Genit

1113 Words
“Aaaaaaaa … Om Arjun pegang-pegang buah d**a aku!!” teriak Lili dengan suara yang cukup keras sampai membuat penjual nasi goreng itu menoleh ke arahnya, padahal tadi ia sedang memasukkan nasi ke dalam wajan, karena ada pembeli yang datang. Bukan hanya penjual nasi goreng itu saja yang menoleh ke arah Lili, bahkan ada dua ibu-ibu pembeli nasi goreng yang juga menoleh ke arahnya dan juga Arjuna. Hal tersebut membuat Arjuna ingin membekap mulut gadis itu, namun jika ia melakukan hal tersebut, Lili pasti akan malah semakin menjadi. Karena ia tahu persis bagaimana gadis itu yang terkadang bisa merubah seperti barongsai. “Berisik! Saya gak sengaja, lagian kamu ada-ada aja nyimpen dompet di situ.” Arjuna langsung menjauhkan tangannya, bahkan pria itu sampai menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. “Om sih, kepo banget orangnya. Emmmm … btw, mau pegang lagi gak, Om?” Lili malah menawarkan diri. “Stres!” Arjuna membalas singkat, pria itu segera naik ke atas motornya. “Om, tunggu!” Lili meloncat dan langsung naik ke atas motor, gadis itu takut ditinggalkan oleh Arjuna. “Sini taro nasi gorengnya di depan aja, biar kamu gak repot.” Arjuna mengambil plastik berisi nasi goreng itu dan menggantungkan pada cantelan motornya. “Biar aku bisa peluk Om ya.” Lili memegang ujung kaos yang dikenakan Arjuna. “Berhenti bersikap genit seperti itu, Li. Saya geli.” Juna mulai menyalakan mesin motornya. “Gelisah ya, Om. Geli-geli basahhh ...” Lili sengaja membuat suaranya terdengar berbeda. Namun, justru hal tersebut malah membuat Juna menggerakkan kedua bahunya seolah merasa merinding. “Jangan kayak gitu, Li. Takutnya didengar sama orang lain, terus jadi fitnah. Kamu kan tahu sendiri orang-orang sini mulutnya kayak gimana.” Arjuna menjalankan motornya dengan perlahan. “Tukang ghibah ya, Om?” timpal Lili. “Iya, termasuk kamu,” balas Arjuna yang membuat Lili seketika mencubit punggung tegak pria itu. “Kayak dicubit semut,” ucap Arjuna. Mendengar itu, Lili merasa tertantang, ia mencubit punggung Arjuna lebih keras lagi. “Aw! Sakit, Li! Bisa diam gak!!!” protes Arjuna. “Gak mauuuuu!” Gadis itu terdengar meledek. Arjuna menambah kecepatan laju roda empatnya sampai membuat Lili terdiam karena merasa takut. Tak membutuhkan waktu lama, mereka telah tiba di rumah. Arjuna menghentikan motornya tepat depan rumahnya. Namun, di sana terlihat ada sebuah motor aerox yang sudah terparkir. Arjuna tahu betul itu adalah motor adiknya yang bernama Dewa. Pemuda itu memang terkadang pulang tanpa mengabari kakaknya terlebih dahulu. Akan tetapi, meskipun pulang, Dewa sangat jarang menginap di rumahnya. Pemuda itu pulang hanya untuk meminta uang kepada kakaknya. “Abis dari mana, Bang? Tumben sama si Lili?” tanya Dewa yang muncul dari arah pintu. Sepertinya pemuda itu keluar setelah mendengar suara motor kakaknya. “Beli nasi goreng, kamu tumben pulang?” Arjuna dan Lili turun dari motor. “Gue minta duit, Bang.” Dewa langsung to the point tanpa basa-basi. “Bukannya kemarin udah Abang TF ya, masa udah abis.” “Alah, segitu mah dikit, Bang. Udah gue bayarin buat kost. Sekarang cewek gue ngajak nonton bioskop, gue mau cabut sekarang, Bang.” Dewa memang tak sabaran jika mempunyai keinginan. Bahkan, terkadang Arjuna banyak mengalah kepada adiknya. Pria itu tak banyak bicara, ia membuka dompetnya dan mengambil uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar. Kedua mata Lili langsung terbuka lebar ketika melihat isi dompet Arjuna. Ia yang jarang memegang uang banyak, langsung terpana saat melihat lembaran uang kertas itu. Arjuna memang banyak uang, tapi pria itu tidak banyak gaya. Berbeda dengan adiknya Dewa. “Nih, hati-hati bawa motornya,” ucap Arjuna seraya menyerahkan uang itu kepada Dewa. “Sip, thanks, Bang. Gue cabut dulu. Eh, sekalian nasi gorengnya gue minta satu, soalnya cewek gue ngajak makan sushi. Biar kenyang, sebelum berangkat gue mau makan dulu.” Dewa mengambil sebungkus nasi goreng dari dalam plastik yang masih menggantung pada motor Arjuna. Pemuda itu langsung naik ke atas motornya dan menjalankan roda dua tersebut dengan kecepatan tinggi, hingga dalam sekejap ia langsung menghilang dari pandangan. “Ini nasi gorengnya, Li. Cepat pulang, kasihan Bapak kamu pasti udah nunggu.” Arjuna menyerahkan plastik yang berisi dua porsi nasi goreng lagi kepada Lili. “Terus Om gimana? Satu porsi lagi diambil sama Dewa.” Lili merasa tak tega. “Sudah, tidak apa-apa. Saya sudah makan kok, kamu pulang saja. Oh iya, ini sekalian gantiin nasi goreng yang tadi, kan kamu yang bayar.” Arjuna menyodorkan uang seratus ribu selembar ke arah Lili. “Hmmm … padahal gak papa, Om. Gak usah diganti juga gak papa, tapi gak baik juga kalau aku nolak rezeki. Makasih ya, Om. Nasi gorengnya kan lima belas ribu satu porsi, kembaliannya buat aku aja ya, Om.” Dengan tengilnya gadis itu langsung memasukkan uang tersebut ke dalam dompet. “Heran ni anak gak ada sungkan-sungkannya.” Arjuna menatap ke arah Lili yang malah nyengir sendiri. “Ya udah, aku nganterin nasi goreng buat Bapak dulu ya, Om. Aku taro satu di sini, sebentar ya, Om. Jangan masuk dulu, tolong jagain sebentar.” Lili meletakkan seporsi nasi goreng ke atas meja yang berada di teras rumah Arjuna. “Loh, kenapa di taro di sini, Li?” Arjuna menatap heran ke arah gadis itu. Namun, bukannya menjawab Lili malah berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Arjuna yang masih berdiri dengan wajah bingung. “Ada-ada aja ni anak, mau ngapain lagi coba?” gumam Arjuna sendiri. Pria itu menatap sebungkus nasi goreng tersebut dengan wajah bingung. Perutnya terasa lapar, karena tadi sore ia belum sempat makan. Tapi, rasanya ia sangat malas jika harus keluar untuk membeli makanan lagi. “Om, aku ambil piring sama sendok ya!” teriak Lili yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Arjuna lagi. Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah Arjuna tanpa permisi lagi. “Perasaan baru ngedip, tapi dia udah balik lagi.” Arjuna menggelengkan kepalanya. “Om, eating together yok! Duduk sini, Om!” Lili keluar sambil membawa sebuah piring dan sendok. Gadis itu menarik tangan Arjuna agar duduk di kursi bersamanya. “Kamu mau makan di sini, Li?” tanya Arjuna yang masih menatap heran ke arah gadis yang susah ditebak itu. “Mau makan di kamar juga gak papa, Om,” balas Lili dengan entengnya yang membuat Arjuna kembali menggelengkan kepala dan tak habis pikir dengan tingkah gadis itu. “Makan sendiri aja, Li, saya gak laper,” ucap Arjuna ketika Lili mulai membuka bungkus nasi goreng itu. “Mau makan nasi goreng, atau makan aku, Om?” Lili mengedipkan matanya sebelah. “Kayak orang cacingan, Li,” celetuk Arjuna yang membuat kedua bibir Lili langsung mengerucut. “Om Juna jahat banget, orang lagi pasang mata genit, malah dibilang cacingan!” protes Lili yang malah membuat Arjuna tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD