PROLOG
Alkisah, di sebuah planet bernama BIO, hiduplah seorang anak perempuan tunanetra di sebuah desa miskin.
Desa tempat tinggalnya itu bernama Another land—sebuah desa kecil yang sebenarnya sangat kaya akan hasil panen gandum.
Meski tergolong miskin, desa tersebut tetap mampu menghidupi warganya dengan layak.
Semua itu berubah ketika kegelapan menelan seluruh planet dan menyebabkan suhu udara turun drastis. Akibat iklim yang ekstrem serta minimnya cahaya matahari, hasil panen desa lambat laun menyusut hingga terjadilah krisis pangan.
Tak butuh waktu lama bagi warga desa untuk mulai bertumbangan akibat kelaparan. Keluarga si anak perempuan pun perlahan tidak mampu lagi saling menghidupi, hingga akhirnya mereka terpaksa mengambil sebuah keputusan bersama.
Keputusan itu adalah mengorbankan salah satu anak bungsu mereka. Setelah berunding semalaman, keluarga si gadis kecil sepakat menentukan siapa yang akan dibuang, lalu membawa anak yang terpilih itu ke dalam hutan dengan dalih mengajaknya berburu.
Anak yang terpilih tentu saja adalah si gadis kecil tunanetra, yang dianggap tidak memberi keuntungan bagi keluarga selain hanya menghabiskan jatah makanan. Setelah menetapkan korban, mereka segera membawa anak itu masuk jauh ke dalam hutan lalu meninggalkannya sendirian.
Setelah waktu yang tak menentu, si gadis kecil akhirnya menyadari bahwa ia telah ditelantarkan. Ia pun menangis sejadi-jadinya meratapi nasib.
"Ibu, Ayah, mengapa kalian membuangku? Tolong jangan tinggalkan aku sendirian," ratap gadis kecil itu seorang diri sambil melangkah terhuyung-huyung di atas tanah.
Setelah menangis seharian penuh tanpa makanan dan air, gadis tunanetra itu akhirnya menyerah pada takdir. Dia merana dalam kesakitan sambil menunggu ajal menjemput, seiring hilangnya secercah harapan yang tersisa di hatinya.
"Dunia ini begitu kejam," bisik gadis kecil itu terus-menerus. Mulutnya mengering dan seluruh tubuhnya mulai mati rasa. Tepat sebelum gadis kecil itu berpikir, Apa aku akan mati?, setitik air mata terakhir mengalir dari sudut matanya.
Tiba-tiba, sebuah suara perempuan menggema di dalam benak si gadis kecil, "Ini belum berakhir, kamu masih bisa hidup!" seru suara itu dengan lantang.
"Begitulah awal mula Sang Dewi Kebaikan dan kekasihnya bertemu," ucap seorang ibu muda berambut hitam dengan mata cokelat muda yang unik.
Dia menutup buku itu dengan tatapan penuh kenangan, lalu memindahkan anak perempuan yang semula berada di pangkuannya ke atas tempat tidur.
"Apa yang terjadi selanjutnya, Ibu?" tanya si gadis kecil.
"Semua itu tergantung imajinasimu. Lagipula, kemampuan berimajinasi adalah kekuatan terbesar manusia," kata sang ibu dengan suara yang agak parau, sambil tersenyum meski air mata tampak menggenang di matanya.
"Ingat ini, Mia. Kamu tidak boleh lupa bahwa seberat apa pun kehidupan ini, jangan pernah kehilangan harapan dan keyakinan. Hiduplah dengan ketulusan untuk menyayangi setiap makhluk hidup, ya?" ucap sang ibu sambil mengusap lembut rambut putri kecilnya.
"Baik, Ibu!" Gadis kecil itu mengangguk sebelum akhirnya memejamkan mata untuk tidur.
Satu bulan kemudian, sang ibu muda mengembuskan napas terakhirnya. Dia meninggalkan putrinya seorang diri yang menangis pilu sambil mengingat kata-kata terakhir ibunya.
"Hargailah setiap momen," bisik sang ibu sebagai pesan terakhirnya.
Satu tahun telah berlalu sejak kepergian ibunya. Gadis kecil itu kini sedang bermain bersama teman-teman panti asuhannya di sebuah taman, ketika tiba-tiba sebuah pesawat terbang yang besar menukik jatuh dari langit.
Melihat pesawat yang jatuh dari langit tersebut, si gadis kecil berteriak sekuat tenaga untuk memperingatkan teman-temannya.
Namun, segalanya sudah terlambat. Pesawat itu menghantam taman dan merenggut ratusan nyawa, menyisakan hanya satu orang yang selamat.
Sebagai satu-satunya korban yang bertahan hidup, gadis kecil itu terbaring trauma di ranjang rumah sakit. Dia terus mengingat pesan terakhir ibunya, serta dongeng tentang Sang Dewi Kebaikan dan kekasihnya.
"Aku berharap bisa menjadi sesuatu yang berguna, seperti Sang Dewi," gumam gadis kecil itu di atas ranjangnya, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat luka-luka yang dideritanya.