Lili Genit

1214 Words
Di kamarnya, Arjuna sudah bersiap untuk tidur, pria itu mematikan lampu kamarnya, karena ia biasa tidur dengan keadaan lampu yang padam. Pria itu naik ke atas kasur, ia akan merebahkan tubuhnya. Namun, sebelum itu, ia melihat seperti ada bayang-bayang orang yang berdiri di luar jendela kamarnya. Arjuna terdiam sejenak, pria itu mengerutkan kening, ia sedikit menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatan, karena keadaan kamarnya juga sudah gelap. Akan tetapi, ia bisa melihat bayang-bayang orang dari luar kamar, karena di samping rumahnya ada lampu. “Siapa ya? Masa ada maling? Tapi kok kayak perempuan. Apa Kunti? Kunti mana yang baru berangkat dinas jam segini?” gumam Juna sendiri, remang-remang ia melihat jam dinding di kamar itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tiba-tiba saja ia mendengar suara ketukan pelan pada kaca jendela kamarnya. Arjuna sama sekali tak merasa takut, pria itu malah turun dari atas kasur dan berjalan dengan perlahan ke arah jendela kamar. Suara ketukan itu kembali terdengar yang membuatnya semakin merasa penasaran. Arjuna malah teringat seseorang yang sudah sangat lama meninggalkannya namun masih sangat melekat diingatkannya. Terlebih lagi, ia sangat sering memimpikan orang itu. Bahkan, tak jarang juga Arjuna melihat bayangannya. Entah karena halusinasi atau karena ia masih belum bisa melupakan orang itu. Arjuna sudah mengikhlaskannya, namun ikhlas bukan berarti lupa. Apalagi seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, tentu saja tidak mudah untuk ia hapus dari ingatannya. Arjuna semakin mendekat ke arah jendela, ia berdiri tepat di depan jendela kamarnya. Ia yakin orang itu juga kini sedang berdiri di hadapannya, hanya saja terhalang oleh jendela yang gordennya tertutup rapat. “Junaaaaa … Junaaaaa ….” Arjuna mendengar suara kecil yang memanggil namanya. Ia terdiam dengan wajah yang mendadak berubah tegang. “Kenapa suaranya sangat mirip dengan … kamu tidak beneran ada di sini kan? Aku yakin kamu sudah tenang di sana, jika kamu ingin bertemu denganku, cukup datang ke alam mimpiku saja. Aku akan menyambutmu dengan penuh kerinduan. Nanti aku datang ke makam kamu, aku bawakan mawar putih kesukaanmu,” guman Arjuna dengan suara yang sangat pelan. Pria itu berbicara dengan nada lirih, raut wajahnya mendadak terlihat sendu, bahkan sudut matanya sedikit basah, seperti ada sesuatu yang sedang ia pendam akan tetapi sangat tidak bisa ia utarakan kepada orang lain. “Junaaaaa … hihihi ….” Suara itu semakin terdengar nyata. Arjuna yakin itu adalah suara manusia. Ia membuka gorden kamarnya dan benar saja ada seorang gadis yang mengenakan baju tidur bermotif polkadot sedang berdiri di depan jendela kamarnya. “Om Juna, hehehe …” ucap Lili tanpa rasa bersalah ketika ia melihat Arjuna telah membuka gorden kamarnya. Pria itu segera membuka jendela kamar, agar ketika ia berbicara, suaranya bisa terdengar jelas oleh telinga Lili. “Sejak kapan ada Kunti lanak pake kostum polkadot?” celetuk Arjuna yang membuat bibir Lili langsung mengerucut. “Aku bukan Kunti, Om!” Gadis itu bersedekap d**a. “Kamu ngapain ke sini lagi? Pake nakut-nakutin saya segala. Saya cuma takut sama yang maha kuasa,” oceh Arjuna. “Sombongnya. Aku gak bisa tidur, Om,” rengek Lili masih dengan bibir mengerucut. “Terus, apa hubungannya dengan saya?” Arjuna membalas dengan cuek. Pria itu tetap terlihat dingin. “Om Arjun ikh! Aku mau nginap ya di sini,” kata Lili dengan berani. “Nginap? Kamu jangan gila, Li, cepat kembali ke kamarmu!” usir Arjuna. Ada saja gebrakannya, padahal ia sudah mau beristirahat, akan tetapi kenapa gadis itu muncul lagi. “Gak mau, aku gak bisa tidur. Aku mau nginap aja di kamar Om.” Lili terdengar ngotot. “Stres ni anak. Pulang, Li! Saya mau istirahat, mau tidur,” usir Arjuna sekali lagi. “Aku ikut tidur sama Om ya di sini!” Lili semakin memaksa, bahkan kini gadis itu akan naik ke atas jendela untuk masuk ke dalam kamar Arjuna. “Eh, mau ngapain kamu? Jangan masuk!” Arjuna mencegah gadis itu, ia segera naik ke atas jendela dan memilih untuk keluar dari kamar, daripada Lili yang masuk ke dalam kamarnya. “Om, aku mau nginap di kamar Om,” rengek Lili. Arjuna berdiri di hadapan gadis itu, ia menempelkan telapak tangannya pada pucuk kepala Lili yang membuat gadis itu seketika menengadahkan kepala. “Ngapain, Om?” tanya Lili dengan wajah bingung. “Rukiyah kamu,” jawab Arjuna. “Om Arjun ikh! Dikira aku ini kerasukan apa?” Lili menghentakkan kakinya dengan kesal. “Pokoknya aku mau tidur di kamar Om.” Lili semakin menggila. “Gak bisa, kamu jangan gila, Li.” Arjuna menahan tubuh Lili yang akan naik ke atas jendela. Pria itu mengangkat tubuh Lili dengan enteng. “Aasaaaa … Om, turunin aku!” teriak Lili yang merasa ketakutan ketika Arjuna mengangkat tubuhnya. “Jangan teriak atau saya masukkan kamu ke tong sampah.” Sepertinya Arjuna sudah merasa kewalahan ketika menghadapi gadis itu. Ia lebih memilih mengangkat tubuh Lili dan membawa gadis itu ke arah rumahnya. Arjuna menurunkan Lili dengan cara mendudukkan tubuh gadis itu di atas jendela kamar. “Udah, sekarang kamu masuk. Jangan keluar lagi, nanti kamu dijadikan member Kun Kun.” Arjuna kembali mengangkat tubuh Lili dan menurunkan tubuh gadis itu tepat di dalam kamarnya. Arjuna yang berdiri di depan jendela kamar Lili, segera menutup jendela kamar gadis itu dengan rapat. “Om Arjun ngeselin banget!” teriak Lili, namun Arjuna tak menghiraukan itu, ia berlari ke arah rumahnya. Arjuna langsung masuk ke dalam kamar dan kembali menutupi jendela kamarnya dengan rapat agar Lili tidak bisa menggangunya lagi. Walaupun mungkin gadis itu masih bisa menerornya. “Ck … kenapa gue jadi gila kayak gini ya? Emang bener-bener ya tuh Om-om, kayaknya dia pelet gue deh,” gerutu Lili sendiri, gadis itu menjatuhkan tubuhnya tubuhnya ke atas kasur dan akan mencoba tidur. *** Keesokan harinya, Arjuna bangun pagi, pria itu langsung mandi dan berpakaian rapi, ia sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerja. Pria itu memiliki bengkel motor yang cukup besar, akan tetapi Lili tidak mengetahui itu, karena Arjuna sendiri juga tidak pernah memamerkan apa yang ia punya. “Om Arjun, aku nebeng lagi ya!” ucap seorang gadis yang kini telah berdiri di depan pintu rumah Arjuna. Lili sudah bersiap, bahkan gadis itu juga sudah memakai helm. “Kamu lagi … kamu lagi ….” Arjuna geleng-geleng kepala. “Ayo Om, nanti aku telat ke kampus!” Lili mulai merengek. Arjuna hanya menarik nafas dan membuangnya secara kasar. Ia berjalan ke arah motornya yang sudah terparkir di halaman rumah. “Om wangi banget, pake parfum apa sih?” ucap Lili seraya naik ke atas motor Juna dan duduk di belakang pria itu. “Parfum malaikat subuh,” jawab Arjuna yang mulai menyalakan motor tersebut. “Gak sekalian aja malaikat Izrail, Om?” balas Lili yang membuat Arjuna angsung menoleh ke arah gadis itu. "Om, mata aku kelilipan," ucap Lili secara tiba-tiba sambil mengedipkan matanya beberapa kali. "Kelilipan apa, Li?" Arjuna masih menatap gadis itu dengan dahi mengerut. "Tolong tiup mata aku, Om. Ada yang masuk ke mata aku," pinta Lili sambil merengek. "Beneran? Ya udah, sebentar." Arjuna tak jadi menjalankan motornya, pria itu turun dari motor dan menghadap ke arah Lili. "Cepat tiup Om, sakit ini," rengek Lili lagi. Arjuna mendekatkan wajahnya, pria itu akan meniup mata kiri Lili yang kelilipan. Namun, ia malah fokus ke arah bibir Lili yang terlihat begitu seksi dari jarak dekat dan ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD