Malam itu hujan turun pelan membasahi atap rumah petak dengan cat cream yang sudah lusuh. Suara titik hujan menggema di sela-sela makan malam keluarga itu. Reina duduk di kursi ujung meja makan, memakai blus abu-abu longgar dan celana bahan. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya lesu. Di hadapannya, ibunya, Hayu, menyendok nasi ke mulut sambil sesekali melirik ke TV kecil di pojok dapur yang menyiarkan sinetron malam.
"Aku tadi ke rumah sakit, Ma," kata Reina, datar, seperti hanya menyebut fakta harian. "Cuma check- up rutin, sih."
Hayu tidak terlalu menanggapi, ia hanya mengangguk sejenak, lebih fokus pada layar TV.
Reina memainkan sendoknya, lalu menunduk. Dan, tanpa menatap sang ibu, ia bertanya, "Kalau seandainya—" dia diam sejenak. "Seandainya aku sakit keras, Ma. Gimana?"
Hayu berhenti mengunyah, alisnya mengerut, dan ekspresi wajahnya langsung berubah tak suka. "Ngomong apa sih kamu ini?" katanya ketus. "Kamu tuh ya, jangan aneh-aneh. Sakit keras? Amit-amit Na, Na sembarangan kamu!"
Reina diam, ia tidak mengulang pertanyaannya, hanya menatap ibunya yang kini terlihat kesal.
Hayu meletakkan sendoknya ke piring dengan bunyi nyaring. "Kalau kamu sakit dan nggak kerja, terus siapa yang biayain sekolah adik-adikmu? Hmm? Kamu mikir nggak sih? Kamu itu kakak."
Reina masih tidak menjawab, tapi di balik wajahnya yang tenang, hatinya seperti diiris. Bukan karena ucapan sang ibu yang keras, tapi karena jawaban itu membenarkan apa yang selama ini ia takutkan, bahwa ibunya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Yang penting hanyalah fungsi Reina sebagai tulang punggung keluarga.
"Ma, aku cuma tanya aja," gumam Reina, lalu kembali makan seperti biasa.
Tak ada lagi percakapan. Hanya suara sendok dan hujan di luar jendela. Sementara di dalam pikiran Reina sibuk dengan pikiran yang berperang.
Setelah selesai, Reina membawa piringnya ke wastafel. Ia mencuci perlahan. Air mengalir hangat, tetapi dingin tetap terasa tubuh dan hatinya. Bukan dari suhu air, tapi dari suasana setelah percakapan itu. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya.
Kamar Reina kecil dan penuh tumpukan dokumen, baju kerja, dan tas kerja yang warnanya mulai pudar. Reina duduk di kasurnya sebentar, menarik napas panjang, lalu berdiri dan membuka lemari. Ia mulai memasukkan beberapa baju ke dalam tas besar berwarna cokelat tua.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar, pintu terbuka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Hayu dari depan pintu, nada suaranya masih tak berubah, masih kesal.
Reina hanya melirik memperlihatkan wajah lelah yang masih menyimpan sedikit senyum sopan.
"Ke kos, Ma. Besok aku masuk pagi banget."
"Kos? Kamu ngapain balik-balik ke sana lagi? Mending istirahat di rumah, udha terlanjur ke sini kok."
Reina mengangguk ragu. "Cuma pengen tenang aja. Banyak kerjaan yang harus aku kelarin juga."
Hayu mengangkat alis, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Reina menuruni tangga perlahan, membawa tas besar di bahunya. Sebelum ia membuka pintu keluar, ia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ma," katanya, suaranya datar tapi tegas, "Mendingan Aura cari kerjaan juga mulai sekarang. Kayaknya aku udah mau berhenti kerja."
Hayu tampak terkejut, diam. "Apa maksud kamu mau berhenti kerja?"
Reina tak menjawab, ia hanya membuka pintu dan melangkah keluar rumah. Segera menaikki mobil online yang dia pesan. Tak peduli dengan teriakan sang ibu yang memanggil namanya.
Hujan masih turun, membasahi bahu Reina. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih lega. Entah karena keputusannya untuk menjauh atau karena ia akhirnya berkata jujur tentang apa yang ia rasakan selama ini.
"Hmm, tulang punggung." Ia mencemooh diri sendiri
Di jalan kecil depan kost, Reina berjalan dengan langkah lambat. Lampu-lampu jalan redup, dan air hujan menggenang di pinggir aspal. Tapi ia tidak terburu-buru. Dalam hatinya, ia tahu, rumah itu bukan tempat pulang yang ia butuhkan malam ini.
"Kost lebih baik dari pada rumah sendiri."
Reina membuka pintu kamar kosnya. Kamar itu sempit, hanya cukup untuk satu tempat tidur kecil, meja kerja dengan laptop yang jarang ia buka di akhir pekan, dan lemari baju setengah reyot. Aroma kamper dan kayu basah tercium samar dari dinding-dinding lembap.
Tapi di sinilah tempat paling nyaman buat Reina. Setidaknya, tak ada yang bisa menyuruh-nyuruh atau menggantungkan harapan padanya di tempat ini.
"Sampe juga," ucapnya. Ia eletakkan tas besar di kursi, lalu merebahkan tubuh di atas kasur. Tanpa berganti baju, tanpa membuka sepatu. Hanya berbaring, menatap kosong ke langit-langit kamar yang kusam.
Suara hujan di luar menjadi satu-satunya suara yang menemani. Seketika, pikirannya berkelana ke semua hal yang sudah ia jalani.
"Gue udah kerja dari umur dua puluh dua. Semua gaji dikasih buat nyokap. Buat adik, buat sekolah Aura sama Rama. Bahkan sampai Rama bisa kerja, itu juga karena gue yang bantuin uang masuknya dulu."
Rama adiknya menjadi PNS karena permintaan sang mama melalui jalur orang dalam dan membayarkan sejumlah uang.
"Gue nggak pernah pergi jauh, nggak pernah pacaran beneran, nggak pernah mabuk, nggak pernah clubbing, tapi hidup gue begini-begini aja." Dia terus mau ngoceh sendiri sambil menikmati rasa sakit atas perkataan ibunya tadi.
Ia menghela napas panjang, lalu membalikkan tubuh, menatap dinding kosong di sebelah kasur. "Dan sekarang... katanya gue kena kanker darah. Lucu ya, udah hidup bener aja, nasib gue tetap begini."
Hening sejenak. Lalu sebuah senyum perlahan muncul di wajah Reina. Bukan senyum bahagia, tapi senyum getir bercampur kesadaran yang menjelma jadi keberanian yang tak biasa.
"Apa jangan-jangan, selama ini gue terlalu berjalan di jalan yang lurus?" Reina duduk,l lalu Mlmenatap lantai sejenak, mendongak ke langit-langit lagi.
"Kalau kata orang, dosa itu enak." bisiknya pelan, berbicara pada dirinya sendiri, atau mungkin pada Tuhan yang diam di langit sana.
"Kayaknya, daripada gue mati dalam keadaan gue belum ngerasain apa-apa—" Reina tertawa kecil, pendek dan aneh, seperti orang yang sudah kehilangan logika tapi justru merasa bebas.
Lalu, dengan semangat yang membara entah oleh luka atau tekad, Reina mengepalkan tangan dan berseru pelan tapi penuh semangat, "Mari, berbuat dosa!"