“Jadi kesimpulannya adalah dokumen ini asli, tanda tangan dan stempel yang ada juga asli.” Pungkas seorang grafolog yang didatangkan oleh pihak Bambang.
Sudut bibir sang hakim ketua berkedut, menahan senyum. Ia tahu, Bambang takkan tinggal diam. Dan akhirnya pengacara kondang itu beraksi. Bambang pasti memakai segala cara untuk menyelamatkan posisinya. Tadinya, ia sudah hampir menyerah. Toh sejak tadi, namanya sama sekali tidak ikut terseret. Jadi, meski Bambang tertangkap basah melakukan kecurangan dalam sidang, ia takkan terkena imbasnya.
Suara bisik-bisik mulai terdengar di sana-sini. Sepertinya para hadirin jadi bingung, karena kedua kubu menyajikan bukti yang sama-sama kuat, membuat kebenaran terlihat kabur.
“Baiklah, silakan kembali, Saudara Saksi Ahli.” Hakim ketua itu berujar mantap. Kemudian ia menuliskan sesuatu di atas meja.
“Itu pasti palsu!” Aidan merutuk. Ia menekan suaranya sebisa mungkin meski kekesalan dalam dadanya terasa meledak.
“Ssssttt...” Reza memberi isyarat pada Aidan untuk diam. “Aku juga yakin itu palsu, tapi harus ada bukti kalau itu memang palsu. Kita percayakan saja pada Pramana.”
Aidan mendengus. Ia memalingkan wajah, tapi ia setuju. Dalam sidang ini, mereka hanya bisa percaya pada Pramana. Selain jika diminta menjadi saksi, ia tak diperkenankan untuk bicara. Kalau berani menyelak pun, petugas pasti akan langsung mengeluarkannya dari ruang sidang. Dan ia tak ingin itu terjadi.
“Apakah ada tanggapan dari Penuntut?” Sang hakim ketua sudah selesai menulis. Kini, menatap Pramana dengan tatapan malas.
“Ada, Yang Mulia.” Pramana berdiri.
“Silakan…”
Dalam hati, hakim ketua itu pasti sedang merutuk kesal.
Sementara itu di sisi kanan ruang sidang, Bambang sedang menggeram. Tangannya mengepal erat. Pertarungan ini sengit sekali. Tapi ia takkan membiarkan Pramana menang. Selain kasus korupsi NICU, harga diri dan reputasinya juga sedang dipertaruhkan di sini.
Pramana berdiri. Menyerahkan sebuah flashdisk pada seorang operator di dekat meja majelis hakim. “Kami masih punya satu bukti lagi, bahwa mendiang dokter Wirahadi tak bersalah dan hanyalah korban dari pelaku sebenarnya.” Ujarnya mantap. Kemudian, sembari menunggu operator mengakses isi flashdisk yang ia serahkan, Pramana berbalik. Menatap Bambang lekat. “Sebenarnya bisa saja saya membantah bahwa bukti yang Anda bawa ke ruang sidang ini adalah bukti rekayasa.”
Bambang melotot, hampir saja mulutnya menumpahkan kata-kata. Tapi Pramana lebih dulu membungkamnya.
“Saya tahu, saya tahu dokumen dan tanda tangan itu asli. Karena orang yang membubuhkan tanda tangannya di sana adalah salah satu sekutu Anda.” Pramana menatap Baskara yang duduk di kursi belakang Bambang. Seketika, puluhan kamera menyorot Baskara yang kebingunan dan berkeringat dingin sejak tadi. “Bahkan mungkin, saksi ahli saya, Pak Handoko juga bisa memberikan pendapatnya. Bahwa dokumen yang Anda bawa itu adalah dokumen baru. Tidak ada tanda-tanda penuaan, seperti dokumen yang sudah delapan tahun lalu dibuat.”
Bambang menelan ludah. Lawannya kali ini benar-benar bermental baja. Ia tak gentar dengan tekanan sekuat apapun. Otaknya tetap bisa bekerja dengan baik, pembawaannya tetap tenang.
“Meski begitu, sidang ini sudah berjalan cukup lama. Saya yakin, bahkan Yang Mulia hakim ketua…” Pramana menghadap meja majelis hakim, membungkukkan tubuhnya sopan. “Pasti sudah gerah berada di ruangan yang penuh sesak ini terlalu lama.” Tuturnya sinis.
Hakim ketua itu menahan nafas. Ia yakin, tatapan itu bermakna dalam. Pramana pasti tahu sesuatu. Mungkin, jaksa muda itu tahu bahwa ia juga berkomplot dengan Bambang. Seketika, tubuhnya berkeringat. Suhu pendingin ruangan yang diatur paling rendah tak mampu menghentikan kucuran keringatnya.
“Karena itu, biarkan saya memungkas sidang hari ini dengan bukti yang mungkin tidak akan bisa dibantah oleh siapapun.” Pramana tersenyum. Itu… senyum kemenangan.
Bambang dan sekutunya menegang, gelisah bukan kepalang. Sementara para hadirin yang lain justru bersorak penasaran. Sidang ini jadi lebih mirip sebuah pertunjukan.
“Sudah selesai?” Tanya Pramana pada operator.
“Sudah.”
Pramana mendekat. Meminta operator untuk mengeraskan volume pengeras suara, kemudian memainkan salah satu file audio yang ada di dalam flashdisk itu.
Klik.
“Anda sudah gila, Dok?!” Suara Wirahadi terdengar pertama kali. “Masih kurang gaji puluhan juta yang Anda dapatkan dari jabatan Anda, hah?!” Jelas sekali ia sedang marah ketika itu.
Aidan menahan nafas. Ini suara ayahnya. Suara yang amat ia rindukan.
“Tenanglah, Wir.” Sebuah suara lain terdengar.
“Matikan!” Pramana berseru. “Anda pasti sangat familiar dengan suara ini, ‘kan?” Tanyanya pada Bambang.
Rahang Bambang mengetat. Gigi geliginya saling beradu. Ia melirik Baskara yang sudah pucat pasti di belakangnya. Ya, suara itu adalah suara Baskara.
“Lanjutkan!” Ujar Pramana lagi.
“Kamu tinggal tanda tangan saja, apa susahnya, sih?” Suara Baskara kembali terdengar.
“Tidak.” Sergah Wirahadi tegas. “Ini jelas korupsi, Dok! Saya nggak akan pernah mau menanda tangani ini.”
“Ayolah… akan kubagi denganmu. Kau mau berapa persen?”
“Dokter Baskara!” Wirahadi meradang. “Nol koma nol satu persen pun saya tidak mau!”
“Jangan munafik, Wir! Siapa yang tidak mau uang? Ini proyek besar! Mereka sudah siap mengucurkan dana untuk kita. Lagipula, kita tidak dibayar untuk ini. Yang ada justru capek. Jadi, apa salahnya kalau jerih payah kita dihargai sedikit saja?”
“Tidak, tidak. Jangan pernah lakukan itu, Dok!”
Senyap. Rekaman suara itu berakhir. Seluruh ruangan mendadak ikut hening. Wajah-wajah mereka terlihat terkejut. Hanya ada dua wajah yang terlihat gelisah dan marah. Ialah Baskara dan Bambang yang bisa dilihat dalam satu lapang pandang.
“Putar rekaman berikutnya.” Pramana kembali memberi perintah.
“Berhenti!” Bambang berteriak keras.
Pramana berbalik, gerakan tubuhnya tenang. Ia sudah menduga hal ini. Justru aneh jika Bambang sama sekali tak bereaksi. “Ya?”
“Rekaman itu tidak membuktikan apapun! Jangan coba-coba menuduh seseorang dengan rekaman percakapan yang bisa saja direkayasa.” d**a Bambang kembang kempis. Sudah sejak tadi ia menahan kesal.
“Begitu?” Pramana mengangkat sebelah alisnya. “Bagaimana caranya?”
“Ya… ya… bisa jadi itu rekaman yang berbeda kemudian disunting, dijadikan satu rekaman sampai jadi seperti itu. Ya, benar begitu!” Wajah Bambang terlihat girang, ia senang dengan pemikiran spontannya itu.
Pramana tersenyum tipis. “Mari kita coba dengarkan rekaman selanjutnya, akankah Anda masih mengatakan bahwa ini adalah rekayasa?”
Klik. Rekaman kedua diputar.
“Anda benar-benar melakukannya, Dok?!” Suara Wirahadi kembali terdengar.
“Kamu bereaksi berlebihan, Wir. Santai saja lah.”
Kemudian terdengar dengusan keras. Besar kemungkinan itu adalah ekspresi Wirahadi yang sedang kesal.
“Ini salah, Dok. Ini jelas salah!”
“Wir, kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Urusan ini tidak usah kau pikirkan.” Suara Baskara masih terdengar tenang. Atau lebih tepatnya meremehkan amarah Wirahadi.
“Tidak usah dipikirkan bagaimana? Anda memalsukan tanda tangan saya untuk mengklaim uang yang lebih besar! Anda bahkan memalsukan faktur pembelian!”
Jder! Suara Wirahadi seperti petir di siang bolong. Terutama untuk Baskara. Lihatlah, laki-laki itu sekarang berlari tertatih-tatih ke tengah ruangan.
“Hentikan! Hentikan!” Jeritnya histeris.
Seketika, ruang sidang menjadi heboh. Terkejut dengan ulah Baskara, operator segera mematikan rekaman. Sementara itu, puluhan awak media tak mau ketinggalan. Mereka segera menangkap wajah Baskara secara close up. Wajah paniknya itu disiarkan ke seluruh penjuru negeri.
“Yang Mulia, Anda tahu ‘kan? Bukan hanya saya yang bersalah!”
Licik, Baskara tak ingin malu dan dihukum sendiri.
“Apa maksudmu?” Suara hakim ketua meninggi. Dahinya berkerut. Ia pasti juga sedang panik. Bagaimana jika Baskara justru menunjuk? Hancur sudah karir yang ia bangun puluhan tahun.
“Bambang!” Baskara menunjuk pengacaranya sendiri. “Bambang juga terlibat! Dia… gara-gara dia kasus ini jadi berbelit-belit!”
“Hei! Apa maksudmu?!” Bambang berdiri tegak. Matanya menatap marah.
Semua kehebohan itu, seruan-seruan yang mirip dengan adegan sinetron itu terekam oleh puluhan kamera. Disiarkan ke seluruh negeri. Menjadi hiburan bagi masyarakat. Mereka tergelak melihat tingkah polah manusia-manusia yang seharusnya bermartabat itu.
“Kamu ‘kan yang awalnya meminta kasus korupsi ini diangkat? Untuk menutupi kasus klienmu itu. Karena apa? Tentu saja karena kamu sudah menerima banyak uang!”
Sekutu itu kini jadi saling tunjuk, saling serang.
“Hei, jaga ucapanmu!” Bambang masih berusaha tenang. Tapi cengkraman kuat kedua tangannya ke sisi meja sudah menunjukkan seberapa marah dirinya. “Yang Mulia, ini sudah kelewatan. Sidang ini sudah tidak kondusif lagi.” Bambang mengajukan keberatannya.
Sang hakim ketua menghela nafas lega. Tadinya, ia hendak mengetuk palunya keras-keras untuk menghentikan kehebohan. Untungnya, Bambang bergerak lebih dulu.
“Semuanya diharap tenang!” Suara sang hakim ketua menggelegar. Dalam sekejap, ruangan yang tadinya riuh itu mendadak senyap.
Hakim ketua mengedarkan pandangannya. Di sana, di sisi kiri ruang sidang, Pramana tersenyum puas. Ia tak perlu mengungkapkan seluruh kekejian sekutu-sekutu itu. Mereka justru saling menjatuhkan satu sama lain.
Hakim ketua menggeram dalam diam. Kesal sekali melihat wajah Pramana yang sudah merasa menang. Maka kemudian ia mengambil tindakan.
“Karena kondisi sudah tidak bisa dikendalikan, sidang ini terpaksa harus ditunda. Jadwal sidang berikutnya akan diumumkan kemudian. Terima kasih.”
Sang hakim ketua berdiri, diikuti oleh dua hakim lainnya. Majelis hakim meninggalkan ruangan.
Bukannya bubar, kerumunan manusia itu justru semakin ribut. Bambang menyeret Baskara keluar ruangan. Belasan awak media gegas berlari, mengikuti langkah Bambang.
“Pak, Pak. Bagaimana tanggapan Anda dengan tuduhan tadi?” Seorang wartawan bertanya.
“Benarkah tuduhan itu, Pak?” Yang lain menimpali.
Dua laki-laki itu terjebak di kerumunan.
“Tunggu, Pak. Tunggu! Berarti pelaku korupsi NICU selama ini adalah Anda?” Seorang wartawan wanita bertanya pada Baskara. Laki-laki yang memegang kamera di belakangnya segera menyorot wajah Baskara.
“Jangan dijawab!” Bisik Bambang tegas.
Baskara menurut. Ia diam seribu bahasa.
Mereka semakin dekat dengan pintu keluar, Bambang segera memberi kode pada dua petugas polisi yang berjaga. Mereka mengangguk, kemudian bergerak cepat. Membelah kerumunan, memberi jalan untuk Bambang dan Baskara keluar ruangan.
Tak mendapatkan apapun setelah mengejar Bambang dan Baskara, kerumunan wartawan itu beralih ke sisi kiri ruang sidang. Aidan, target mereka selanjutnya. Ya, kehadiran Aidan jadi menarik perhatian setelah maju sebagai saksi. Semua orang bertanya-tanya tentang hubungannya dengan mendiang Wirahadi.