Altares yang tak tahan untuk mendatangi Velove akhirnya menyusulnya ke pantai. Dari kejauhan dia melihat mobil Velove yang masih terparkir di tempat yang sama seperti anak buah Carlos infokan kepadanya.
Altares keluar dari dalam mobilnya. Dia ingin melangkah menghampiri istrinya tapi langkah kakinya terasa berat. Harusnya dia tak seperti itu karena dia tak sepenuhnya bersalah.
"Apa dia akan berteriak histeris karena aku menyusulnya kesini?"
Altares ragu dengan keputusannya tapi tetap saja dia tak ingin masalahnya dengan Velove terus berlarut.
Akhirnya Altares memutuskan untuk mendekati mobil Velove. Dia berdiri di dekat pintu mobil Velove.
Tok tok.....
Altares mengetuk kaca jendela mobil Velove.
Velove yang sedang menikmati drama kesayangannya di ponselnya terlonjak kaget. Dia melihat ke samping, matanya membola saat melihat Altares sudah berdiri disana.
Dia mendengus kesal karena Altares berhasil menemukannya.
"Buat apa dia nyusul aku kesini?" gumam Velove kesal.
Altares yang tak kunjung mendapatkan jawaban mengetuk kaca jendela itu sekali lagi. Dan membuat Velove semakin kesal. Tapi dia lalu membuka kunci pintu itu.
Altares yang mendengar suara pintu terbuka bernapas lega.
Dia masuk ke dalam mobil dengan pandangan bersalahnya.
"Vel...." panggil Altares pelan.
Velove memalingkan wajah karena masih marah pada Altares.
Dia tak ingin melihat wajah itu, mengingatkan dengan apa yang dia lihat pagi tadi.
"Mau ngapain kamu?" tanya Velove datar.
Altares ingin meraih tangan Velove tapi Velove menepisnya. Dia enggan bersentuhan dengan Altares yang tadi pagi sudah di sentuh wanita lain.
Meskipun dia tak mencintai Altares saat ini tapi dia tak terima jika Altares bersama wanita lain. Itu seperti menusuknya pelan pelan dan tak menghargainya.
Altares menghela napas panjang saat melihat reaksi Velove barusan.
"Vel, aku bisa jelasin soal wanita tadi." kata Altares lirih.
Velove masih bergeming dan tak merespon sama sekali apa yang di katakan oleh Altares.
"Dia putri teman mama dan mama memintaku untuk mengantarkan nya ke toko kue. Hanya mengantar tapi ternyata Kalian, ah maksud ku wanita itu membuatku ikut masuk ke dalam toko kue itu. Aku hanya mengikuti apa yang mama mau untuk bersikap baik. Karena dia putri teman mama. Tapi ternyata wanita itu malah memanfaatkan keadaan. Dia tiba tiba menggandengku dan aku nggak tahu kalau kamu juga ada disana."
Altares menejelaskan semua panjang lebar tapi Velove tak bicara mencerna dengan baik. Hanya satu kalimat yang masuk ke dalam otaknya yaitu kalau Velove tak ada disana.
"Jadi kalau aku nggak ada disana, kalian bisa bersenang senang? Apa kamu lupa kalau kamu sudah menikah?" tanya Velove datar.
Altares panik, sepertinya dia salah bicara dalam menjelaskan nya pada Velove.
Altares meraih tangan Velove tapi Velove tetap menepisnya. Altares tak menyerah, dia menarik tangan Velove dan menggenggamnya dengan erat yang akhirnya Velove pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Altares.
"Lepas Al, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu yang udah bersentuhan dengan wanita itu!" ucap Velove keras.
Altares perlahan melepaskan tangan Velove. Dia mengacak rambutnya kesal karena Velove masih tak mau percaya kepadanya.
"Vel, aku udah tegur mama agar tak lagi mengijinkan teman temannya untuk menggangguku lagi. Dari dulu aku selalu menghindari semua teman teman mama. Tapi karena mama yang terlalu baik sama semua orang jadi banyak orang yang memanfaatkan nya."
Velove tak perduli, dia mengira jika mertuanya itu adalah orang kelas atas yang bisa memilih orang orang yang ada di sekitarnya. Tapi ternyata sama saja seperti ibu ibu kebanyakan.
"Terserah aku tak peduli, dan lagi kita menikah hanya karena di jodohkan jadi terserah kamu ingin melakukan apa. Tapi jika ingin bersenang senang dengan wanita lain kau bisa cer....mpph...."
Mata Velove melotot saat Altares memaksa untuk menciumnya.
Velove memukul d**a Altares dengan keras tapi Altares tak juga melepaskan ciumannya pada Velove. Dia semakin menekan tengkuk Velove agar ciuman mereka lebih dalam lagi. Akhirnya mau tak mau Velove membiarkan saja apa yang di lakukan Altares kepadanya. Meskipun hatinya dongkol tapi dia tetap diam saat ini.
Altares benci apa yang akan di katakan Velove kepadanya.
Altares melepas ciumannya pada Velove saat dirasa Velove kehabisan napasnya.
Terlihat Velove langsung mengambil napas karena sesak.
Altares menyatukan keningnya dengan Velove. Dia memejamkan matanya. Sambil terus memeluk Velove.
"Vel, jangan ucapkan itu. Meskipun kita di jodohkan tapi aku tak akan melakukan itu apapun masalah nya. Kita sudah menikah, dan soal wanita tadi aku minta maaf."
Velove mendorong pelan d**a Altares. Dia enggan melihat mata Altares ataupun berdekatan dengan nya. Rasanya tak nyaman, meksipun mereka tak saling mencintai tapi Velove ingin seperti kedua orang tuanya yang saling menjaga pernikahan mereka sampai di umur yang sekarang.
"Al, aku ingin sendiri. Aku tak mau bertemu dengan mu!" ucap Velove lelah.
Dia benar benar tak ingin berdebat dengan Altares saat ini.
" Kita pulang!"
Altares mengambil alih kemudi Velove dengan sekali angkat tubuh Velove. Kali ini Velove tak menolak tapi dia membiarkan Altares membawa mobilnya kembali pulang.
Hari sudah masuk sore hari, dan ternyata Altares membawanya pulang ke rumah baru mereka.
Velove memilih untuk keluar dari mobil lebih dahulu meninggalkan Altares di dalam mobil.
Melihat itu Altares hanya bisa menghela napas panjang. Dia marah kali ini, dan dia harus bertindak.
Dia menghubungi Carlos.
" Carlos, hancurkan semua usaha wanita sialan itu dan juga buang keluarga mereka ke jalanan. Jangan biarkan mereka mengusikku lagi!!"
#
Carlos yang saat ini masih berada di kantor karena menyelesaikan semua pekerjaan Altares pun segera memproses permintaan Altares. Dan Marko, papanya Altares yang sudah mendengar semua yang terjadi pun turun tangan. Dia menyuruh Carlos fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan urusan Kalina dan keluarganya akan jadi urusannya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Marko pada Carlos.
"Sudah tuan, mereka menunggu di restauran yang sudah kita pesan."
Marko mengangguk, dia pergi ke restaurant itu di temani anak buah Carlos. Sedangkan Carlos mengikuti apa yang di inginkan Marko. Beruntung Marko bukan tipe yang suka mengatur tapi langsung bertindak.
"Biar jadi pelajaran juga buat Altares agar tak terlalu menurut pada mamanya."
#
Di Restoran tempat Marko membuat janji, sudah ada Kalina dan kedua orang tuanya. Mereka merasa senang dengan pesan singkat yang di kirim oleh anak buah Carlos. Kalina berpikir jika dia akan mendapatkan kesempatan bersama Altares nantinya. Dan dia juga akan membalas perlakukan Sofiah kepadanya yang sudah membuatnya malu.
"Ma, lihat kan, kalau papanya Altares malah menghubungkan kita lagi dan mengajak ketemuan. Dia pasti akan meminta ku untuk bersama putranya. Hanya aku kan ma, yang pantas bersama Altares? "
Mamanya Kalina tentu saja senang, ini kesempatan mereka agar bisa masuk ke dalam keluarga mereka. Dengan begitu nama mereka akan semakin di segani oleh banyak orang.
Sedangkan papanya Kalina merasa aneh, dia sudah mendengar banyak selentingan jika Altares baru saja menikah dengan seorang anak konglomerat kelas atas yang tak bisa di sentuh juga. Dan pernikahan mereka juga menjadi rahasia. Jadi saat mendengar percakapan istri dan anaknya tentu saja hal yang mereka bicarakan jelas tak mungkin.
"Kamu harus bisa ambil hatinya papanya Altares. Karena Mama yakin, Altares tak mungkin mempunyai pasangan. Dia selama ini masih sendiri. Buktinya dia mau kan di suruh pergi nganterin kamu sama mamanya?"
Kalina mengangguk dengan cepat karena apa yang di katakan sang mama benar adanya. Berbeda dengan papanya, mendadak dia tak tenang mengingat bagaimana Marko selama ini. Jika ada yang tak nyaman dengan keluarganya dia akan langsung bertindak.
"Ma, sebenarnya ada apa? Kalian tak bikin masalah kan?" tanya Papanya Kalina khawatir.
Mamanya Kalina berbalik kesal mendengar pertanyaan sang suami.
"Kenapa sih pa? Papa curiga Kalina sama mama bikin masalah? Papa tak percaya pada kami?"
