suara klakson lalu gelap. Hanya itu. Tidak ada lagi.
“Coba tarik napas perlahan,” ujar dokter itu lagi. “Anda mengalami benturan cukup keras di kepala.”
Sagara mengikuti instruksi itu sambil menatap kosong ke depan.
Ada sesuatu yang terasa salah. Ia merasa seperti baru bangun di kehidupan orang lain.
“Apa Anda ingat nama Anda?” tanya dokter itu.
Sagara terdiam beberapa detik.
Nama. Tentu saja ia tahu namanya. Namun anehnya, bahkan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu, ia tetap merasa ragu.
“…Sagara.”
Dokter itu tersenyum kecil.
“Benar. Dr. Sagara Aditya Pratama.”
Nama itu terdengar asing di kepalanya sendiri seolah bukan miliknya.
Sagara mengerutkan kening. Ia mencoba menggali lebih jauh ke dalam ingatannya. Apa pun. Namun semakin keras ia mencoba mengingat, semakin sakit kepalanya terasa. Kosong. Tangannya mengepal lemah di atas selimut.
“…kenapa saya tidak ingat apa pun?”
Dokter dan perawat di ruangan itu saling bertukar pandang singkat.
“Kami menduga Anda mengalami amnesia retrograde,” jawab dokter itu akhirnya. “Ingatan sebelum kecelakaan bisa hilang sementara karena trauma pada kepala.”
“Hil…ang?”
“Biasanya ingatan akan kembali perlahan,” lanjutnya cepat, mungkin karena melihat ekspresi Sagara mulai berubah. “Tapi setiap pasien berbeda.”
Sagara kembali menatap langit-langit.
Aneh. Ia tahu banyak istilah medis yang diucapkan dokter itu. Tubuhnya bahkan secara otomatis memahami suara monitor dan bau ruangan ini. Namun ia tidak bisa mengingat hidupnya sendiri seolah otaknya hanya menyisakan pengetahuan, tapi menghapus seluruh kenangan.
“Keluarga saya di mana?” tanyanya lirih.
Dokter itu langsung mengangguk.
“Mereka ada di luar. Saya akan memanggil mereka.”
Pintu kamar terbuka beberapa saat kemudian.
Seorang wanita elegan masuk lebih dulu dengan langkah cepat. Matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat Sagara sadar.
“Ya Tuhan…”
Wanita itu mendekat ke sisi ranjang.
“Sagara…”
Tangannya gemetar saat menyentuh lengan putranya pelan.
“Kamu membuat Mama sangat khawatir.”
Sagara menatap wajah wanita itu lama.
Cantik, dnggun dan tampak begitu cemas. Namun tidak ada satu pun kenangan muncul di kepalanya.
Perasaan asing itu membuat dadanya terasa sesak.
Di belakang wanita itu, seorang pria paruh baya berdiri dengan wajah lebih tenang meski garis kekhawatiran tetap terlihat jelas.
“Syukurlah kamu sadar,” ucap pria itu pelan.
Sagara memandang mereka bergantian.
Ia tahu dua orang ini penting baginya. Namun rasanya seperti melihat orang asing yang kebetulan mengenalnya.
“Kamu masih ingat kami?” tanya wanita itu hati-hati.
Sagara membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia tidak ingin melukai mereka. Namun ia juga tidak bisa berbohong.
“…tidak.”
Kalimat itu membuat wajah wanita tersebut langsung runtuh. Pria di sampingnya segera memegang bahunya pelan.
“Tenang,” katanya lembut. “Dokter bilang ini sementara.”
Sagara menunduk sebentar.
Entah kenapa melihat wanita itu sedih membuat dadanya terasa tidak nyaman. Namun tetap saja… ia tidak ingat apa pun.
“Kamu ayah saya?” tanyanya pelan pada pria itu.
Pria tersebut mengangguk kecil.
“Ya. Ini ibumu.”
Sagara mengangguk perlahan.
Kepalanya kembali berdenyut. Ia memejamkan mata sebentar. Samar-samar ada bayangan lorong rumah sakit.
Suara alat bedah. Lampu operasi. Tangannya yang berlumuran darah. Namun semua itu menghilang begitu cepat sebelum sempat ia pahami.
“Jangan dipaksa mengingat,” ujar dokter yang masih berada di ruangan. “Otak Anda masih dalam proses pemulihan.”
Sagara membuka mata lagi.
“Pekerjaan saya apa?”
Ayahnya tampak sedikit terkejut.
“Kamu dokter bedah.”
Aneh. Jawaban itu tidak membuatnya kaget seolah sebagian tubuhnya memang sudah mengetahui itu sejak awal.
“Pantas,” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke arah tangannya sendiri. Jemarinya panjang dan stabil. Tangan seorang dokter.
Kenapa rasanya seperti milik orang lain?
“Dokter bilang memori prosedural biasanya tetap ada,” jelas ayahnya. “Kamu mungkin lupa orang-orang di sekitarmu, tapi tetap ingat cara bekerja.”
Sagara mengangguk kecil.
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.
“…apa saya punya tunangan?”
Ibunya tampak sedikit tersentak. Namun kemudian wanita itu mengangguk perlahan.
“Iya.”
Sagara mengerutkan kening.
“Siapa?”
Ibunya dan ayahnya saling berpandangan cepat lalu wanita itu menoleh ke arah pintu.
“Masuklah, Desi.”
Nama itu terdengar asing. Namun entah kenapa, d**a Sagara terasa sedikit sesak saat mendengarnya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Seorang gadis masuk dengan langkah ragu. Rambut hitam panjangnya diikat sederhana. Wajahnya cantik, tetapi terlihat pucat dan tegang. Jemarinya saling menggenggam kuat di depan tubuhnya.
Ia tampak seperti seseorang yang dipaksa berdiri di tempat yang tidak nyaman baginya.
Sagara langsung memperhatikannya tanpa berkedip.
Aneh. Gadis itu terlihat gugup sekali. Bahkan terlalu gugup untuk seseorang yang katanya adalah tunangannya sendiri.
“Desi,” panggil ibunya lembut.
Gadis itu melangkah mendekat perlahan.
“Sagara…” suaranya pelan.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, jantung Sagara berdetak sedikit lebih lambat.
Ia mencoba mencari sesuatu di dalam dirinya. Sebuah kenangan. Perasaan familiar. Apa pun. Namun lagi-lagi hanya kekosongan.
“Kamu… ingat aku?” tanya Desi hati-hati.
Sagara menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan.
Mata gadis itu langsung memerah. Ia cepat-cepat menunduk, seolah takut emosinya terlihat.
Ibunya Sagara langsung menggenggam tangan Desi pelan.
“Tidak apa-apa. Ingatannya pasti kembali perlahan.”
Desi tersenyum tipis. Namun senyum itu tampak dipaksakan. Sagara menyadari sesuatu. Gadis ini takut padanya. Bukan takut dalam arti biasa melainkan seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar.
“Sagara,” ujar ibunya lembut, “ini Desi.”
Ia tersenyum hangat.
“Tunanganmu.”
Kata itu jatuh begitu saja di udara.
Tunangan.
Sagara kembali menatap Desi.
Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya perlahan.
Di matanya, Sagara melihat sesuatu yang aneh. Bukan hanya gugup atau sedih melainkan rasa bersalah yang begitu jelas hingga hampir tidak bisa disembunyikan.
Sagara tidak tahu kenapa. Namun instingnya mengatakan satu hal.
Ada sesuatu yang tidak beres. Entah kenapa… satu-satunya orang yang mengaku sebagai tunangannya justru terasa seperti orang asing yang paling sulit dipercayainya.