Taktik | Bab 9

1022 Words
Dari awal, Luna sudah tahu satu hal yang tidak boleh ia rasakan, tapi rasanya tetap tumbuh, liar, menyala di dadanya setiap kali Darren lewat di depan matanya. Perjodohan keluarga itu? Hanya cara halus untuk merebut laki-laki yang seharusnya bisa ia dapatkan sendiri. Dan menurut Luna… apa pun yang “seharusnya” jadi miliknya, tidak ada yang boleh mengambilnya. Termasuk Aurora. Hari itu, rumah keluarga Yunandhra sunyi. Aurora sedang ke ruang desain di belakang, dan Darren baru datang dari kantor Papah mereka. Luna menunggu momen ini sejak seminggu terakhir, ketika ia sadar Darren mulai nyaman sama Aurora dan menerima perjodohan ini. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Meski Aurora bersikap aneh di depan Papahnya dengan menolak terang-terangan, nayatanya Darren malah makin mengejar Aurora agar pertunangan ini berhasil. Hak yang membuat Luna khawatir. Darren baru melepas jas ketika suara Luna muncul dari balik sofa, manis tapi menusuk. “Capek ya, Darren?” suaranya lembut, terlalu lembut untuk seorang calon kakak ipar. Darren menoleh cepat, agak kaget. "Ini kamu Lun?" Karena wajahnya yang kembar, laki-laki itu sedikit kesulitan untuk membedakan antara Aurora dan Luna. Wanita itu menghembuskan nafas pelan. "Iya ini aku." Luna tersenyum manis. "Kenapa? Kamu berharap apa Aurora bakal bersikap kayak gini ke kamu? Dia kan nggak bakal bisa ngertiin perasaan kamu." Tapi pancingan itu tidak berlaku bagi Darren. Dia mengalihkan pandangannya. “Kamu ngapain di sini sendirian?” mengalihkan topik secara paksa. Luna berdiri, mendekat perlahan. Rambutnya ia biarkan jatuh sedikit berantakan, seperti habis tidur siang, padahal itu sengaja. Bajunya oversized, tapi bagian lehernya sengaja turun sedikit. Tidak vulgar, tapi cukup untuk bikin Darren nggak nyaman. “Atur napas dulu.” Luna menyentuh bahu Darren. “Kamu kelihatan capek banget.” Darren menegakkan tubuh, sedikit menyingkir. “Aku… nggao apa-apa kok.” “Tapi kamu nggak kelihatan baik.” Ada senyum kecil muncul di bibir Luna, senyum yang menyimpan niat. Darren menelan ludah. Ia mundur satu langkah. “Luna, jangan kayak gini. Aurora bisa—” “Aurora bisa apa?” Luna memotong dengan cepat. “Kamu takut dia salah paham? Atau… kamu takut aku beneran bikin kamu mikir ulang?” Darren menghela napas panjang. “Aku sama Aurora sudah—” “Sudah dijodohkan,” Luna menyelesaikan kalimat itu. “Tapi jodoh tuh bukan berarti cinta, kan?” Dia mendekat lagi. “Coba jawab jujur,” suara Luna lebih pelan, dekat sekali di telinga Darren. “Kalau aja… Aurora nggak dijodohin sama kamu duluan, apa kamu bener-bener ngelirik dia?” Darren terdiam. Bahunya tegang. Matanya lari ke samping. Dan itu cukup untuk Luna. “Kamu mikir, berarti jawabannya jelas.” Luna tersenyum kecil, kemenangan halus muncul di wajahnya. “Kamu cuma belum ngaku aja.” Darren akhirnya bersuara, pelan. “Luna… aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu.” Luna mengangkat alis. “Tapi kamu nggak bilang ‘aku cinta Aurora’, kan?” Darren memijat kening. “Ini nggak etis.” “Tapi kamu nggak bilang ‘nggak mau’.” Itu dia. Darren tidak menolak. Ia hanya menjaga jarak. Dan kesalahan terbesar seorang laki-laki adalah berpikir jaga jarak cukup untuk menghentikan perempuan seperti Luna. Luna mendekat cepat, menahan lengan Darren. “Gini aja,” katanya pelan. “Coba kamu jujur satu kali aja. Lihat mataku, dan bilang kalau aku nggak bikin kamu goyah sedikit pun.” Darren menatap Luna. Hanya dua detik. Tapi dua detik itu fatal. Luna melihatnya. Luna tahu cara baca mata orang. Dan Darren baru saja memberikan celah. “Kamu lihat?” Luna berbisik. “Aku cuma butuh kamu jujur.” Darren memotong nafasnya, menolak dalam hati, tapi tetap diam. Luna makin mendekat, jaraknya tinggal beberapa sentimeter. Dan Darren tidak mundur. Tidak. Dia hanya berdiri, dan itu artinya ia tidak benar-benar menolak. Di belakang pintu ruang tengah, Aurora berhenti. Tangan yang membawa map desain gemetar ketika mendengar suara Luna… terlalu dekat. Terlalu lembut. Terlalu personal. Aurora membuka sedikit pintu dan melihatnya. Luna. Berdiri sangat dekat dengan Darren. Meski calon tunangannya itu memalingkan wajah, tapi tetap saja wajah itu tidak menunjukkan orang yang ingin pergi. Itu wajah orang yang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Aurora merasa perutnya jatuh. Tenggorokannya menutup. Tapi ia tetap menatap. Ternyata, kenyataan bahwa keduanya berselingkuh di mulai dari sini. Darren, yang di kehidupan lamanya adalah tunangannya pergi meninggalkannya demi hidup damai bersama sang kakak. Padahal ia sangat percaya dengan janji-janji mabis laki-laki itu. “Kenapa kamu diem, Darren?” Luna berkata, suaranya manja. “Kamu punya kesempatan buat dorong aku pergi, tapi kamu nggak lakuin.” “Aku nggak mau kena masalah Lun,” Darren akhirnya berkata. “Tapi kamu mau aku.” Luna tersenyum sinis. “Beda tipis, Darren.” Aurora menutup mulutnya agar tidak terdengar. Meski sudah melihat keduanya berselingkuh di kehidupan lamanya, pada kenyataannya Aurora belum siap. Tubuhnya gemetar karena amarah. Pengkhianatan yang membuat dirinya dibunuh dengan kejam. Dan itu saat Luna melakukan sesuatu yang Aurora tidak siap lihat. Luna menyentuh rahang Darren. Perlahan. Dengan percaya diri seolah Darren adalah miliknya. Darren memegang pergelangan tangan Luna, bukan untuk mendorong, tapi menahannya… ragu. “Maksud aku… jangan kayak gini, Luna…” “Tapi kamu nggak lepasin tanganku.” Kalimat itu seperti tembakan di d**a Aurora. Darren akhirnya menarik napas panjang, frustrasi. “Luna, hentikan.” “Kalau kamu beneran mau aku berhenti,” Luna menantang, “bilang ke aku, sambil lihat mataku, kalau kamu nggak penasaran sama aku.” Darren menatap Luna. Dan tidak ada kata “tidak”. Tidak ada penolakan. Tidak ada jarak. Hanya keheningan yang terlalu jujur. "Kamu jatuh cinta sama aku Darren," Luna berbisik dengan nada lembut. "Kamu liat Aurora sebagai aku karna wajah kami kembar kan? Tapi kenyataannya, kamu lebih suka waktu kamu bareng aku daripada sama Aurora kan?" Aurora menutup mata. Ia mundur beberapa langkah, tapi kakinya gemetar. Map desain terjatuh ke lantai tanpa suara. Untuk pertama kalinya… ia merasa kalah. Bukan karena Darren selingkuh, tapi karena Luna tahu cara menyentuh luka yang Aurora belum berani akui: bahwa mungkin dari awal… Darren bukan jatuh padanya. Mungkin selama ini Darren hanya menerima Aurora karena keadaan. Aurora terisak pelan, tanpa suara. Dan dari dalam ruangan, Luna tersenyum kecil, senyum kemenangan yang ia sembunyikan dari Darren. Karena rencananya berjalan sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD