Bab 2

1003 Words
Keluarga Kaisar datang di kediaman Robinson. Kedua orang tua Kaisar sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi Kaisar masih setia berada dalam mobilnya. Jari telunjuknya mengetuk kemudi mobil berkali kali. Tatapannya tajam ke arah rumah yang sebentar lagi akan mengadakan acara makan malam bersama demi membahas pernikahannya Kaisar Altair Elian, CEO muda dengan usia yang menginjak kepala tiga. Sorot mata yang tajam dengan tinggi badan hampir menyentuh angka 190cm. Kaisar berjalan masuk ke dalam rumah dengan tatapan dinginnya. Dan dari dalam rumah sudah terdengar percakapan tentang wanita yang akan menjadi istrinya. Wanita pilihan neneknya. "Itu Kaisar, maafkan dia karena tak kunjung masuk ke dalam. Kaisar orang yang sibuk, meskipun malam ini ada acara makan malam bersama calon istrinya tapi tetap saja pekerjaan yang di utamakan." Kaisar menatap datar ke arah orang orang yang ada di depannya. Sementara Melati sibuk menjelaskan apa yang di lakukan Kaisar meskipun bukan itu kenyataannya. Di samping Melati ada seorang wanita yang terus menatapnya kagum dan terpesona. Mencuri pandang dengan tingkah genitnya. Kaisar berdecih sinis, Melati menyuruh Kaisar duduk di sebelah Meisya tapi Kaisar memilih duduk di sebelah papanya. Sikap Kaisar pada Meisya membuat Melati geram tapi dia memilih untuk menahan diri. "Nenek Melati, jadi kapan tanggal pernikahan Meisya dan Kaisar akan di lakukan? Sepertinya tak baik juga jika terlalu lama menunggu, jaman sekarang anak muda pergaulannya menyeramkan. Takut Meisya dan Kaisar terlalu jauh." Bella membuka suara saat Kaisar sudah ada disana. Berbanding terbalik dengan kedua orang tua Kaisar yang sejak tadi hanya diam saja. Belum sempat Melati menjawab pertanyaan Bella, sebuah suara terdengar dari arah anak tangga. "Maaf, apa aku terlambat?" Semua orang menoleh ke sumber suara. Mata Kaisar terpaku pada wanita itu lalu senyum samar muncul di wajah tampannya. Wanita itu berjalan pelan ke ruang keluarga. Mata Kaisar tak lepas dari sosok wanita yang mengenakan gaun hitam yang simple tapi terlihat sangat elegan di pakainya. Arka yang sejak tadi mengamati Kaisar menyipitkan matanya saat melihat Kaisar terus terpaku pada sosok yang baru saja datang itu. Sedangkan Meisya mengepalkan kedua tangannya geram karena merasa jika Aura bisa menyainginya malam ini. "Ah, sepertinya kedatangan ku membuat suasana nya menjadi canggung." celetuk Aura pelan. Robert yang merasa jika perkataan Aura menyindir segera berdeham. Dia lalu membuka suara sebelum Aura mengatakan hal yang lainnya. "Perkenalkan, ini Aura Radeeya putri kedua ku yang baru saja kembali dari luar negeri." Robert mengenalkan Aura kepada keluarga Kaisar. Aura menyalami semua nya dengan sopan. Saat tiba di depan Melati, entah kenapa Aura merasakan jika Melati tak suka kepadanya. "Salam kenal nyonya Melati, semoga nyonya selalu di beri umur yang panjang." ucap Aura lembut. Kaisar mengulum senyum mendengar perkataan Aura yang seolah menyindir Melati yang sudah tua. Lalu saat ini Aura berhadapan dengan Kaisar. Kedua tatapan mereka bertemu seolah saling bicara. Jadi dia yang akan menjadi suami Meisya? Menarik sekali. batin Aura. Aura mengulurkan tangannya ke arah Kaisar, dan Kaisar menerimanya dengan senang hati. Arka dan Natasya saling tatap melihat interaksi putranya dengan Aura. Sepertinya, Kaisar mengenali putri bungsu Robert ini. Tapi dimana mereka kenal? Pikiran Arka sudah menebak kemana mana. Meisya yang tak senang dengan apa yang terjadi segera bertindak melepaskan jabat tangan antara Aura dan Kaisar. "Dia calon kakak ipar kamu, jangan macam macam Aura." Aura tersenyum tipis, lalu memilih untuk berdiri di dekat anak tangga. Tapi matanya terus terpaku pada Kaisar yang ternyata juga sedang memperhatikannya. "Pernikahan Kaisar dan Meisya akan di lakukan sebulan lagi." Tiba tiba suara Melati memecah keheningan yang terjadi. Meisya yang mendengar itu tersenyum lebar dan memeluk Melati dengan senang. Sementara Kaisar belum menjawab apa apa sampai Natasya menyenggol lengan Kaisar. "Yang menikah aku bukan nenek, aku mau menikah tiga bulan lagi. Setuju atau tidak sama sekali." Robert dan Bella yang mendengar itu sontak menatap tajam ke arah Kaisar. Mereka merasa jika Kaisar terlalu arogan saat ini. Tapi melihat keadaan saat ini membuat mereka hanya mengikuti keinginan Kaisar. Berbeda dengan Aura yang tersenyum tipis mendengar itu. Setelahnya dia memilih pergi dari sana tanpa ingin ikut campur lagi. Aura memilih pergi ke taman belakang mencari udara segar. Kaisar yang melirik kepergian Aura ingin menyusulnya tapi tangan Arka menahannya lalu menggeleng pelan. Kaisar mendengus pelan, dia memilih menuruti apa yang di mau oleh papanya. "Kaisar, tiga bulan itu terlalu lama. Sebulan saja cukup untuk persiapan pernikahan. Jika kamu nggak bisa biar nenek yang siapkan semuanya. Apa kamu nggak takut kalau Meisya ada yang mendekati karena menunggu kamu terlalu lama?" Melati mencoba menekan Kaisar dengan semua ancaman itu. Tapi bukan Kaisar namanya jika tak bisa menekan balik Melati sekalipun dia neneknya. "Jika dia wanita mahal, dia nggak akan pernah tergoda. Lagian, aku yang mau menikah, tapi kenapa nenek yang ngotot? Atau ada sesuatu yang membuat aku harus terburu buru untuk menikah?" Natasya melipat bibirnya ke dalam, jawaban Kaisar selalu mengena dan tanpa celah. Meisya yang mendengar perkataan Kaisar mulai gugup. Wajahnya terlihat panik dan itu tak luput dari pandangan Kaisar saat ini. "Kai, kita udah pacaran lama. Hampir satu tahun, kalau aku nunggu kamu tiga bulan lagi sepertinya nggak masalah. Aku juga akan menyiapkan semuanya dengan baik." Lalu Meisya berpindah pada Melati, menggenggam tangan Melati dengan erat. "Nenek, jangan memaksa Kaisar lagi untuk segera menikah dengan ku. Kami sudah bertunangan dan semua orang tahu hubungan kami. Jadi nenek nggak perlu khawatir. Selama ini kami saling menjaga satu sama lainnya." Meisya mencoba mengambil hati Melati dengan bersikap lembut kepada Melati. Berbeda dengan Kaisar yang hanya diam saja tanpa ingin menyahut lagi. Melati yang melihat kesungguhan Meisya akhirnya mengangguk. Tapi dia akan menuntut penjelasan nanti ketika di rumah. "Kalau begitu sudah di tentukan, tiga bulan lagi pernikahan akan di langsungkan. Apa nyonya Natasya tak ingin menambahkan sesuatu?" tanya Bella berusaha mengajak bicara calon besannya itu. Natasya tersenyum dengan gaya anggunnya. "Aku hanya mengikuti apa yang putra ku inginkan. Semuanya akan di atur dengan baik. Karena Kaisar meminta tiga bulan jadi aku hanya akan menyetujuinya. Aku berharap Kaisar nggak pernah salah memilih istri. Karena menikah itu hanya sekali, seumur hidup. Dan keluarga Eliano hanya mempunyai satu wanita dalam hidupnya. Bukan begitu Kaisar?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD