Bab 4

1679 Words
Altares memilih meninggalkan kamar mereka dan kembali bersama keluarganya di bawah. Sedangkan Velove dengan cepat membersihkan sisa riasan di wajahnya. Velove bernapas lega karena saat kembali ke kamar Altares sudah pergi dari sana. Velove naik ke atas ranjangnya dan tak lama matanya mulai terpejam dengan cepat. Velove langsung tertidur pulas. Altares yang sudah selesai mengobrol pun kembali ke dalam kamar. Dia melihat Velove yang sudah pulas dalam tidurnya. "Dia kebo banget!" Altares berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah berganti pakaian dia ikut naik ke atas ranjang. Meraih tubuh Velove lalu memeluknya sambil tertidur. Velove yang merasa nyaman dalam pelukan itu semakin mengeratkan pelukannya pada Altares yang dia pikir adalah guling miliknya. # Pagi menjelang..... "Kyaaa .....mpph....." Altares yang terkejut pun langsung membungkam mulut Velove yang saat terbangun sudah berteriak kencang. Mata Velove melotot saat sadar siapa yang ada disampingnya. Otaknya mulai berjalan dengan cepat mengingat kenapa Altares ada disana. "Udah ingat?" Velove mengangguk dengan cepat dan saat tangan Altares sudah di lepas barulah Velove bisa menghirup udara sebanyak banyaknya. "Kenapa teriak? Lupa kalau udah nikah?" Velove mengangguk pelan, Altares sendiri memilih bangkit dari ranjang karena pagi ini ada urusan penting. "Aku bersiap terlebih dahulu, aku ada kerjaan penting pagi ini." Tanpa menunggu jawaban Velove, Altares melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi..Tak ada setengah jam, Altares selesai bersiap bahkan dia juga memakai bajunya di dalam kamar mandi. Velove hanya melihat apa yang di lakukan Altares saat ini tanpa ingin bertanya. Ponsel Altares berdering dan nama Carlos tertera disana. "Habis ini sampai." Setelah menjawab Altares pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Velove. Velove mengdengus kesal karena merasa di abaikan oleh Altares. "Bisa bisanya dia lupa sama aku!" Velove yang kesal memilih untuk segera mandi karena dia harus kuliah pagi ini. Dan saat dia melihat ponselnya ada pemberitahuan di grub bagian jurusannya jika ada dosen baru yang mengajar disana. "Aneh, kenapa tiba tiba ada dosen baru?" gumam Velove. Di dalam grub juga menyebutkan jika namanya adalah Juan. "Pasti orang nya udah tua banget, mana namanya Juan lagi. Mungkin kayak bapak bapak perut buncit itu kali ya?" Velove terus berceloteh sendiri dan tertawa membayangkan siapa dosen baru yang akan masuk ke dalam kelasnya. # Velove yang saat ini sudah ada di kelasnya pun lebih sering terlihat melamun karena mengingat jika dia sudah menikah. "Huft, ini aku beneran udah nikah?" gumam Velove pelan. Velove bahkan tak peduli dengan kehebohan yang terjadi di kelasnya saat dosen baru itu sudah masuk ke dalam. "Kalau nikah harus layani dia kan?" "Siapa yang harus dilayani?" "Ya suamiku." Spontan Velove menjawab dengan cepat karena ternyata kelas sudah di mulai dan dosen baru itu melihat Velove melamun sejak tadi. Jadi dia ingin menegurnya, tapi saat sampai di dekat Velove, gadis itu malah bergumam yang membuat sang dosen menyeringai ke arah Velove. Velove langsung berdiri dan menunjuk wajah Altares dengan mata yang melotot. "Kamuu?" Sedetik kemudian Velove tersadar dimana dirinya berada. Dan jangan di tanya bagaimana wajah Velove saat ini. Panik dan malu, dia melihat sekeliling yang tengah melihat apa yang terjadi padanya. Apalagi Velove sempat membaca di grub jika dosen yang baru itu terkenal galak dan dingin. "Jadi siapa yang harus kamu layani nona Velove?" Velove tergagap bingung dan syok, bagaimana bisa Altares ada disana dan malah menjadi dosen barunya. Altares menyeringai ke arah Velove, lalu kemudian dia menyuruh Velove berdiri di depan saat pelajaran kelasnya di mulai. "Karena kamu sudah membuat keributan di kelas pertamaku, kamu di hukum untuk berdiri di depan sampai jam kelas ku habis." Mata Velove melotot kesal, ingin rasanya dia menjitak kepala Altares. Dan apa apaan ini, bahkan dia harus berdiri di depan kelas, sedangkan Velove masih merasa syok jika Altares adalah Juan. Jangan lupakan status mereka yang sudah menikah. Kaki Velove mulai kesemutan karena berdiri disana hampir satu jam lamanya. Dan saat suara pengumuman terdengar jika kelas sudah selesai barulah Velove segera berlari keluar dari kelasnya. Sret .... Mpph..... Mata Velove membola saat tangannya di tarik dengan cepat oleh seseorang.. "Mau kemana?" Mata Velove membola melihat siapa yang sedang menahan nya saat ini. Perlahan Altares melepas tangannya dari mulut Velove. Dug .... Altares meringis pelan saat kakinya di injak keras oleh Velove yang sedang kesal. "Apa apaan kamu? Kenapa malah jadi dosenku hah?" Velove menjeda kalimatnya, dia menatap kesal Altares yang sejak tadi hanya diam tak jauh darinya. "Emang kamu nggak nyimak siapa nama kepanjangan ku saat kita menikah kemarin?" tanya Altares. Velove terdiam, mencoba mengingat siapa nama Altares yang lengkap lalu tak lama saat ingatannya mulai penuh matanya menatap horor ke arah Altares. " Altares Juan Xafier," ucap Velove lirih. Altares melihat Velove dengan senyum miring, dia ingin tertawa karena Velove berubah panik saat ini. "Kenapa tak memberitahuku dari kemarin???" pekik Velove tertahan "Kamu juga tak bertanya kan, jadi aku akan diam saja." # Velove yang sudah bisa kabur dari Altares pun pergi ke kantin dengan wajah kesalnya. Sepanjang perjalanan ke kantin gerutuan dan makian tak lepas dari nama Altares. "Bisa bisanya aku nggak tahu kalau dia dosen disini. Mana ngajarnya di kelasku lagi!" Velove menaruh tas nya dengan keras. Dia menelungkupkan wajahnya di meja karena lelah. Ingin sekali dia memejamkan matanya tapi datang dua orang laki laki yang tiba tiba duduk didepannya. "Mau apa kalian?" tanya Velove ketus. "Ayolah sayang, kenapa masih ketus sih sama aku. Kamu nggak kangen sama aku, padahal aku kangen banget sama kamu." Damian mengatakan itu di depan banyak orang. Terlebih saat ini mereka menjadi pusat perhatian karena beberapa yang mengenal Damian bukan anak kampus disitu. Apalagi Velove mahasiswa yang baru pindah kesana. Bisa terbilang baru karena dia pindah di pertengahan semester. "Damian stop, kita nggak ada hubungan lagi. Dan stop panggil aku sayang." bentak Velove kesal. Damian terkekeh melihat ekspresi kesal Velove. Sementara Lukas temannya hanya diam melihat drama dua orang yang sudah putus hubungan itu. Tangan Damian terulur dan ingin meraih tangan Velove tapi Velove langsung menepisnya. Velove benar benar sudah muak melihat wajah Damian saat ini. Mengingat ketika beberapa bulan lalu Velove memergoki Damian sedang bertukar saliva dengan teman terdekat Velove. Karena alasan itu lah Velove pergi ke club malam bersama teman temannya di luar negeri. "Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu Damian!!!" tunjuk Velove semakin marah. Damian yang tersinggung pun menarik paksa tangan Velove dan di seretnya keluar dari kampus. Lukas sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Damian saat ini. Pasalnya tak ada dalam perjanjian jika Damian akan bersikap kasar dengan Velove. Damian mengatakan pada Lucas jika dia ingin meminta maaf pada Velove dan membujuknya untuk kembali pada Damian. "Damian, kamu gila! Lepasin aku!!" Velove terus berteriak, tapi tak ada yang berani mencegah itu. Velove yang termasuk pendiam dan jarang bergaul pun terus meronta dan memukul tangan Damian. Dari kejauhan Altares mengerutkan keningnya saat melihat Velove di seret secara kasar oleh Damian. Dia bergegas meninggalkan dosen perempuan yang sedang mengajaknya bicara dengan sedikit menggodanya sedari tadi. Tapi saat langkahnya semakin dekat dengan Velove tubuhnya membeku di tempatnya. Brak..... Damian terpental begitu keras dan menabrak dinding. "Argh ....." teriak Damian keras. Semua orang pun melongo, tak terkecuali Lucas. Altares sempat melongo tapi dia juga sedikit terguncang melihat wajah Velove yang saat ini sedang marah besar. "Aku sudah kasih kamu peringatan Damian. Tapi telinga kamu tuli. Kita udah nggak ada hubungan semenjak kamu tidur sama Diana. Jadi jangan pernah menggangguku lagi. Atau jika kamu masih saja nekad, aku akan benar benar mematahkan semua tulang tulangmu!!!" teriak Velove keras. Napasnya memburu karena marah. Setelah itu Velove pergi dari sana dengan cepat. Sedangkan Damian sudah mengumpat marah karena Velove berhasil membuatnya kembali malu di depan banyak orang. Apa kata orang jika dia kalah dari seorang wanita. "Berengsek kamu Velove, aku akan balas kamu nanti!!!" desis Damian kesal. Altares yang melihat Velove pergi dari sana dengan cepat memburu Velove. Dan saat Altares melihat Velove berada di dekat parkiran dia menarik tangan Velove dengan lembut. "Apa yang kamu lakukan?" teriak Velove. Awalnya teriakan itu keras tapi perlahan mengecil saat tahu siapa yang tengah menariknya saat ini. Wajahnya berubah menjadi panik dan kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan takut jika ada yang melihat dia di bawa pergi oleh Altares. Altares membawanya masuk ke dalam mobil milik Altares. "Kok masuk mobil? Aku bawa mobil sendiri tadi!" Velove bingung dengan apa yang di lakukan Altares. Apalagi sejak masuk mobil Altares hanya diam saja tanpa ada suara sedikitpun. Terdengar di telinga Velove jika Altares menyuruh Carlos mengambil mobil Velove di parkiran kampus. "Kita mau kemana?" tanya Velove bingung. Altares hanya diam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena tak kunjung mendapat jawaban Velove memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia memilih menatap jendela mobil sambil melihat jalanan yang sedang mereka lewati. Awalnya dia merasa biasa saja, tapi kemudian Velove merasa asing dengan jalanan yang mereka lalui. " Al, kamu mau culik aku ya?" pekik Velove. " Rugi nyulik istri sendiri. " jawab Altares datar. " Lah iya ya," sahut Velove tersadar. Velove kembali diam dengan wajah penasaran. Tapi matanya menyipit saat mobil itu berbelok pada sebuah rumah mewah dengan halaman yang begitu luas tapi asri. Saat melihat sisi kiri dan kanan halaman itu ada beberapa bunga yang di tanam dan juga kolam kecil di tengahnya. " Ini rumah siapa? " tanya Velove bingung. Tapi Altares tak menjawab dan malah keluar dari dalam mobil terlebih dahulu. Velove yang di tinggal merasa kesal, lalu dia menutup pintu mobil dengan kencang. Menyusul Altares yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah. Velove tak punya tenaga lagi untuk meladeni Altares karena tenaganya habis akibat ulah Damian. Tapi saat Velove masuk ke dalam rumah itu tubuhnya membatu melihat sebuah pigura besar yang berisi foto pernikahannya dengan Altares. "Ini rumah kita, rumah yang akan kita tempati setelahnya." Altares tiba tiba muncul dari dalam rumah membawa sebuah kotak obat. Dia memberi kode pada Velove untuk duduk disebelahnya. Velove seperti robot yang berjalan kaku. Otaknya kosong seketika. Kata kata "Rumah Kita" dari Altares terus berjalan di otak mungilnya. Altares membiarkan Velove bengong karena saat ini dia fokus pada pergelangan tangan Velove yang memerah. "Aw...." Velove akhirnya tersadar ketika tangannya terasa perih. "Sakit?" Velove terpaku pada wajah tampan Altares yang saat ini tengah fokus mengobati tangannya. to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD