"Hah, apa?" Tanya Velove dengan wajah cengo nya.
Altares lalu mengangkat tangannya yang masih di genggam oleh Velove. Mata Velove membola, lalu melepaskan tangan Altares dengan cepat.
Altares tersenyum tipis, dia duduk santai di gazebo itu tanpa peduli dengan wajah cemberut Velove.
Velove masih diam bingung harus mulai dari mana.
"Kalau emang nggak ada yang mau di bicarakan, lebih baik aku kembali ke dalam."
"Eh tunggu!"
Lagi lagi Velove menarik tangan Altares dengan cepat.
Karena saking cepatnya Velove tak melihat pijakan di bawahnya dan berakhirlah dia di dalam pelukan Altares.
Wajah Velove memerah karena malu, sedangkan Altares sudah tersenyum smirk ke arah Velove.
"Ternyata hanya jual mahal menolak perjodohan ini, dan sekarang kamu lebih agresif."
Mata Velove membola, dia buru buru ingin melepaskan diri dari pelukan Altares namun Altares menahan tubuh Velove dengan erat.
"Lepaskan!!" pekik Velove.
Tapi Altares tak mau mendengar kan dan malah menarik Velove semakin dekat dengannya.
"Apa kamu sudah punya kekasih sampai sebegitu terkejut nya saat pernikahan akan di lakukan seminggu lagi?"
Velove reflek menggeleng tapi kemudian mengangguk. Tingkah absurd Velove malah membuat Altares semakin tertarik kepadanya.
"Tak ada penolakan, karena mau bagaimana pun kita akan menikah seminggu lagi!" ucap Altares tegas.
"Sebulan lagi bagaimana?" tawar Velove dengan wajah panik.
Velove mulai merasa tak nyaman dengan posisi mereka berdua saat ini. Jika sampai Daddy nya tahu dia akan di nikahkan saat ini juga.
"Oke, sebulan lagi. Tapi selama sebulan kamu harus tinggal di apartemen ku!" jawab Altares santai."
"Apa?"
"Apa aku tak salah dengar?"
"Nggak ada yang salah, dan itu persyaratan nya. Seminggu lagi atau sebulan lagi. Semua keputusan ada padamu."
Velove langsung melongo mendengar syarat yang tak masuk akal menurutnya. Dua duanya jatuhnya akan sama. Sedangkan Altares diam menunggu jawaban Velove.
Bagi Velove dua syarat itu hanya menguntungkan satu pihak yaitu Altares sedangkan dia tetap akan di rugikan. Altares tersenyum samar saat melihat wajah keruh Velove. Lebih tepatnya wajah Velove yang sedang berpikir keras saat ini.
"Kalau gitu, aku juga punya syarat untuk kamu."
Altares menaikkan sebelah alisnya mendengar Velove juga mengajukan syarat untuknya.
"Tapi lepas dulu."
"Kalau aku nggak mau?" tantang Altares.
Velove memanyunkan bibirnya cemberut karena Altares terus saja menjawabnya. Belum lagi posisi yang seperti ini, Velove takut jika Daddy nya tiba tiba ada disana dan malah akan salah paham. Velove mulai memberontak karena Altares tak juga mau melepaskannya. Dan karena dia kesal, dia menggigit lengan Altares.
"Aw....."
Akhirnya pelukan mereka terlepas. Altares meringis sambil mengusap pelan lengannya bekas di gigit oleh Velove.
Velove menjulurkan lidahnya kepada Altares karena berhasil lepas dari pelukan laki laki itu.
"Kamu....?"
Velove tak takut, dia tak pernah takut dengan siapapun kecuali kedua orang tuanya. Jangan di tanya kenapa dia takut, karen Daddy nya akan menghentikan semua fasilitas miliknya jika dia tak bisa di atur oleh sang Daddy.
Velove sudah menyilangkan tangan kali ini dengan mode wajah seriusnya.
"Aku mau nikah, tapi aku mau pernikahan itu di sembunyikan."
Mata Altares sedikit melebar, dia sedikit tak terima dengan apa syarat yang di katakan oleh Velove kepadanya.
"Kenapa harus di sembunyikan? Kamu nggak hamil duluan bukan, jadi kenapa harus seperti itu!" protes Altares.
Velove kembali mendengus kesal, bagaimana bisa laki laki di depannya berpikiran sejauh itu kepadanya.
"Sembarangan kalau bicara, gimana bisa hamil kalau bikin aja belum!"
Velove reflek menutup mulutnya saat ini. Sedangkan Altares menyeringai ke arah Velove. Laki laki itu berjalan mendekat ke arah Velove lalu menarik pinggang gadis itu agar mendekat ke arahnya.
"Apa yang mau kamu lakukan?" pekik Velove.
Velove berusaha melepaskan diri dari Altares. Namun, Altares tak mau mendengarnya dan semakin merapatkan tubuh mereka.
Altares meraih dagu Velove agar dia bisa melihat lebih dekat wajah gadis yang akan menjadi istrinya itu.
"Jadi, kamu mau hamil dulu hmm? Boleh kalau gitu, mau dilakukan di kamar kamu atau di apartemen ku? Atau kamu mau lakuin itu di hotel?"
Mata Velove melotot, dan dia dengan keras menginjak kaki Altares dengan kencang.
"Awww...... shit.....!"
Altares berteriak kencang, seketika pelukan mereka terlepas.
"m***m banget sih!!!"
Setelah itu, Velove masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan dongkol. Dia berkali kali menghentakkan kakinya karena mengingat wajah m***m Altares tadi.
Sedangkan Altares yang kakinya baru saja di injak hanya terkekeh melihat Velove yang kesal dengan nya.
"Dia benar benar menarik. Di saat wanita lain bersedia telanjang gratis di depanku, dia malah menolak ku."
Setelahnya, Altares menyusul Velove masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sudah kembali datar dan dingin tanpa ekspresi. Velove sempat terkejut dengan perubahan wajah itu. Berbeda dengan saat bersamanya tadi yang terkesan m***m dan pemaksa. Jangan lupa wajah tengil Altares yang membuat Velove kesal setengah mati.
"Apa dia punya kepribadian ganda?" batin Velove.
Velove bergidik ngeri membayangkan jika ternyata Altares mempunyai kepribadian yang banyak. Pikiran Velove sudah berlari kemana mana saat ini.
"Jadi kalian sudah memutuskan, kalian akan langsung menikah seminggu lagi?"
Mahen bertanya pada Altares tentang keputusan mereka.
Altares mengangguk, dan melirik ke arah Velove.
"Ya dan semua private wedding. Aku mau hanya keluarga aja yang datang."
Para orang tua saling pandang, tapi melihat raut wajah Velove dan Altares akhirnya mereka mengangguk setuju.
Mereka lalu membicarakan semuanya saat itu juga dan Altares memutuskan jika semuanya akan di urus oleh dirinya. Velove hanya akan menerima beres.
"Jadi seminggu lagi pernikahan kalian akan di laksanakan."
Sofiah yang sejak tadi sering tertawa saat ini memasang wajah serius dan menatap Velove dengan tatapan yang menurut Velove itu menakutkan.
Sofiah berdiri dan berjalan pelan ke arah Velove yang membuat Velove beringsut mendekat ke arah Nesa sang Momy.
Sofiah meraih tangan Velove, mengusap kedua tangan Velove dengan pelan. Dia lalu tersenyum lembut.
Tak lama dari itu, Sofiah melepas sebuah cincin bermata biru dari jari tangannya lalu memakaikan cincin itu pada Velove yang membuat Velove melongo dengan wajah penuh kebingungan.
"Ini cincin warisan dari nenek Altares. Dan cincin ini akan terus berpindah kepada siapa saja yang menikah dengan keturunan keluarga kami. Karena kamu akan menjadi istri Altares berarti cincin ini akan berpindah jadi milikmu. " ucap Sofiah lembut.
Velove masih melongo karena tiba tiba raut wajah Sofiah juga berubah menjadi lembut kembali.
Marko menggelengkan kepalanya melihat apa yang di lakukan Sofiah barusan.
"Ma, kamu bikin calon menantu kamu takut."
"Hah? Apa?" tanya Sofiah pura pura tak mengerti.
Tapi kemudian dia tertawa renyah dan memeluk tubuh Velove yang membuat Velove semakin bingung. Sofiah menepuk pelan punggung Velove.
"Jangan takut, aku nggak gigit." ucap Sofiah lembut
"I-iya Tante." jawab Velove yang masih bingung.
Sofiah melepaskan pelukan nya pada Velove.
"Jangan panggil Tante dong, panggil mama. Kamu kan mau nikah sama anak mama yang udah kayak kulkas empat pintu itu."
Mulut Velove kembali menganga mendengar celetukan Sofiah. Bahkan tak segan mengatakan Altares kulkas empat pintu.
Velove melirik Momy nya, dan saat Nesa mengangguk barulah Velove bersedia memanggil Sofiah mama.
"Terima kasih mama." ucap Velove lirih.
Sofiah memeluk tubuh Velove kembali. Setelah itu mereka kembali melanjutkan obrolan mereka mengenai pernikahan Altares dan Velove.
Hari sudah larut saat keluarga Altares pamit untuk pulang.
"Besok aku jemput kamu."
Velove mengerutkan keningnya bingung.
"Fitting baju pengantin dan juga cari cincin nikah."
Velove hanya ber O ria sebagai jawaban. Dan setelah melihat mobil Altares menjauh pergi barulah Velove masuk ke dalam rumahnya kembali.
"Vel, di jaga baik baik cincinnya. Kalau hilang kamu bisa jual ginjal untuk menggantinya."
To be continued