Kaisar masih terus memperhatikan Aura dari luar kamar. Tapi saat melihat Aura sadar jika ada yang memperhatikannya, Kaisar buru buru pergi dari depan kamarnya. Dia tak ingin membuat Aura marah atau benci kepadanya.
Aura menoleh keluar kamar, lalu tersenyum samar. Sejak tadi, dia melihat jika Kaisar tengah mengintip dari luar. Terlihat jelas dari pantulan cermin di kamarnya yang berhadapan dengan pintu.
"Kaisar, kenapa kamu malah penasaran dengan hidupku? Bukannya kamu harusnya nggak peduli soal aku?"
Aura berjalan ke arah pintu lalu menutupnya rapat. Dia membersihkan dirinya perlahan karena bekas luka tusuk kemarin masih sedikit basah.
"Obat yang di berikan Aunty Amara manjur sekali. Belum genap dua hari sebagain sudah pulih." gumam Aura.
Dia melihat punggungnya yang masih di jahit. Meskipun Amara bukan dokter modern sepenuhnya tapi teknik pengobatan Amara tak kalah dengan dokter modern.
Drrtt....
Ponsel Aura bergetar dan itu telfon dari Jasmine.
"Ada apa?" tanya Aura tanpa basa basi.
Kenapa baru angkat telfon sekarang? Kamu kemana aja? Aku khawatir banget tahu nggak.
Aura menjauhkan ponselnya dari dekat telinga karena mendengar suara Jasmine yang membuat telinganya berdengung sakit.
Aura lalu menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin.
"Aku udah di rumah, tapi aku lebih baik nggak disini. Aku nggak akan bebas keluar kalau masih di rumah ini."
Aku carikan rumah sendiri. Dan satu lagi, aku mau kasih tahu kamu mobilmu ada sama Kaisar. Kemarin Reynald menghubungiku. Jelas Jasmine pada Aura.
Aura memejamkan matanya mendengar itu. Sudah Aura duga akan seperti ini. Dia lalu memberitahu Jasmine untuk mengirim alamat Kaisar kepadanya. Meskipun Kaisar tengah ada di rumah keluarganya. Tapi lebih baik dia menemui Kaisar di luar.
"Aku tutup dulu, ada orang lain di luar kamar."
Aura segera mematikan sambungan telfon nya, dan pura pura keluar dari kamarnya.
Ceklek.....
Bruk....
Tiba tiba seorang pelayan ambruk masuk ke dalam kamarnya.
Aura yang melihat itu seketika mempunyai ide agar dia bisa keluar dari rumah itu dengan cepat. Terlebih saat ini ada Kaisar. Mereka tak akan macam macam dengan nya.
"Kamu ngapain? Nguping? Mata matain aku?"
Sengaja sekali suara Aura di buat sekeras mungkin. Kaisar yang lebih dahulu mendengar suara Aura berteriak menghentikan sarapannya.
Kaisar sendiri sebenarnya tak minat dengan sarapan itu, rasanya benar benar tak bisa untuk di cerna.
Belum sempat Kaisar berdiri, Aura sudah turun dan terlihat menyeret seseorang.
Bruk....
Aura melempar begitu saja pelayan itu ke bawah kaki Robert.
"Aura, apa apaa kamu? Nggak lihat disini sedang ada tamu!"
Nada bicara Robert yang datar tak membuat Aura takut.
Pelayan yang baru saja kepergok sedang mengawasi Aura terlihat gemetar ketakutan.
"Siapa yang suruh dia buat nguping di depan kamarku?"
Mata Bella membola karena pelayan itu ketahuan. Dia sudah gelisah di tempatnya dan semua itu tak luput dari pandangan Kaisar.
Kaisar memilih tetap duduk di tempat nya sambil menunggu apa yang akan Aura lakukan setelah ini.
Pelayan itu mulai bangun berdiri setelah bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Aku tidak menguping nona, aku di suruh nyonya Bela memanggil nona untuk turun sarapan."
Aura tersenyum sinis, dia lalu membuka ponselnya dan menunjukan sebuah video dari ponselnya.
"Lihat ini, kamu ada di depan kamarku selama hampir sepuluh menit. Padahal aku sedang mandi dan berganti pakaian. Lalu apa yang kamu lakukan di depan sana? Kamu nguping apa? Mastiin kalau aku nggak ngrencanain sesuatu?"
Mata pelayan itu melebar saat Aura menunjukkan sebuah rekaman CCTV dari ponselnya.
Brak....
"Lancang banget kamu Aura pasang CCTV di rumah ini, kamu pikir kamu siapa?" bentak Meisya
Aura menyilangkan kedua tangannya di depan d**a lalu menatap Meisya dengan datar.
"Dari awal aku kembali ke rumah ini, nggak mungkin aku nggak punya persiapan. Apa kalian pikir kalian bisa memanfaatkan ku setelah aku bisa sukses tanpa kalian? Terus kalian pikir aku bodoh jika aku kembali dan membiarkan kalian menyiksaku lagi seperti dulu? Kalau kalian pura pura lupa, aku akan kembali ingatkan kalian soal itu!"
Ketiga orang yang ada di depannya saat ini gelagapan. Terlebih disana ada Kaisar yang sejak tadi mengamati mereka semua.
"Aura, mungkin pelayan tadi takut waktu akan manggil kamu untuk makan. Jadi dia berdiri di luar buat nunggu kamu yang keluar lebih dahulu."
