BAB 5

1527 Words
Tiga tahun kemudian Mandala terduduk lesu di sofa apartemennya. Rambut panjangnya awut-awutan, menutupi wajah tampan bagai tirai. Mata laki-laki itu menatap muram pada layar televisi yang terpasang di dinding. Terlihat di sana, dua orang host acara gosip sedang berbagi cerita perihal skandal seorang aktor terkenal yang kedapatan melakukan tindakan asusila dengan seorang gadis yang diakui sebagai pacarnya. Sayangnya, sang gadis menyanggah mereka berpacaran dan menganggap dirinya telah diperdaya sang aktor. Mandala termenung, menarik napas kesal. Kemarahan di dadanya bagai menyengat jiwa dan menghanguskan ego yang sudah ia pupuk selama ini. Teringat kembali peristiwa saat ia pulang dari Paris minggu lalu. Sebuah hal yang benar-benar membuatnya terhina. “Kamu rasakan akibatnya jika bermain-main dengan Tuan Hakim. Kamu aktor rendahan berani mengusik putrinya.” Seorang polisi dengan pangkat tinggi mengeram marah dan memberikan ancaman saat menjemputnya di bandara. Ia hanya pasrah, digelandang menuju apartemen bagaikan penjahat. Banyak mata dan kamera yang merekam kepulangannya yang dramatis. Mereka bahkan berlomba-lomba mengabadikan dirinya dalam berlembar-lembar foto dan memposting di media sosial. “Seorang aktor tampan tak bermoral!” Adalah judul dari setiap berita yang beredar tentangnya. Kini, tak hanya di media sosial dan portal berita online bahkan tayangan televisi nasional pun membahas masalahnya. Dengan geram Mandala menyambar remote dari atas meja dan mengganti saluran tapi apes, hampir semua tayangan di televisi membahas skandal sang aktor yang tak lain adalah dirinya. Ia mendengkus kasar dan melempar sekuat tenaga remote yang ia pegang ke dinding seberang ruangan. Tak ayal lagi, remote pecah berkeping-keping dengan suara retak nyaring terdengar. Bel pintu berdering, Mandala mengabaikannya. Bersandar malas setengah telentang dan menatap langit-langit ruang tamunya yang berwarna krem cerah. Ia hanya berharap, siapa pun tamu yang sedang memencet bel di depan rumahnya akan pergi. Nyatanya, hampir dua puluh menit berlalu dan dering bel tak juga berhenti. Bangkit dengan enggan, Mandala berjalan tersaruk menuju pintu. Merapikan kaos dan rambutnya dan kusut. Mengintip dari lubang pintu ke arah pengganggunya dan mendapat Sahil berdiri tak sabar. “Berisik, lo!” Mandala membentak marah saat pintu terbuka. Mengabaikannya, Sahil menyelonong masuk dan meletakkan bungkusan di atas meja. Menatap sekeliling ruangan yang berantakan di mana asbak penuh dengan putung rokok, sampah bungkus makanan berserak di atas meja bahkan terjatuh di lantai. “Ngapain lo? Meratapi nasib?” ucap Sahil dengan tangan mengambil kantong dan mengeluarkan isinya. Memasukkan satu per satu bungkusan yang ia bawa ke dalam kulkas yang terletak takjauh dari pintu kamar. “Lo sendiri ngapain? Mau nyeramahin gue atau mau nyukurin gue?” Mandala berkata keras ke arah punggung Sahil. “Gue cuma mau mastiin kalau lo masih hidup!” teriak Sahil balik tanpa berpaling dari kulkas. “Huft, gue nggak akan bunuh diri cuma karena hal ginian.” Sahil bangkit dari kulkas, gerakannya tenang namun matanya lekat menatap Mandala—sahabat sekaligus aktor yang selama ini berada di bawah tanggung jawabnya. Ia mengenalnya lebih dari sekadar urusan kontrak atau pekerjaan. Sejak sebelum Mandala menapaki dunia gemerlap panggung, Sahil tahu setiap liku hidupnya, dari kesederhanaan masa lalu hingga sorotan lampu yang kini menjeratnya. Di balik sorot mata tajam dan senyum yang selalu ditampilkan pada publik, Sahil bisa merasakan bara yang tersembunyi. Ada kekhawatiran yang tak pernah benar-benar padam, ada kemarahan yang disimpan rapat, bagai api dalam sekam yang siap membakar sewaktu-waktu. Sahil tahu, cepat atau lambat, luka itu akan menuntut untuk dihadapi. “Gue dah ingetin tiga tahun lalu, jangan main-main sama Chelsea,” ucapnya pelan. Tangannya menyambar sampah-sampah yang bertebaran dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. “Yee ... lo bener. Gue emang b******k!” Mandala kembali mengenyakkan diri di atas sofa. Teringat akan sosok Chelsea yang cantik, sexy dan menawan. Mandala tahu dirinya akan terlibat masalah jika bergaul apalagi berpacaran dengan Chelsea tapi pesona gadis itu susah untuk ditolak. Chelsea bahkan nekat menyusulnya yang sedang syuting di Paris hanya untuk bisa bersama. “Gue cinta dan sayang sama lo, Mandala. Gue rela menentang dunia untuk bisa bersama.” Ucapan Chelsea yang semanis madu bagai membiusnya. Dia tak kuasa menolak saat gadis itu menyerahkan dirinya dan mereka bercinta untuk pertama kali di sebuah hotel di Paris. Selanjutnya yang terjadi susah dikendalikan, makin hari Chelsea semakin posesif. Gadis itu bahkan tak segan-segan mengamuk jika Mandala tertangkap matanya sedang bicara dengan gadis lain. Meskipun hanya fans, dia tak peduli. Sering mengancam bunuh diri kalau Mandala mengabaikannya. Dirinya yang terkekang akhirnya meminta berpisah. “Jangan kira gue mau lepasin lo, Mandala! Lo milik gue selamanya. Kalau kita berdua nggak bisa bersama, orang lain berarti nggak boleh juga!” ancam Chelsea sambil mengamuk dan menghancurkan setengah isi apartemen Mandala di Paris. Gadis itu membuktikan ancamannya, setelah hampir tiga tahun bersama dalam hubungan putus nyambung tak menentu, Chelsea melakukan sesuatu yang membuat hidup Mehesa berantakan dan karirnya hancur. “Mandala, apa lo tahu kalau film lo ditunda rilis?” Ucapan Sahil membuat Mandala meendongak. “Udah gue duga,” gumamnya pelan. “Bukan Cuma itu, tapi banyak kontrak dibatalin dan juga—,” “—nggak ada yang mau pakai gue Iagi,” sela Mandala getir. Sahil mengangguk lalu duduk di sebelah sahabatnya. Ia memandang prihatin pada raut wajah Mandala yang kusut. “Saran gue sih, lo menyepi dulu. Tunggu sampai gosip lo sama Chelsea reda baru balik lagi ke dunia entertaimen.” Mandala merebahkan tubuhnya, setengah bersandar pada punggung sofa. Matanya menatap Sahil yang terduduk dengan muka ditekuk. “Gue ngrasa, masalah ini nggak akan reda dengan cepat,” ucap Sahil pelan. Ada semacam kekuatiran yang Mandala tangkap dari nada bicara sahabatnya dan membuatnya mendesah resah. Mandala berpikir sejenak dan merasa jika pendapat Sahil ada benarnya juga. “Gue tahu, gue akan menyingkir dari dunia hiburan untuk sementara.” Sahil mengangguk. “Mau kemana? Ke tempat Bokap lo?” Kata ‘Bokap’ membuat Mandala mengernyit. “Kenap gue harus ke tempat dia?” Sahil ternganga heran. “Emang lo mau kemana kalau nggak ke sana? Di Jakarta lo sebatang kara. Nyokap udah nggak ada. Lagi pula kalau tetap di sini, gue yakin kalau Chelsea dan keluarganya akan tetap ganggu lo.” Ide dan pernyataan Sahil membuat Mandala marah. Ia bangkit dari sofa dan menyambar rokok di atas meja lalu menyulutkan api. Dengan rokok terselip di bibir, ia melangkah menuju jendela dan membuka kacanya. Ada teras dan balkon di bagian depan. Ia yakin ada wartawan di bawah, karennya hanya membuka pintu kaca untuk mengeluarkan asap rokok. Mandala menyandarkan tubuh pada dinding, pikirannya melayang ke rumah masa kecil yang bentuknya serasa pudar dalam ingatan. Jika tak salah hitung, ia sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah menginjak rumah itu lagi. Terakhir, saat lulus SMP dan saat itu ia hanya ingin menjenguk sang nenek yang waktu itu sakit-sakitan. Satu bulan dalam penderitaan dan setelahnya neneknya meninggal, dia tak pernah ingin bertemu dengan keluarga ayahnya lagi. Terlebih, sekarang. “Lo tahu kan, Bokap gue dah meninggal. Tiga tahun lalu saat gue di Paris,” ucap Mandala pelan tanpa mengalihkan pandangannya. Sahil mengangguk muram. “Gue tahu tapi di sana ada keluarga lo, ada adik-adik lo!” Mandala tertawa lirih. “Sundari dan anak-anaknya bakalan bantai gue kalau gue berani nginjakin kaki gue di rumah itu.” “Tetap saja, ada nama lo sebagai pemilik rumah itu!” Sahil bangkit dari sofa dan menghampiri Mandala. Menepuk punggung temannya pelan sebelum melanjutkan bicara. “Nggak ada yang tahu soal asal usul lo, yang mereka tahu lo cuma anak artis besar, Almarhum Karenina tapi selebihnya nggak ada. Siapa Bokap lo dan dari mana kalian berasal, media nggak ada yang tahu.” Mandala terdiam dalam renungannya, jemarinya memegang rokok yang perlahan habis terbakar. Setiap isapan menghadirkan rasa pahit yang memabukkan, sementara asapnya bergulung-gulung, menari di udara sebelum lenyap dalam cahaya lampu temaram. Pandangannya kosong, seakan mencari jawaban di balik kabut tipis yang membungkus ruangan. Kata-kata Sahil terngiang jelas, menembus lapisan keras kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Mandala mengakui ada kebenaran di dalamnya. Ia memang harus menyingkir, menyembunyikan diri dari sorotan kamera dan hiruk-pikuk media. Bukan hanya demi ketenangan, tetapi juga demi keselamatan nyawanya yang semakin terasa rapuh di tengah pusaran dunia yang ingin menelannya bulat-bulat. “Gue nggak pernah benar-benar ngrasa di sana rumah gue,” gumam Mandala lirih. Sahil mengangguk. “Gue tahu tapi ini demi kebaikkan lo juga. Nggak usah lama-lama, palingan setahun atau dua tahun semua akan pulih.” Mandala menoleh ke arah Sahil. “Gimana kalau gue ke luar negeri dan tinggal di sana?” Sahil menggeleng. “Jangan buang-buang duit asal lo tahu, nama lo dicekal di bandara.” “Ah, sial!” umpat Mandala marah. Mandala mengepalkan tangan, menahan geram yang mendidih di dadanya. Asap rokok yang tersisa seakan menyelimuti pikirannya, membawa dirinya jauh dari hiruk-pikuk yang mencekik. Perlahan, bayangan tanah kelahiran muncul—rumah besar dengan halaman luas, tempat yang dulu sering ia tinggalkan dengan hati penuh pemberontakan. Kini, ironisnya, justru rumah itu yang mungkin menjadi satu-satunya tempat aman baginya. Mau tidak mau, ia harus mengakui ucapan Sahil ada benarnya. Meski berat, pulang adalah pilihan yang paling masuk akal. Menetap di sana, setidaknya sementara, bisa menjadi cara untuk meredam badai yang mengancam. Mandala menarik napas panjang, pasrah pada kenyataan bahwa perlindungan terkadang hanya bisa ditemukan dengan kembali ke asal. Menarik napas panjang, ia bergumam pelan. “Siapin baju-baju gue, besok pagi gue jalan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD