empat

828 Words
Lampu-lampu kelap-kelip masih berkelap-kelip liar di langit-langit. Di pojok lounge yang redup, Yoga duduk sendiri, masih menggenggam gelasnya yang tinggal sedikit isinya. Napasnya mulai teratur, tapi dadanya masih sakit. Ia tak melihat ke mana Vania pergi dengan laki-laki lain. Jujur saja dia berniat memilih untuk tidak peduli. "Terserah lah." Yoga memilih untuk menikmati malam di sana titik dia duduk, entah berapa lama dan Sudah berapa teguh minuman yang diminumnya. Hari semakin malam, orang-orang di sana semakin larut dalam suasana, banyak yang sudah mabuk, suara tawa dan teriakan semakin liar terdengar. Seseorang berjalan masuk, Reina. Dress hitam dengan belahan panjang di d**a dan paha kanan, gaun itu melekat pas di tubuh montoknya, berambut panjang yang dia biarkan tergerai. Kemudian merias wajahnya dengan fokus di bagian mata dan bibir. Tatapan matanya yang berbinar, dan juga lekun tubuhnya malam itu cukup mencuri perhatian meskipun memang dia tak bermaksud untuk itu. "Udah terlalu jauh, gue gak bisa mundur." Reina meyakinkan diri, melihat pria-pria yang menatapnya membuat dia merasa sedikit tidak percaya diri. Namun, dia sudah melangkah jauh dan tidak mungkin mundur lagi kan? Sepatu haknya mengetuk lantai kayu . Ia tahu betul, malam ini ia tak datang sebagai 'anak baik'. Bukan si sulung penurut yang rela kerja banting tulang demi keluarga. Bukan perempuan baik-baik yang takut opini orang. Malam ini dia hanya Reina. Yang bersemangat mencari dosa. Pandangan Reina mrlihat sekeliling, lalu terhenti. Di sofa pojok. Seorang pria bertubuh kekar duduk dengan ekspresi yang dingin, kaku. Kemeja hitam, lengan panjang digulung hingga siku memperlihatkan tato di tangan, satu kancing atas dibiarkan terbuka, memperlihatkan garis d**a yang bidanh. Tatapan matanya tajam. Kesannya dingin dan cuek, tapi justru itu yang membuat Reina terpaku. "Tipe gue banget," batin Reina. "Oke deketin dulu, kalau ditolak yaudah. Oke, oke." Reina mencoba memberanikan diri titik nol, dia memang sudah sejauh ini Jadi tidak mungkin mundur lagi? Meskipun sedikit ada rasa takut ditolak, tapi ini sudah terlalu jauh dan dia tidak akan muncul lagi. Lalu setelah berhenti sesaat untuk mengumpulkan keberanian dengan langkah yakin dia mendekati pria itu. Reina berdiri di depan sofa. "Hai." Yoga tak bergeming hanya diam seolah Reina tak ada di sana. Reina lalu menunjuk sisi kosong di sebelah Yoga. "Boleh duduk di sini?" suaranya jelas meski musik terdengar sangat nyaring. Yoga mengangkat alis. Menatap Reina dari atas ke bawah. Sekilas, tapi cukup mengintimidasi, sorot matanya tak berubah, tetap dingin, jawabannya pun ketus. "Kenapa nggak cari tempat lain? Harus banget di sini?" Reina mengangkat bahu, lalu duduk begitu saja tanpa menunggu jawaban. "Karena gue males muter-muter. Lagi pula, lo sendirian." Reina lalu tersenyum tipis. "Gue juga." Yoga mendengus pelan, lalu kembali menatap ke arah deoan. "Dan itu alasan buat duduk di sebelah orang asing?" "Kenapa? Lo takut gue culik?" Reina bertanya. Yoga menoleh sekilas, menatap Reina lebih lama. Matanya menyisir setiap detail dari wajah dan tubuh perempuan di sebelahnya itu. Penuh percaya diri. Tapi. Yoga merasakan hal lain, tatapan Reina ketika dia diam membuat perasaannya merasa aneh. Yoga memperhatikan sejenak kemudian memilih untuk kembali menatap ke depan. "Aku nggak takut siapa-siapa," kata Yoga akhirnya. Reina tersenyum. "Good. Aku juga enggak takut siapa-siapa lagi." Mereka diam beberapa detik. Musik tetap terdengar keras, orang-orang masih berdansa, tertawa, mabuk, berciuman, mereka lupa aturan dunia. Tapi di sudut itu, dua manusia duduk berdampingan. Sama-sama capek dan lelah mereka berdua tidak dalam perasaan yang baik-baik saja. "Nama kamu siapa?" tanya Reina akhirnya karena sejak tadi diam. Yoga melirik. "Yoga." Reina mengangguk. "Aku Reina." "Hmm." Respon Yoga singkat, seperti biasa. "Kamu kelihatan kayak lagi kesel," ujar Reina, matanya menatap wajah Yoga. "Lagi berantem ya? Sama pacar?" Yoga tak menjawab, tapi tatapannya berubah menjadi kesal. Teringat kembali apa yang dilakukan kekasihnya tadi. Reina tertawa pelan jelas dia bisa melihat itu. "Sama, gue juga lagi benci banget sama hidup hue." Yoga melirik sekali lagi. Kali ini agak lebih lama. "Hmm, terus lo cari apa di sini?" Reina memutar gelas kosong di meja, lalu menatap ke yoga beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Dosa." Yoga menatapnya, seperti mendengar jawaban yang aneh. Dan tentu saja memang aneh mencari dosa? Untuk apa? "Dosa?" tanya Yoga. Reina menoleh padanya, tersenyum tipis. "Yap, katanya dosa itu nikmat, kan? Jadi malam ini, gue mau cobain. Siapa tahu emang enak. Muak jadi orang baik." Yoga menggeleng, terkekeh kecil. "Aneh." "Apa yang aneh?" Yoga tidak menjawa, tapi ia tak lagi menatap ke arah bar. Tatapannya kini fokus pada wajah Reina. Pria itu terlihat jelas sedang mengamati, dan membaca sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Reina. Reina menyandarkan tubuhnya santai, kakinya menyilang, belahan dress-nya naik sedikit memperlihatkan paha putihnya. Ia tidak peduli. Ia bahkan seolah menantang. "Mau nemenin?" Tanya Reina pelan, tapi tegas. Yoga mengangkat gelasnya. Menyeruput sisa minumannya. Lalu meletakkan gelas itu pelan di meja. "Lo yakin mau main-main dengan dosa sama gue?" tanya Yoga dingin. Reina tersenyum lalu mengangguk. "Yap, malam ini gue mau berbuat dosa, sama lo." Yoga diam, meyakinkan dirinya menatap Reina. "Yakin?" Reina mendekatkan wajahnya, menatap kedua manik mata Yoga dengan yakin. "Yes, yakin banget, mari berbuat dosa hmm?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD