12

967 Words
Semalaman Aira tidak bisa tidur dengan tenang. Ia sempat tertidur dan malah bermimpi buruk. Anehnya, mimpi itu seperti nyata sekali. Di dalam mimpinya, Aira merasa di dorong ke dalam jurang yang dalam dan terjatuh di dasar. Lalu, ada seorang lelaki yang tak asing wajahnya menangis dari atas jurang. Lelaki itu samar tapi sangat jelas wajahnya. Dia adalah Zidan. Dan, Aira juga dibantu oleh seorang laki-laki yang sangat ia kenal baik dan bahkan ia percaya bakal menjadi suaminya, ia adalah Raka. Aira tadi terbangun dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya. Napasnya tersengal saat senyum Raka yang manis berubah menjadi sneyum penuh arti saat menggendong tubuhnya yang tak berdaya. Apa? Apa maksud dari mimpi ini? Ada pesan apa? Aira memegang kepalanya dan memijat pelan sambil menarik bagian ujung rambut di kepala hingga terasa kepalanya sedikit enakan. Akhir -akhir ini, kepala Aira mulai suka terasa sakit sekali. Walaupun tidak berlangsung lama, tapi cukup mengganggu aktivitas Aira sehari -hari. Diam -diam Zidan mengamati Aira. Ia tidak ikut bangun. Ia melihat sikap Aira yang gelisah tak karuan. Ingin menolong, Zidan masih ragu. Beberapa kali, pertolongannya di abaikan. Walaupun beberapa hari ini Aira mulai berubah. Istri kecilnya itu sudah menjadi istri sholehah. Tapi Zidan tidak bisa tinggal diam. Telapak tangannay menyentuh bahu Aira. "Kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya Zidan lembut. Aira hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Zidan. Zidan mengambilkan air minum untuk Aira, "Minumlah dulu, biar kamu lebih tenang." Aira menatap Zidan sekilas dan minum air putih dari gelas yang disodorkan oleh Zidan. Glek ... Air putih itu terasa sejuk dan segar masuk ke tenggorokannya yang kering. Degup jantungnya yang beralari -larian mulai mengikuti irama stabil. Rasa gugupnya mulai memudar. "Kamu kenapa? Mau cerita?" tanya Zidan dengan suara lembut dan begitu sabar seklai. Aira menggelengkan kepalanya dan memberikan gelas yang ia pegang pada Zidan. Gelas itu sudah kosong. "Kalau ada apa -apa, cerita ya," titah Zidan lagi. Terlihat anggukan kecil Aira yang mengiyakan ucapan Zidan. "Kamu tidur lagi, Sayang. Kalau mau tidur, berdoa dulu ya," titah Zidan lagi mmebenarkan bantal yang akan dipakai oleh Aira. Setelah Aira merebahkan tubuhnya, Zidan pun menyelimuti tubuh sang istri hingga ke bagian dad4. Zidan mengelap kening Aira dengan telapak tangannya. Ia merasa tak berguna jika situasinya seperti ini. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sampai berkeringat begini?" tanya Zidan lembut. Lagi -lagi Aira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Aira membisu membuat Zidan benar -benar bingung. Semalaman, Zidan terjaga. Ia menjaga Aira yang masih berusaha memejamkan kedua matanay agar tertidur dengan pulas. Alhasil, usahanya sia -sia. Ia juga tidak mungkin mmebuka kedua matanya, karena Zidan bakal tahu kalau dirinya belum juga terlelap. Bagaimana mau terlelap jika bayangan mimpi tadi terasa nyata. Dalam hati Aira terus memanggil nama Raka. "Mas Raka ... Itu kamu kan?" batin Aira memanggil nama sang kekasih yang telah tiada. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Jarum jam terus berputar ke arah kanan dan membuat malam menjadi pagi secepat kilat. Saat suara ayam berkokok mulai terdengar riuh di belakang rumah. Zidan pun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu berwudhu. Lelaki yang biasa dipanggil ustadz itu bersiap untuk mengumandangkan adzan shubuh di Gazebon miliknya. Baju koko panjang dengan bawahan sarung sudah menjadi ciri khas Zidan yang ingin mengimami para makmumnya. Saat Zidan keluar kamar dan suara langkahnya terdengar sudah menjauh, Aira langsung bangun. Ia duduk di tepi ranjang dan memandang ke arah jendela. Ia bisa melihat suaminya berjalan ke arah Gazebo sambil memegang tasbih. Rasanya, Aira ingin bersimpuh di kedua kaki sang suami. Ia sudah bersalah menyembunyikan sesuatu di dalam dirinya. "Ya Allah, Aku harus gimana?" batin Aira. Aira berdiri dan mengambil wudhu. Ia ragu ingin ikut sholat berjamaah di Gazebo. Tapi, sesekali tidak masalah kan. Aira langsung membawa perlengkapan sholatnya. Mukena berwarna pink sudah langsung dipakai dari kamar. Sajadh berbulu halus di peluk di dad4nya dan berjalan keluar dari kamar menuju teras dilanjutkan ke arah Gazebo. Belum ada satu orang pun disana. Zidan nampak sedang bersholawat dan memanjatkan doa -doanya kepada Allah SWT. "Assalamualaikum ..." ucap Aira lembut membuat Zidan membuka matanya dan menoleh ke arah Aira yang baru saja masuk ke dalam Gazebon. Selama ini, Aira tidak pernah ikut sholat berjamaah di Gazebo. Ia selalu menyendiri di kamar saja. Untuk keluar rumah pun jarang. Pernah seklai ke warung lalu tidak pernah lagi. Pernah juga mengajar ngaji anak -anak saat Zidan tidak dirumah. Itu pun hany sekali dua kali. "Waalaikumsalam ... Aira?" jawab Zidan sambil memanggil nama sang istri. Aira pun mengangguk sebagai tanda hormat dan memasang sajadah tepat di garis belakang sebagai makmum perempuan. "Kenapa tidak sholat dirumah saja?" tanya Zidan lembut. Jarinya masih menggulir tasbih dan tatapannay tak lepas dari kedua mata indah sang istri. Mata Aira itu bulat dan sangat indah. Dulu, Zidan jatuh cinta juga karena mata indah itu. Walaupun ada alasan lain juga. "Aira mau di imamin sama suami Aira. Boleh kan?" tanya Aira lembut sambil membalas tatapan Zidan. Tatapan Aira membuat jantung Zidan berdegup keras. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu. Dimana Aira selalu menatapnya seperti ini jika sedang serius bicara. "Setelah ini, ada yang ingin Aira bicarakan sama Mas Zidan," ucap Aira pada Zidan. Lagi -lagi tatapan Aira menghunus jantung Zidan. Tatapan lekat dan tajam. "Soal apa, Aira? Sepertinay aku tidak melakukan kesalahan?" tanya Zidan penasaran. "Soal pernikahan kita, Mas ..." jelas Aira dnegan suara lantang. "Pernikahan kita? Kenapa?" tanya Zidan cepat. "Nanti kita bahas. Sekarang kita mau sholat kan?" ucap Aira cepat. "Hmmm ... Baiklah Aira," jawab Zidan mengambil posisi di depan sebagai imam sambil menunggu wkatu untuk adzan. Jantung Zidan mulai tak aman. Ungkapan Aira barusan membuatnya berpikir keras. Ada apa? Ada masalah apa? Apa ini ada kaitannya dengan mimpi buruk Aira semalam? Otak Zidan dipenuhi pertanyaan- pertanyaan yang seharusnya tidak pernah ada. Berbeda dengan Aira. Mimpi buruk itu selalu hadir. Pesan apa ini? Apa kamu tidak rela aku menikah dengan Mas Zidan, Mas?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD