BAB 20

1796 Words

“Gue kan udah bilang, kalau doi macam-macam sama lo, bilang aja. Nggak takut gue biar dikata dia bos juga,” kata Tamia menggebu-gebu. “Dikata gue takut dipecat apa. Tinggal cari kantor baru. Repot amat.” Kinara berdecak. “Gue bukannya marah.” “Terus?” “Gue cuma ...” Kinara berdecak lagi. “Ah, intinya, ribet dia tuh.” Tamia tidak segera menjawab. Namun, berikutnya Tamia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring salad. “Wait, wait.” Tamia memasang ekspresi campuran antara geli dan tidak paham. “Ribet? Gue belum pernah dengar komentar macam itu soal bos gue. Kalau berengsek, sih, sering.” Tamia tergelak. “Ribet gimana?” “Ya ribet.” Lantas sedikit ogah-ogahan, Kinara menceritakan garis besar tragedi malam minggu lalu. Tamia sudah menahan senyum sejak pertengahan cerita, dan tawa cewe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD