Dentum suara musik memenuhi ruang berpenerang remang-remang. Aroma alkohol bercampur dengan asap rokok dan parfum pada pengunjung wanita. Terlihat kepala-kepala bergoyang mengikuti irama, berdesakan saling beradu napas dan keringat dalam denyut kesenangan dunia malam.
Di atas panggung ada seorang DJ perempuan berpakaian minim sedang memainkan seperangkat DJ Gears. Tubuhnya yang sexy bergoyang seiring musik yang diputarnya, sementara teriakan penuh semangat dan gairah keluar dari para pengunjung di bawahnya.
Di sebuah meja tinggi, seorang laki-laki tampan dengan rambut panjang sebahu yang dikuncir asal-asalan dan anting hitam yang tersemat di telinga kiri, menatap malas pada perempuan muda yang bermain mata dengannya. Dia bisa menilai, dari setiap pakaian dan perhiasan yang dipakai perempuan itu, ada uang yang menyala terang dan menjeritkan harga di setiap senti tubuhnya.
Perempuan itu tersenyum, ia membalas dengan kerlingan di mata. Tangannya bermain-main dengan gelas berisi minuman warna coklat terang. Sementara kakinya tanpa sadar bergerak mengikuti musik.
“Hei, jaga mata lo. Boleh sama yang lain jangan ama dia,” seorang laki-laki bertubuh gempal dan berambut merah menepuk pundaknya. Laki-laki yang baru datang menyerahkan sebotol minuman untuk temannya yang masih asyik memandang perempuan yang berdiri tak jauh darinya.
“Kenapa emangnya sama cewek itu? Cantik dan sexy, kok?”
Laki-Iaki beranting hitam meletakkan gelas yang ia pegang dan meneguk minuman langsung dari botol lalu mengusap mulut dengan punggung tangan.
“Hei, Mandala. Emang lo nggak kenal itu cewek?”
Laki-laki yang dipanggil Mandala menggeleng. “Siapa dia? Artis juga?” tanyanya sambil lalu.
“Bukan, dia Chelsea Jovanka. Semua anak muda sosialita di kawasan Jakarta kenal dia. Anak pejabat tinggi di Senayan.”
“Lalu?” tanya Mandala sambil mengangkat sebelah alisnya.
Laki-laki gempal mengetuk meja dan berkata keras untuk mengatasi suara musik. ”Artinya, lo jangan deketin dia kalau nggak mau ada masalah. Bokapnya bisa bikin lo sengsara!”
Mandala tertawa lepas, tubuhnya ikut bergoyang ringan mengikuti dentuman musik yang memenuhi ruangan. Irama keras itu merasuki gendang telinganya, membuat segala beban seolah larut dalam riuhnya malam. Bagi Mandala, tak ada yang lebih konyol dibanding peringatan yang baru saja Sahil lontarkan padanya.
Ia tahu, sahabat sekaligus asistennya itu hanya bermaksud baik—ingin mengingatkan, menjaga, bahkan melindungi. Namun entah kenapa, setiap kata Sahil tadi terdengar begitu absurd, seakan-akan berlebihan dan mengada-ada. Mandala malah merasa geli, seolah sedang mendengarkan lelucon yang tak seharusnya ditanggapi serius.
“Cewek itu yang naksir ama gue. Lo lihatkan daru tadi dia terus-menerus mengerling?”
Sahil hanya mengangguk pelan, pandangannya terarah pada sosok Chelsea yang berdiri tak jauh dari mereka. Gaun mini hitam yang membalut tubuhnya tampak mencolok di bawah cahaya temaram klub malam. Dari cara Chelsea bersandar santai pada meja tinggi, lengkap dengan senyum tipis dan tatapan menggoda yang sesekali diarahkan ke Mandala, Sahil tahu persis arah perasaan perempuan itu.
Jujur saja, ia tak heran. Siapa perempuan yang tidak akan tertarik pada Mandala—aktor dan model terkenal yang pesonanya begitu memikat? Hanya saja, di balik pesona itu, Sahil menyimpan kekhawatiran. Ia tidak ingin sahabat sekaligus bosnya terjerat masalah hanya karena salah memilih lingkungan atau terlalu mudah percaya pada perempuan yang mendekat dengan niat terselubung.
Mandala meletakkan botol ke atas meja, bangkit dari kursi dan merapikan kunciran rambutnya. Dia mengulum senyum simpul sebeium menoleh ke arah Sahil.
“Gue akan ke sana, kenalan.”
“Hei, jangan cari masalah. Besok siang lo musti ke pergi ke Paris buat syuting!”
“lyee , gue tahu. Barang dan dokumen udah siap. Bisa kan gue kenalan ama cewek itu, sekarang?”
Tanpa menunggu jawaban Sahil, Mandala melangkah mendekati perempuan bergaun hitam.
“Hai, gue Mandala. Boleh kenalan?” ucap Mandala sambil mengulurkan tangan.
Gadis bergaun mini membalas dengan senyum manis. “Gue tahu lo Mandala. Siapa yang nggak kenal aktor tampan yang lagi naik daun. Gue Chelsea.”
Mandala tersenyum, melambaikan tangan pada teman-teman Chelsea yang memandangnya sambil terkikik.
“Wah, gue ngrasa tersanjung bisa dikenal cewek cantik kayak, lo.”
Chelsea tertawa lirih, mengibaskan rambutnya ke belakang dan membusungkan dadanya yang terlihat molek dalam balutan gaun hitam.
“Jangan ngrendah gitu. Kita semua tahu siapa lo.”
Mandala mengedipkan sebelah matanya dan Chelsea membalas dengan senyum senang. Seperti dua magnet yang bertemu, segera seteiah berkenalan keduanya terlibat dalam obrolan seru. Sementara Sahil duduk sendiri di kursi dan menyesap minuman dari botol. Ujung matanya menangkap gerakan Mandala yang merangkul pundak Chelsea dan membawa gadis itu ke lantai dansa.
Tanpa sadar dia mendesah, berharap jika hubungan keduanya hanya satu malam saja tanpa hal lain. Karena dia tahu persis, jika menyangkut Chelsea dan ayahnya berarti menantang masalah untuk datang menghampiri mereka. Mandala sekarang sedang berada dalam puncak karirnya sebagai aktor dan model, jika ayah Chelsea marah, maka habislah karir Mandala. Gundah dengan pikirannya sendiri, Sahil meneguk habis minuman dalam botol yang ia pegang.
***
Sekar berdiri terpaku di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang tampak begitu berbeda. Kebaya pengantin beludru hitam dengan bordir emas di tepinya melekat sempurna pada tubuh rampingnya, menonjolkan kecantikan yang tak terbantahkan. Setiap lekuk kain terlihat anggun, seakan ingin mengabarkan bahwa ia adalah pengantin yang pantas dipuja.
Namun di balik pesona itu, dadanya terasa sesak. Gaun yang tampak indah di mata orang lain justru seperti belenggu baginya. Balutan kebaya itu bukan sekadar pakaian, melainkan jerat yang mencengkeram jiwa dan merenggut kebebasan. Sekar menelan ludah, sadar bahwa kecantikannya hari ini adalah harga dari sebuah pengorbanan yang dipaksakan keadaan.
Para pelayan datang mengetuk pintu kamar, menawarkan bantuan untuk mencabut perhiasan di kepala dan membantunya berganti baju tapi dia menolak. Dia ingin menikmati momen ini sendirian, menyesali nasib karena menikah dengan pria tua yang tidak dia inginkan. Bisa jadi, malam ini adalah malam terakhir yang ia miliki sendiri. Karena malam-malam esok hari, akan ia habiskan bersama orang lain.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi. Sekar mengusap dengan punggung tangan. Seakan menahan beban berat di pundak, ia tertunduk di depan cermin. Merasa begitu tak berdaya dan sengsara. Di luar terdengar teriakan gembira dan gamelan yang mengiringi percakapan. Para tamu masih belum beranjak dari tempat mereka. Menikmati para penari yang melenggak-lenggok di atas panggung.
Dulu, Sekar menyukai pertunjukan seperti itu tapi kini, suara gamelan bagai menusuk pendengarannya dan membuat hatinya seperti ikut ditabuh.
“Kamu akan bahagia, Nduk. Jadi istri muda Ndoro Kakung itu sebuah kehormatan?”
Wajah semringah Si Mbok terbayang jelas di pelupuk mata, seakan menyingkirkan sejenak segala penat yang selama ini melekat. Air matanya memang sempat tumpah, mengalir karena rasa haru dan kepedihan yang tak pernah benar-benar pergi. Namun setelah itu, setelah para tetangga berdatangan dengan tangan terbuka, menawarkan bantuan untuk persiapan pernikahan Sekar, suasana hati Si Mbok perlahan berubah.
Di tengah riuh suara dan canda mereka, Si Mbok tampak seperti melupakan kesedihannya. Senyumnya kembali merekah, matanya berbinar seolah-olah ia tengah memeluk harapan baru. Meski hidup penuh kekurangan, perhatian dan kepedulian orang sekitar membuatnya merasa tidak sendirian. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.
“Para tetangga itu baik, ya Nduk. Mau membantu kita,” ucap Mbok Garsih suatu sore. Saat melihat bertandan-tanda pisang berjajar di teras rumahnya. Sekar yang sore itu sedang mengerjakan PR hanya mendengkus tak peduli.
“Mereka datang bukan untuk membantu melainkan cari muka.”
“Sekar! Jangan kasar begitu pikiranmu!” bentak Mbok Garsih keras pada anak gadisnya yang tertunduk di atas buku yang terbuka.
Sekar menatap ibunya dengan perasaan bercampur aduk. Ada penyesalan yang menggelayut ketika melihat sikap Si Mbok berubah terlalu cepat, seolah melupakan semua kesedihan hanya karena sebuah janji. Ia tahu, betapa berat beban yang dipikul ibunya selama ini—jeratan hutang yang tak kunjung usai, himpitan kebutuhan yang terus menekan. Namun tetap saja, hatinya terasa perih saat mendengar keputusan itu.
Ketika Pak Hardjo dengan suara mantap menyebut bahwa semua hutang akan lunas begitu ijab kabul diucapkan, Mbok Garsih langsung menunduk dan mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Sekar hanya bisa mendesah, pasrah menelan kenyataan pahit. Pada akhirnya, mereka hanyalah orang miskin yang tak punya kuasa selain mengalah pada keadaan, meski harus mengorbankan kebebasan dan kebahagiaan.
“Aku masih ingin sekolah, Mbok!”
“Oh, Ndoro Kakung mengijinkan kamu tetap menyelesaikan sekolahmu, Nduk. Bukankah itu hal bagus? Jarang-jarang orang ndak punya seperti kita menikah dengan orang kaya. Kamu membuat para gadis di kampung ini iri.”
Jika disuruh memilih antara menyelesaikan sekolah atau menikah dengan Pak Hardjo, tentu dia akan lebih menyukai yang pertama. Sayangnya, Ia tak punya kesempatan untuk memilih. Terlebih setelah janji pernikahan diucapkan di depan penghulu. Hilang pula hak-nya sebagai gadis remaja biasa dan kini berganti menjadi istri muda dari orang paling kaya sekabupaten.