Pagi itu dimulai dengan alarm yang berbunyi tiga kali. Bukan karena Leo malas bangun—melainkan karena setiap kali alarm berbunyi, salah satu dari bayi kembar itu ikut bersuara. Yang pertama Lara. Yang kedua Lino. Yang ketiga… Leo sendiri. “Papa bangun… papa bangun…” gumam Leo sambil meraba-raba jam di sisi ranjang, matanya masih setengah tertutup. Naya membuka mata, lalu mendesah pelan ketika menyadari jam dinding sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. “Leo, aku harus siap-siap,” ucapnya lembut. “Hari ini aku piket ujian.” Leo langsung membuka mata sepenuhnya. “Lagi, Nay?” “Iya. Aku udah bilang kemarin. Kamu lupa?” Leo mengusap wajahnya. “Iya… aku sudah ingat. Aku cuma agak linglung tadi.” Naya tersenyum kecil, bangkit dari ranjang lalu berjalan ke sisi tempat tidur bayi yan

