Alice menghampiri Lukas yang tengah merenung sambil menyesap sebatang rokoknya yang entah sudah keberapa.
Semenjak Oivia pergi hanya rokok dan alkohol yang dapat mengobati gundahnya. Menjadi temannya di kala kesepian, dan merasa stress dengan masalah yang ada.
Tanpa permisi Alice yang baru datang langsung merebut rokok yang ada ditangannya, dan menginjaknya di tanah.
"Sayangi jantungmu, Oliver masih butuh ayahnya. Oliver sudah cerita atas semua perbuatan mama dan neneknya padaku. Anak kecil diperlakukan seburuk itu? Dan kamu diam saja?"
"Matamu sampai sembab." Lukas mengalihkan pembicaraan itu sambil mengusap wajah bengkak Alice akibat terlalu lama menangis. Wajah cantik, yang mempunyai tatapan serta aroma yang sama dengan Olivia.
Sifatnya juga sama, semuanya sama! Lukas rasa ia telah gila karena terlalu merindukan Olivia.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab aku! Aku paling benci anak kecil disakiti!" Bentak Alice tegas.
"Ayahku punya penyakit jantung. Dia akan mati jika aku bertengkar dengan mama dan istriku, serta membawa cucunya minggat dari sana."
Alice baru ingat tentang itu. Ayah mertuanya mempunyai penyakit jantung. Sekarang Alice paham kenapa Lukas masih bertahan. Ternyata Lukas yang sekarang masihlah Lukas yang sama dengan empat tahun lalu. Dia pria baik dan setia.
Tapi malam ini Alice akan mematahkan kata setia itu. Karena Alice akan menggodanya, sampai dia bisa merebut Lukas kepelukannya dari tangan Gracia.
Alice tiba-tiba menarik Lukas mendekat ke arahnya, dan memeluk lehernya dengan mesra. Ia mendekatkan wajah mereka hingga beberapa centi lalu mendaratkan satu kecupan disana.
"Apa yang kamu lakukan? Jaga batasan! Aku disini hanya karena Oliver."
"Aku menyukaimu."
Lukas tersenyum sinis, dan berusaha melepas pelukan Alice yang semakin erat. Ternyata Alice sama saja dengan klien-klien lain yang mencoba menggodanya selama ini. Namun entah mengapa berhadapan dengan Alice tidak membuatnya semarah biasanya.
"Jangan menggodaku. Hatiku sudah dimiliki wanita lain. Ragaku juga sudah menikah. Tidak ada yang bisa kamu harapkan."
"Jadi raga dan hatimu dimiliki orang yang berbeda? Kalau begitu biarkan aku memiliki bibirmu." Alice kembali berjinjit untuk melumat bibir sexy Lukas dengan lembut.
Lagi-lagi ciuman Alice mengingatkannya kepada Olivia. Kenapa bisa ada orang yang terasa sama, namun dengan wujud yang berbeda?
"Hanya bibirku?"
"Sebentar lagi aku akan merebut hati dan ragamu dari siapapun pemiliknya. Aku sudah berhasil merebut hati anakmu kan? Lihat saja nanti!"
"Apa tangisanmu tadi sebuah kebohongan? Hanya untuk menarik simpatiku?"
"Apa ada kebohongan di mataku?" Alice menatapnya lekat sambil tersenyum manis.
"Tapi tetap saja, seleraku bukan w*************a dan genit sepertimu."
"Lalu yang seperti apa? Katakan! Aku akan menjadi sepertinya!"
"Memangnya kamu bunglon yang bisa berubah-ubah?"
"Kalau begitu aku cukup menjadi diriku yang penggoda ini kan? Salah siapa kamu tampan dan baik. Anak kamu lucu lagi. Jangan salahin aku, kalau tiba-tiba aku pengen jadi ibunya."
Alice tertawa sambil menatap Lukas yang perlahan mulai tersipu karena ucapannya. Ternyata meski wajah mereka berbeda, hati tidak bisa berbohong. Jika biasanya Lukas sangat benci wanita seperti itu, dengan Alice ia justru merasa nyaman.
"Aku peringatkan, hatiku tidak akan mudah dimiliki. Hati ini sudah dimiliki oleh ibunya Oliver. Kalaupun aku tertarik, dia akan luntur saat orangnya kembali."
"Jadi kamu baru saja mengakui bahwa ibu dari Oliver, dan orang yang kau cintai, bukan Gracia?" Alice bersikap semakin agresif dengan merapatkan tubuh mereka.
"None your bussiness!"
"Tapi kamu belum tahu aku kan? Kalau udah tahuuu, mungkin kamu tidak akan bisa berpaling dariku!"
"Terserah."
"Tidur di kamar bawah, aku mau tidur sama calon anakk!" Genitnya sambil menepuk d**a tegap Lukas dengan kekehannya.
Namun sebelum wanita itu benar-benar beranjak, Lukas menahan tubuhnya. Ia memojokkan tubuh wanita itu kepada pembatas balkon lalu menciumnya dengan bebas. Melumat bibir Alice dengan sangat ganas dan tak memberinya celah untuk berontak.
Rasa bibir ini, benar-benar ia rindukan!
Tangan Lukas juga bermain di area pantatnya. Meremasmya kuat, dan perlahan menelusupkan jemarinya di balik gaun yang Alice kenakan.
Alice memeluk erat tubuh Lukas sambil menutup mata. Ia jelas menikmati setiap pagutan itu. Sapuan lidahnya yang begitu basah, hangat, dan sangat Alice rindukan. Belum lagi belaian Lukas didalam sana. Benar-benar membuatnya mendamba hal lebih, yang tak pernah ia lakukan lagi sejak empat tahun lalu.
Andai Gracia dan Paula tidak membunuhnya, mereka pasti sudah menikah sekarang. Mereka pasti sudah bahagia.
"Aku pasti sudah gila!" Lukas tiba-tiba melepas pagutan mereka dan rengkuhannya dengan raut frustasi.
Disaat Lukas ingin beranjak, Alice buru-buru membalas ciuman Lukas dengan serangan cepat. Ia tidak ingin malam ini berlalu begitu saja! Alice juga menarik kedua tangan Lukas untuk memeluk pinggangnya dengan mesra.
"Sudah kubilang kan, kamu akan segera jatuh kepelukanku!" Bisik Alice persis didepan bibir sexy sang pria.
Lukas hanya diam sambil memandangi kedua bola mata itu lagi. Tatapannya benar-benar sama dengan wanitanya. Katakanlah dia gila, tapi melihat sosok Alice membuat rasa rindunya kepada Olivia semakin besar dan menggebu.
Lukas pun kembali mendekap Alice dan membalas ciuman itu kembali dengan lebih panas dari sebelumnya. Ia mengangkat tubuh itu untuk masuk ke dalam ruangan, lalu menindihnya disebuah sofa. Merapatkan tubuh mereka hingga bertumpuk dengan intim.
Lukas menciumi lehernya, meninggalkan beberapa jejak kemerahan, serta menelusuri seluruh tubuh Alice dengan jemarinya.
Namun sebelum berbuat lebih jauh, ponsel Lukas berbunyi nyaring.
"Jadi kamu mau mengangkat telfon, atau b******u denganku?" Alice memeluk pinggang Lukas dengan sangat mesra.
"Ini telfon penting."
"Dasar pria payah!" Dercak Alice kesal, lalu mendorongnya menjauh. Dirinyapun menaiki tangga menuju kamar Oliver berada. Jadi Lukas lebih memilih mengangkat panggilan dari Gracia? Menyebalkan! Awas saja!
*****
Gracia melempar ponselnya ke ranjang setelah berbicara dengan suaminya yang terdengar acuh. Padahal Lukas tak pernah seperti ini. Dia selalu menurut saja dengan apa yang ia katakan.
Bahkan meski mereka dipaksa menikah, Lukas tidak pernah mendekati wanita lain. Ia selalu setia pada pernikahan mereka selama empat tahun ini. Lukas selalu pulang tepat waktu sesuai permintaannya.
Kenapa sekarang Lukas membangkang?
"Oliver menyebalkan sekali! Kenapa harus meminta menginap di hotel? Anak itu selalu menganggu waktu berduaku dengan Lukas!"
"Kenapa sayang?" Paula tiba-tiba menghampiri Gracia dan memeluk menantu kesayangannya itu.
"Oliver meminta menginap di hotel Ma! Aku jadi tidak bisa berdua dengan Lukas malam ini. Bagaimana aku bisa hamil jika begini? Anak itu menyebalkan!"
"Oliver memang sama saja dengan Olivia! Seharusnya kita lenyapkan dia bersama ibunya empat tahun lalu. Anak itu tidak akan aku anggap sebagai cucuku! Dia tidak akan menjadi pewaris perusahaan."
"Lalu bagaimana Ma? Jika Oliver masih ada, aku tidak akan bisa punya anak! Oliver selalu menempel pada Lukas!" Gerutunya frustasi.
"Mama akan mengurusnya." Sahut Paula penuh rencana.
"Mama kenapa bicara ingin menjadikan Alice menantu?"
"Kamu tau arti basa-basi nggak sih? Namanya juga klien besar, ya harus pintar cari muka!" Ujar Paula sinis.
"Mama akan tetap sayang sama aku kan? Sampai kapanpun?"
"Kamu tenang aja, jangan berpikir yang aneh-aneh. Mending kamu pikirin caranya hamil, supaya Lukas cinta sama kamu! Supaya Lukas mau menerima pernikahan ini sepenuhnya!"
*****