"Kau ... tidak bekerja?"
Gadis berbulu mata lentik itu menatapnya lekat, hingga membuat debar di d**a Kenhart berdentam lebih kencang. Wajahnya seketika merona, bibirnya menjadi kelu, tak dapat berucap sepatah kata. Dia menarik napas panjang lalu berkata ....
"Kau lihat?" Lelaki itu menunjuk sebuah papan kayu bertuliskan "Dilarang merusak tanaman," ucapnya mencoba mengalihkan perhatian gadis itu dari pertanyaan yang tadi.
Tiffany menutup mulut, tak menyangka apa yang telah dia lakukan adalah perbuatan yang melanggar. Dengan cepat dia melepaskan rengkuhan si tampan, kemudian membersihkan bajunya yang berantakan.
"Umm ... Maaf, Ken. Aku tidak tahu. Aku terlalu terpesona dengan keindahan taman ini." Dia menyisir rambutnya yang tergerai dengan jemari, dan menunduk malu saat menyadari bahwa Kenhart sedang melihatnya dari atas hingga ke bawah.
'Dasar m***m,' umpat Tiffany dalam hati. Pantas saja jika kamar mereka dijadikan area terlarang bagi semua maid wanita di sini. Tatapan liar Kenhart saat melihatnya tadi sudah cukup menjadi jawaban.
"Kau tahu? Siapa saja yang melanggarnya, akan dikenai sangsi?"
Seringai di wajah tampan itu membuat Tiffany menjadi takut. Dia baru saja dua hari di sini, tapi sudah berulah. Aunty pasti akan marah jika mengetahuinya. Jangan sampai Kenhart mengadukan hal ini kepada ibunya. Bisa celaka dia.
"Sorry. Aku tidak tahu. Tolong maafkan." Dia benar-benar menyesali perbuatannya.
"Aku akan bilang pada mommy kalau kau merusak tanaman." Kenhart menatapnya tajam. Gadis desa memang gampang sekali dibodohi. Mereka akan takut dengan sedikit ancaman.
Damn!
Dia mati kutu.
"Tolong. Aku masih ingin bekerja," lirihnya. Bagaimana dia bisa mengirimkan uang kepada keluarganya jika sampai diusir oleh mereka. Ah, kenapa tangannya malah gatal dan memetik bunga itu.
"Bunga yang kau petik itu mahal. Kami membayar tukang kebun khusus untuk merawatnya." Suara berat Kenhart bergaung di telinganya.
"Jadi, aku harus bagaimana?"
"Kau harus memberiku sesuatu supaya aku tidak mengadu." Lelaki itu melipat tangannya di d**a. Bibirnya menahan senyum. Ternyata gampang sekali mempengaruhi gadis ini.
Tiffany mengangkat tangannya, tak mengerti apa maksud dari ucapan sang putra sulung.
"Give me a kiss." Dia menunjuk pipinya.
Tiffany membuang wajah lalu menggeleng pelan. Tidak mungkin melakukan itu, menyentuh barang-barang di rumah itu saja dia tak punya nyali. Bagaimana mungkin dia mencium pewaris utama keluarga ini.
"Aku mau per-" Belum sempat dia berbalik ketika tangannya di cekal dengan kuat.
Kenhart dengan sigap merengkuhnya dalam dekapan. Sejak awal kedatangannya gadis ini sudah mencuri perhatian. Dan dia, sudah menandai Tiffany sebagai miliknya.
"Tuan, tolong ja-"
Tiffany tersentak saat sebuah kecupan lembut mendarat di pipinya. Dia menolak tubuh besar itu kemudian berlari masuk ke dalam.
Kenhart terbahak melihat kelakuan gadis itu. Sungguh polos dan dia semakin suka. Matanya melirik ke arah pergelangan tangan. Dia sudah terlambat tiga puluh menit dari jadwal pertemuan hari ini. Ada klien yang memintanya untuk mengusut satu kasus penipuan.
Dia berjalan dengan cepat menuju parkiran. Tadi sebelum berangkat, ponselnya tertinggal di kamar. Saat kembali, dia melihat gadis itu sedang berjalan menuju taman. Langkahnya terhenti sesaat.
Kenhart menggeser posisinya hingga dia dapat melihat dengan jelas. Lalu tertawa sendiri melihat tingkah konyol gadis itu. Tiffany sedang berputar dan menari di antara bunga-bunga, lalu mencium kelopaknya satu persatu.
Matanya mendelik saat tangan mungil itu dengan lancangnya memetik sekuntum bunga kesayangan sang ibu. Tiba-tiba saja muncul ide di kepalanya untuk menggodanya.
Lalu terjadilah percakapan tadi. Membuat paginya menjadi cerah. Dia dan saudaranya memang menyukai gadis-gadis cantik. Namun, yang lugu seperti Tiffany, baru saja ditemukan. Tak menyangka selama ini, mereka memiliki keluarga dengan kecantikan yang menggugah selera. Pikirnya, gadis di desa pastilah berwajah dekil karena harus menghabiskan harinya dengan melakukan pekerjaan berat. Tak menyangka ada satu yang jelita dibawa ke rumah mereka.
Keluarga mereka memiliki sebuah peternakan yang dikelola penduduk setempat. Beberapa kali dia mengikuti sang ayah saat berkunjung ke sana. Hanya saja dia tak pernah bertemu dengan Tiffany sebelumnya.