Papa Kalina menggeleng, dia tak lagi ingin bertanya macam macam pada istrinya. Selama ini dia selalu mengalah pada anak dan istrinya hanya karena tak ingin ribut. Di tambah sifat keras kepala sang istri menurun pada putrinya. Karena hal itulah yang membuat Kalian dan istrinya bertindak sesuka hati mereka.
Ceklek.....
Akhirnya Marko tiba disana dengan aura yang dingin. Membuat keluarga Kalina terdiam. Ekspektasi mereka buyar seketika melihat raut wajah Marko yang tak ramah kepada mereka.
"Selamat datang tuan Marko." sapa papanya Kalina.
Marko hanya mengangguk, lalu duduk di depan papanya Kalina tanpa berniat menyapa Kalina dan Mamanya.
Mamanya Kalina menyenggol lengan Kalina untuk menyapa Marko. Saat Kalina ingin berdiri dan mengulurkan tangannya, Marko sudah memberi isyarat pada Kalina untuk tak melakukan itu.
"Duduk, tak usah menyapa. Aku akan langsung saja karena aku tak punya banyak waktu."
Papa Kalina meneguk ludahnya susah payah, melihat Marko yang langsung bersikap seperti itu, jelas sudah jika istri dan putrinya baru saja membuat masalah dengan keluarga Marko.
"Tuan Lesmana, aku menarik kembali semua saham yang aku tanam di perusahaan mu. Dan juga semua investasiku. Dan dengan pertemuan ini aku juga menuntut istri serta anak mu yang sudah melanggar batas yang sudah aku buat untuk tak mengganggu putraku."
Duar.....
Wajah Papanya Kalina memucat, berbeda dengan mamanya Kalina yang meradang karena marah.
Brak ....
"Apa apaan ini tuan Marko? Anda tak bisa seenaknya saja melakukan hal itu. Kami tak pernah melanggar batasan yang kalian buat. Dimana letak kesalahan kami!" teriak Mamanya Kalina keras.
Lesmana memejamkan matanya menahan gejolak amarah di dadanya. Hancur sudah, tanpa bantuan Marko perusahaannya akan hancur dan bangkrut. Lesmana sedang berusaha mempertahankan perusahaannya yang mulak goyah akibat kelakuan istrinya yang suka menghamburkan uang perusahaan.
Marko tersenyum mengejek, dia lalu memberi isyarat anak buahnya untuk maju mendekatinya. Meminta tab miliknya. Disana dia menunjukkan Kalina dan Mamanya yang tiba tiba datang dan membuat keributan di rumahnya. Lesmana yang melihat itu tentu saja geram.
"Dan satu lagi, jangan ganggu Altares, dia sudah menikah. Sekali lagi kalian mengganggunya aku tak segan melemparkan kalian untuk jadi pekerja di club malam milikku!!" ancam Marko tegas.
Kalina dan mamanya sontak terdiam, mereka berdua tak mengira jika Marko akan menindak tegas semua perbuatan mereka.
Setelah mengatakan itu, Marko pergi dari sana.
Tepat saat berada di ambang pintu, Marko mengatakan satu kalimat pada Lesmana sebagai pesan terakhirnya.
"Didik keluargamu dengan benar tuan Lesmana, hanya karena baru mempunyai harta yang tak banyak kalian langsung merasa tinggi hati!"
Setelah itu, Marko benar benar meninggalkan restauran itu tanpa menatap lagi ke belakang.
Plak
Plak...
Lesmana menampar istri dan putrinya dengan keras. Wajahnya sudah memerah menahan kemarahan yang sudah tak bisa dia bendung lagi.
Kalina dan mamanya sontak terkejut mendapati sang papa yang berani menampar mereka.
"Lihat sekarang, kita hancur. Ini semua karena ulah kalian!!" bentak Lesmana keras.
"Pa, kamu tega nampar mama dan Kalina? Papa, aku bisa laporin ini ke orang tua ku!" pekik Mamanya Kalina tak terima.
"Laporkan saja, aku tak peduli. Dengan begitu, aku tak perlu berusaha payah mengirim mu kembali ke tempat asalmu bersama Kalina. Dan lagi, kita sudah tak punya apa apa karena ulah kalian. Tuan Marko sudah menarik semua investasinya dan perusahaan kita bangkrut. Ini semua karena kalian juga yang selalu memakai uang perusahaan dengan seenaknya!"
Lemas, itulah yang di rasakan oleh Mamanya Kalina dan Kalina. Jika mereka bangkrut, mereka tak akan mempunyai apa apa lagi setelah ini.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Kalina terdiam di tempat duduknya, dia mengepalkan kedua tangannya marah. Dia ingin membalas dendam pada Altares. Semua gara gara dia.
"Altares, kamu mau main main sama aku?"
to be continued