Bella mencoba bersikap lembut kepada Aura, tapi itu semakin membuat Aura jijik kepada Bella.
"Lalu kalau aku nggak keluar kamar sampai malam, pelayan itu tetap berdiri di depan pintu kamarku?"
Kicep sudah, Bella tak lagi bisa membantah omongan Aura. Kedua tangannya mengepal karena menahan marah. Berbeda dengan Kaisar yang tersenyum samar melihat permainan Aura.
"CK, sudah lah.... lebih baik aku keluar dari rumah ini. Dan jangan pernah ganggu aku lagi!"
Aura melenggang pergi dari sana, meninggalkan rumah itu dengan santai.
Meisya yang panik langsung menghadang langkah Aura agar tak pergi dari sana. Jika Aura pergi, bagaimana pernikahannya dengan Kaisar nanti.
"Kamu nggak bisa pergi dari sini."
Aura berhenti di depan Meisya, tapi kemudian dia mencondongkan badannya tepat di sisi telinga Meisya.
"Jangan halangi aku, kalau kamu tetap nekad jangan salahkan aku, kalau aku bakal laporin kamu ke polisi dengan tuntutan percobaan pembunuhan!" bisik Aura pelan.
Tubuh Meisya mundur ke belakang dengan wajah yang berubah pucat pasi.
Kaisar yang melihat itu menyipitkan matanya curiga.
Melihat Meisya yang ketakutan membuat Kaisar berspekulasi lain.
Dia yang nyuruh orang buat habisi Aura kemarin? batin Kaisar.
Sorot mata Kaisar berubah menjadi tajam, mengikuti langkah kaki Aura yang keluar dari rumah besar itu.
"Nggak mungkin dia tahu kalau aku yang suruh para preman itu." gumam Meisya lirih.
Robert sejak tadi diam karena berpikir bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada Kaisar.
Brak ....
"Sepertinya sarapan ku sudah selesai. Aku akan pulang," ucap Kaisar santai.
Mata Meisya melotot, begitu juga dengan Bella yang kembali tersadar jika disana masih ada Kaisar.
Meisya menghampiri Kaisar, memegang tangan Kaisar tapi Kaisar langsung menepisnya.
"Kai, kok mau pulang? Kan kamu mau ajak aku pergi. Sesuai yang kamu mau, aku udah bikinin sarapan kamu juga. Kenapa kamu malah pulang?"
Meisya merengek pada Kaisar lalu Kaisar berdecak kesal.
"Aku udah nggak mood, apalagi lihat kalian semua yang nggak becus urus pelayan di rumah ini. Bisa bisanya pelayan rendahan kayak dia ikut campur urusan majikannya? Kalian terlalu manjain dia!"
Setelah mengatakan itu, Kaisar pergi dari sana. Meisya tak bisa lagi mencegah Kaisar pergi, karena semakin Kaisar di paksa dia akan semakin marah.
"Ahhh, Aura....sialan. Ini semua gara gara kamu Aura!!" teriak Meisya keras.
Meisya beralih pada pelayan itu, menamparnya dengan keras.
Plak....
Plak....
"Pelayan sialan, kenapa bisa kamu ketahuan hah? Lebih baik kamu pergi dari sini."
Meisya mengusir pelayan itu untuk pergi. Pelayan yang baru saja kena pukulan itu tak berani membantah. Dia bergegas pergi dari sana.
"Meisya tenanglah, kamu terlalu ceroboh hari ini!" tegur Robert
Meisya menghentakkan kakinya lalu pergi naik ke dalam kamarnya.
"Sepertinya nggak bisa pakai cara halus!"
#
Di luar gerbang, Kaisar sempat berjingkat kaget karena tiba tiba ada sebuah tangan menengadah meminta sesuatu pada Kaisar
"Astaga, kamu ngagetin aku!" dumel Kaisar kesal.
Aura mendengus kesal melihat tingkah Kaisar yang menurutnya terlalu lebay.
"Apa itu ekspresi wajahmu? Kamu menghina ku?"
"Kamu ngrasa gitu?"
Aura berhasil membalikkan kata kata Kaisar dengan mudah.
Kaisar yang kesal pun ingin menjitak Aura tapi dia tahan saat ini.
"Ngapain kamu disini?"
" Kunci mobilku!" jawab Aura tanpa basa basi.
Kaisar baru ingat jika mobil Aura di bawa Reynald ke basement apartemen nya.
Kaisar tak menjawab, dia melangkah maju mendekati Aura.
Aura yang sadar jika ada alarm bahaya dari Kaisar pun bergerak mundur. Dia tiba tiba menjadi panik karena Kaisar.
"Ka-kamu mau ngapain?"
Aura menahan d**a Kaisar yang posisinya saat ini terlalu mepet dekat dengan nya.
"Ikut aku kalau kamu mau ambil mobilnya!" ucap Kaisar lirih
Tapi wajahnya sudah mendekat ke wajah Aura.
Aura yang panik tiba tiba mundur dengan cepat dan meringis pelan saat punggungnya menabrak mobil Kaisar.
Duk...
"Aw....."
Mata Kaisar membola, dia baru ingat jika punggung Aura masih terluka.
Tapi dari pantulan kaca mobil, terlihat jika ada orang keluar dari dalam rumah Robinson.
Kaisar menarik tangan Aura lembut, membuka pintu mobilnya lalu memaksa Aura masuk ke dalam mobilnya.
"Mau kemana?"
to be continued