"Halo." Kenhart menjawab panggilan setelah dering yang ketiga kali. "Aku terlambat. Ada sesuatu yang menghalangi saat perjalanan," ucapnya.
"Baiklah, aku ke sana sekarang." Dia menutup telepon dan meletakkan benda pipih itu di dashboard. Lalu mulai melajukan mobil mewahnya menuju tempat yang telah dijanjikan.
Derap langkahnya saat memasuki kantor membuat beberapa orang gugup. Kenhart dikenal sebagai atasan yang buruk perangainya kepada para pekerja. Sekalipun begitu, dia tak segan-segan memberikan bonus lebih jika sedang berbaik hati.
Untuk beramah tamah? Jangan harap. Dia tidak akan melakukannya. Hanya membuang waktu percuma. Baginya, lebih baik bersenang-senang dengan seorang gadis daripada harus mendengarkan mereka bergosip yang tidak penting.
"Tak biasanya kau datang terlambat, Ken," ucap Christian. "Apa kau bermain dulu dengan seorang gadis sebelum bertemu denganku?"
Hampir satu jam lamanya menunggu si pemilik ruangan ini datang. Untung saja dia sudah mengenal sang sekretaris, hingga bisa bebas masuk. Kenhart sendiri tak pernah mempermasalahkan jika Christian yang datang berkunjung.
Lirikan mata itu membuatnya jengah. Dia mengulum senyum, menyisakan sebuah tanya pada benak lawan bicaranya.
Lelaki gagah itu mengangkat bahu, berpura-pura tak tahu. Malas menanggapi hal itu. Dia ingin, mereka langsung saja membahas inti permasalahan.
"Dugaanku tepat. Kau memang player."
Lalu mereka membahas sebuah kasus yang melibatkan beberapa oknum pemerintah setempat. Kasus penggelembungan dana untuk pembelian sejumlah lahan yang akan dibangun sebuah rumah sakit untuk warga yang tidak mampu.
Kasus ini telah naik ke meja hakim. Sudah pada tahap penjatuhan hukuman. Kenhart diminta membela salah seorang pelaku, agar hukumannya berkurang.
"Dia bersalah, Chris. Dan aku harus membelanya?" Dahinya berkerut. Ini sangat tidak masuk akal.
"Ayolah, Ken. Kau sudah biasa melakukan hal itu."
"Aku belum pernah menangani kasus korupsi." Dia menutup berkas itu dan menyodorkan kembali kepada sahabatnya.
"Mereka sanggup membayar mahal." Cristian membisikan sejumlah nominal uang yang cukup menggiurkan. "Hanya mengurangi masa tahanan. Dia tetap akan di penjara, tapi hanya beberapa tahun," bujuk Christian.
"Kenapa tidak mencari orang lain. Aku tidak tertarik dengan uang itu," tolaknya halus.
Entah kenapa dia jijik dengan perilaku korupsi. Ada beberapa kasus yang ditangani seperti pembunuhan bahkan perceraian. Tapi tidak untuk penggelapan dana, apalagi itu menyangkut hak orang miskin.
"Ken, pertimbangkanlah."
Lelaki itu mengibaskan tangan, mengusir sahabatnya keluar. Ada banyak laporan yang harus dia selesaikan. Jika bisa pulang lebih awal, bukankah dia bisa melihat Tiffany di rumah?
Ah, pikirannya sekarang melayang entah ke mana.
"Kau selalu bisa diandalkan. Sampai bertemu di klub nanti malam."
Christian membanting pintu. Ini kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Sekali mereka menangani kasus pejabat pemerintahan dan berhasil, seterusnya akan kembali seperti itu.
Lumbung uang di depan mata. Harapnya, semoga si kepala batu itu berubah pikiran. Memang sulit mempengaruhi Anderson yang ini. Berbeda dengan ayah dan saudaranya yang lain, Kenhart memang kaku untuk beberapa hal.
"Terburu-buru, Chris?" sapa si cantik saat lelaki itu berjalan melewati meja kerjanya.
"Apakah kita akan bertemu di klub nanti malam?" Christian menghentikan langkah dan balik bertanya.
"Jika Kenhart bersedia. Aku tak ingin bertemu dengan orang lain selain dia."
"Bukankah setiap hari kalian bertemu. Apa tidak membosankan?"
"Sama seperti kalian, wanita tidak akan bosan melihat lelaki tampan."
Gadis itu melipat tangan di d**a. Gayanya yang angkuh membuat Christian mabuk kepayang. Sayang, dia harus bersaing dengan Anderson. Mundur teratur itu pilihan yang paling bijak.
"Aku pergi dulu. Jika kau tak mau melihatku, percuma saja aku berada di sini." Christian berjalan menjauh.
Gelak tawa sang gadis menggema di ruangan itu. Dia kembali menatap layar dan menyelesaikan laporannya yang menumpuk.
Sementara itu di dalam ruangannya, Kenhart sibuk menerima berbagai macam panggilan. Rupanya Christian dengan sengaja memberikan nomor ponselnya kepada beberapa orang yang terlibat kasus itu.
Kenhart mengumpat berkali-kali. Berhubungan dengan pejabat pemerintah memang memuakkan. Cukup, ayahnya saja yang melakukan hal itu. Dia tidak tertarik sama sekali.