Part 1. Perayaan Mati Rasa
"Dania mengalami panic attack akut semalam, Kalila. Dia hampir menyakiti dirinya sendiri. Aku harus membawanya ke rumah sakit dulu untuk diperiksa sebelum membawanya ke sini. Jangan mulai berpikiran kotor. Aku hanya menjaga amanah rahasia mendiang sahabatku. Masuk ke kamarmu, jangan membuat keributan."
Kalila memijat pelipisnya karena kepalanya terasa berputar. Dia mencengkeram erat meja di dapur agar tidak terjatuh. Kalimat yang diucapkan Keanu, suaminya, semalam, kembali berputar di kepalanya, membuat logikanya hilang dan darahnya mendidih.
Cemburu? Pasti! Memangnya istri waras mana yang rela suaminya pulang membawa wanita lain dengan alasan kemanusiaan sekalipun?
“Tidak, jangan sekarang pusingnya! Nanti saja kalau sudah tenang. Sebentar lagi acara penting dan aku tidak boleh kecewakan Keanu dan mama. Ini juga menyangkut nama baik Reina Katering! Ayo, Kalila, kamu kuat! Kamu pasti bisa!!”
Kalimat positif itu Kalila ucapkan dengan lirih, menyemangati diri sendiri agar tidak semakin terlarut dalam kesedihannya.
Dua jam lagi, gala makan malam untuk para investor Syailendra Corp. akan dimulai di aula terbuka rumah ini. Keanu Syailendra, suaminya, meminta Kalila memimpin langsung penyajian menu utama, Smoked Wagyu Beef dengan Saus Truffle Berry. Sebuah menu prestisius andalan kateringnya yang harus sempurna demi menjaga gengsi sang konglomerat.
Kalila menyetujui itu walau hatinya masih sakit. Sebagai seorang pemilik catering premium, dapur adalah istananya. Tempat di mana dia akan memegang kendali penuh atas rasa. Tapi malam ini, di dapur megah kediaman Syailendra yang seluas rumah tipe tiga puluh enam, Kalila merasa seperti seorang prajurit yang kehilangan senjatanya.
Kalila mengambil sendok perak kecil. Dia menciduk sedikit saus berwarna ungu pekat yang masih meletup-letup di atas kompor, meniup sebentar kemudian membawanya ke ujung lidah.
Hambar.
Kalila membeku. Jantungnya berdesir aneh. TIdak percaya, dia mengecap lagi kali ini lebih banyak membiarkan saus itu memenuhi rongga mulutnya. Tidak ada rasa manis dari beri, tidak ada gurih dari kaldu sumsum, bahkan tidak ada jejak asin dari garam yang tadi ia tuangkan dua sendok penuh. Lidah Kalila terasa kebas seperti mati rasa setelah disuntik anestesi lokal.
"Nyonya Kalila? Apakah saus truffle-nya sudah siap dikentalkan?" tanya Asti, kepala asisten dapurnya, dengan raut cemas.
Kalila buru-buru menurunkan sendok. Tangannya di bawah celemek linen abu-abu mulai bergetar halus. "A-Asti, tolong cicipi ini."
Asti mengambil sendok baru, mencicipinya sedikit dan seketika matanya membulat. "Nyonya! Ini... ini asin sekali! Rasa beri-nya terlalu pekat sampai getir!"
Kalila mundur selangkah hingga pinggulnya membentur tepian meja marmer. Kepalanya kembali berputar hebat. Dia tidak bisa mengecap rasa bukan karena masakannya yang salah, melainkan lidahnya yang menolak berfungsi. Kilasan kejadian semalam mendadak datang lagi dan berputar di kepalanya.
Semalam, pukul dua dini hari, Kalila terbangun oleh deru mobil Keanu. Saat dia turun untuk menyambut suaminya, ternyata Keanu tidak sendirian. Keanu menuntun Dania, mantan pacarnya yang kini menjanda, masuk ke rumah mereka. Pakaian Dania berantakan, matanya sembab dan wanita itu terus menggumamkan nama mendiang suaminya, sahabat karib Keanu.
“.... Masuk ke kamarmu, jangan membuat keributan."
Kalimat itu memang pendek, tapi tajamnya sanggup menguliti harga diri Kalila yang sudah tiga tahun dia pertahankan demi menjadi istri sempurna. Kalila memang tidak membuat keributan. Dia gegas masuk ke kamar, mengunci pintu dan menangis dalam diam hingga dadanya sesak.
Stres pascatrauma tadi malam ternyata bermanifestasi secara instan hari ini, tubuhnya mogok, dan indra perasanya mati secara psikologis di saat yang sangat tidak tepat.
“A-aduuh! Kepalaku…!” Kalila menjambak rambutnya membuat Asti panik.
"Nyonya? Kita harus memperbaikinya sekarang, waktu kita tinggal satu jam!" Suara Asti menarik Kalila kembali ke realitas.
Kalila menarik napas pendek yang terasa mencekik parunya. "Asti... tolong ambil alih takaran garam dan gulanya. Aku... aku akan mendikte langkahnya. Lidahku sedang tidak bersahabat hari ini."
*
Satu jam kemudian, aula terbuka kediaman Syailendra sudah dipenuhi oleh denting gelas kristal dan obrolan kelas atas para taipan bisnis.
Kalila berdiri di sudut koridor yang menghubungkan dapur dan aula. Dia mengenakan gaun brokat berwarna hitam, rambutnya disanggul anggun. Wajahnya yang pucat disamarkan oleh lapisan foundation, bedak dan perona pipi juga lipstik warna merah semangka.
Dari kejauhan, dia melihat Keanu. Suaminya tampak luar biasa tampan dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama. Di sampingnya, berdiri Dania yang mengenakan gaun hitam sederhana, dengan alasan masa berkabung, tapi memancarkan aura ringkih yang memikat.
Keanu sesekali memegang siku Dania, memastikan wanita itu baik-baik saja di tengah keramaian. Sebuah gestur protektif yang tak pernah Kalila dapatkan selama tiga tahun menyandang status sebagai Nyonya Syailendra.
"Menu utama malam ini disiapkan khusus oleh istri saya, Kalila," suara bariton Keanu menggema melalui mikrofon, menyambut para tamu saat hidangan mulai disajikan. "Dia memastikan setiap rasa memiliki standar tertinggi Syailendra."
Kalila meremas jemarinya sendiri di balik pilar. Jantungnya berpacu gila. Di atas meja panjang, para investor mulai memotong daging wagyu berlapis saus buatan dapurnya.
Satu detik. Dua detik.
Kalila melihat seorang investor senior di meja utama tiba-tiba meletakkan garpunya dengan dahi berkerut. Pria paruh baya itu batuk kecil, lalu meminum air putihnya dengan terburu-buru. Wajah Keanu yang tadinya penuh senyum formal, perlahan menegang saat melihat beberapa tamu lain melakukan hal yang sama, beberapa bahkan berbisik dengan raut wajah tidak nyaman.
Saus truffle yang dikoreksi Asti dalam kepanikan ternyata tetap gagal menyelamatkan hidangan karena Kalila salah mencampur takaran bahan dasar di awal akibat kehilangan kepekaan rasa.
"Ada apa dengan saus ini? Rasanya aneh... seperti ada takaran yang salah," bisik salah satu istri investor yang suaranya cukup terdengar sampai ke telinga Keanu.
Wajah Keanu berubah memerah. Tatapan matanya menyapu ruangan, mencari sosok Kalila, dan menemukannya sedang mematung di dekat pilar koridor. Tanpa memedulikan para tamu yang mulai mengeluh, Keanu melangkah lebar mendekati istrinya. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Kalila terasa begitu kuat hingga tangannya mati rasa.
"Ikut aku," desis Keanu, menyeret Kalila masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang sepi.
Begitu pintu tertutup, Keanu menghempaskan kasar tangan Kalila. Matanya menyala oleh amarah yang tertahan. "Apa yang kau lakukan, Kalila? Kau ingin memermalukanku di depan para investor utama?"
"Keanu, aku... aku bisa jelaskan. Saus itu…"
"Kau sengaja, kan?!" potong Keanu, suaranya meninggi satu oktaf, memotong kalimat Kalila tanpa mau tahu alasan sebenarnya, "kau sengaja merusak makan malam penting ini karena kau cemburu pada Dania? Kau ingin membalas dendam padaku karena aku membawa Dania menginap semalam?"
Kalila menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sengaja? Kamu pikir aku serendah itu sampai memertaruhkan nama baik bisnis yang juga menghidupiku?"
"Lalu apa alasannya?! Kamu kan koki profesional! Bagaimana mungkin makanan seburuk itu bisa lolos dari dapurmu kalau bukan karena pikiranmu yang dipenuhi cemburu buta yang kekanak-kanakan itu, hah?!" Keanu menunjuk wajah Kalila dengan kasar.
"Dania sedang sakit, Kalila! Dia butuh dukungan! Dan kau... kau malah sibuk merengek mencari perhatian dengan cara merusak reputasi keluarga Syailendra di depan umum!"
Plak!!!
Bukan tamparan fisik yang menyakiti Kalila, tapi kata-kata Keanu yang menghancurkan sesuatu di dalam d**a Kalila. Kesabaran, itu sesuatu yang selama tiga tahun ini dia jaga demi nama baik.
Kalila merasakan lambungnya mendadak bergejolak hebat. Rasa mual psikosomatis yang luar biasa naik ke kerongkongannya. Tangannya mulai bergetar begitu hebat hingga dia harus mencengkeram pinggiran meja kerja Keanu agar tidak tumbang.
Di depannya, wajah Keanu tampak kabur. Entah apa yang Keanu katakan. Suara bentakan suaminya berubah menjadi dengungan panjang yang menyakitkan di telinganya.
Kalila tidak menangis. Air matanya justru menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang teramat sangat, yang menjalar dari ujung kaki hingga ke hatinya.
"Kenapa diam saja? Kau tidak punya jawaban?!" cetus Keanu lagi, menatap istrinya dengan pandangan meremehkan.
Kalila menarik napasnya yang pendek. Dia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Keanu. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada binar pemujaan atau ketakutan di mata Kalila. Mata itu kini sedingin es di kutub utara.
"Ya," cicit Kalila. Suaranya tidak lagi bergetar. Suara itu terdengar datar dan sangat sopan. "Kamu benar, Keanu. Aku yang salah. Maafkan aku."
Selalu seperti ini, aku yang salah dan harus meminta maaf atas apa pun yang terjadi.
Keanu tertegun sesaat melihat perubahan drastis pada radar emosi istrinya. Tapi ego dan amarahnya terlalu tinggi untuk memikirkan ada yang ganjil pada Kalila, "urus kekacauan di luar. Dan pastikan wajah cemberutmu itu tidak terlihat lagi oleh para tamuku."
Tanpa menunggu jawaban, Keanu berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu hingga berdebum keras.
Kalila ditinggalkan sendirian di dalam ruangan yang remang. Tubuhnya merosot ke lantai marmer yang dingin. Dia membekap mulutnya sendiri, menahan mual yang menyiksa, sementara tangannya yang tremor hebat terus mencengkeram dadanya yang terasa hampa dan menyakitkan.
Malam itu, di lantai dingin ruang kerja suaminya, Kalila menyadari satu hal, jiwanya telah mati rasa, persis seperti lidahnya. Dia berjanji, mulai besok, Keanu tidak akan pernah bisa menyakitinya lagi. Karena bukankah orang mati, tidak bisa merasakan sakit, kan?