Pagi itu, rumah Leo dan Naya lebih ramai dari biasanya. Alarm jam bayi berbunyi bersahut-sahutan, Lara dan Lino mulai bergerak-gerak, sementara Naya menyiapkan sarapan dan Leo sibuk menyiapkan perlengkapan bayi kembar untuk hari pertama mereka mengikuti program “Parent-Baby Playgroup” di pusat komunitas dekat rumah. “Sayang… kamu yakin mereka siap?” tanya Naya sambil menatap bayi-bayi yang sudah memakai baju matching berwarna pastel. Lara menggerakkan tangan mungilnya, Lino menendang-nendang kaki seolah menunjukkan semangat (atau protes, Naya belum bisa bedain). Leo tersenyum, menepuk pundak Naya. “Tenang, Nay. Ini cuma playgroup. Mereka bakal belajar main sama anak-anak lain, ketemu guru, dan aku yakin… kita bisa jalani ini.” Naya menghela napas panjang. “Hmm… oke… tapi aku masih nggak

