Bab 5. Biru Mode Bucin

2089 Words
Terbangun oleh elusan di pipi, Anna menggeliat dengan badan ngilu semua. Dia meringis menahan kepalanya yang pusing bukan main. Matanya perlahan membuka. Mengerjap pelan, lalu gelagapan begitu mendapati siapa pria yang tengah berbaring menatapnya lekat di hadapannya itu. Jantungnya berdebar kencang. Sementara Biru malah tersenyum geli melihat Anna yang melotot kaget, seperti bertemu hantu. Menelan ludah kasar. Anna tidak berani bergerak. Denyut perih di bawah sana, menghempas ingatannya yang masih kacau balau. Tanpa sadar dia menggigit bibir. Mencengkram selimut yang menutupi tubuh mereka erat, begitu potongan adegan pergulatan panasnya dengan Biru terputar ulang di kepalanya. Gila! Anna merasa sinting, sampai bisa melakukan hal memalukan itu dengan bosnya. Masih bungkam tanpa sepatah kata. Belaian jemari Biru dan tatapan lembutnya, seperti menghipnotis Anna. Terbangun tanpa pakaian di ranjang bersama bos galaknya. Dia bingung, sekarang harus bagaimana. Berharap ini hanya mimpi, tapi nyatanya dia malah mengingat jelas apa yang terjadi kemarin. Dari soal melabrak Arhan di tempat karaoke. Sampai kemudian nyaris diperkosa, juga kebodohannya tidur dengan Biru. “Kamu … menyesal?” tanya Biru mengusap bibir Anna yang masih digigit. Dia mana tahu, sudah membuat gadis itu makin gugup oleh sentuhannya. “Nggak,” geleng Anna membalas tatapan bosnya. Meringis, denyut di selangkangannya makin menjadi saking tegang. Perut bawahnya juga terasa kebas. “Tidak marah? Aku kurang ajar mengambil apa yang bukan hakku, saat kamu dalam keadaan setengah sadar?” Bohong kalau Biru tidak menyesal, sudah merusak gadis sepolos ini. Tapi gilanya, kalau waktu bisa diputar kembali, dia tetap akan melakukan hal yang sama. Setidaknya dengan begitu, Biru punya alasan mengikat Anna untuk jadi miliknya. Anna kembali menggeleng. Bukankah lucu kalau dia marah ke Biru, sedang pria ini yang sudah menyelamatkannya. “Kenapa?” cecar Biru dengan senyum samarnya. Lega, karena tadinya dia mengira Anna bakal mengamuk setelah bangun dan sadar. “Karena Pak Boss yang sudah menyelamatkan saya. Kalau Bapak tidak datang, saya pasti sudah diperkosa oleh bajiingan itu!” jawab Anna dengan wajah mulai dirambati panas, karena Biru masih mengelus wajahnya. “Tapi, setelahnya aku malah menidurimu, Na! Aku sama bajingannya dengan pacarmu itu! Kamu berhak marah kok!” Terdiam, Anna tersengal sesak. Apa haknya marah, sementara Biru tidak memaksanya. Dia sendiri yang pilih menyerah. Membiarkan Biru menikmati tubuhnya. Yang ada justru Anna malu. Merasa seperti perempuan murahan. Mungkin, secepatnya dia akan resign. Tidak mau terjebak dalam canggung, karena setelah ini semua tidak akan lagi sama. Bosnya tentu tak masalah. Dia kan sudah terbiasa bermain dengan banyak modelnya. Tapi, baginya akan menyakitkan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa, setelah menyerahkan kehormatannya. “Naaa ….” Panggilan Biru menyadarkan Anna dari lamunannya. Tidak ingin membahas soal itu lagi. Anna tersenyum kaku. Beringsut mundur, hingga terbebas dari sentuhan bosnya. Matanya melirik ke jam dinding. Pukul empat dini hari. Dia harus segera pergi dari situ, sebelum pagi datang dan ketahuan para pegawai lainnya. Anna menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, lalu duduk. Celingukan mencari pakaiannya, tapi sialnya tidak ketemu. “Cari apa?” Biru pura-pura bodoh. Mengulum senyum, tahu Anna yang tidak menemukan yang dicarinya. “Baju,” jawab Anna menahan malu. “Mau pulang. Nanti keburu pagi. Ketahuan orang kan nggak enak!” Dia sudah mau nangis kebingungan. “Kamu tidak akan pergi kemanapun, tanpa seizinku!” tegas Biru, sontak membawa Anna menoleh cengo. “Paaakkk …” “Aku bukan bapakmu!” Biru bangun, nyeruduk begitu saja rebahan di pangkuan Anna. Gadis itu sampai melotot dengan wajah panas, menatap bosnya yang tengah memeluk pinggangnya. Selimutnya sampai melorot. Anna panik menarik naik, tapi karena terganjal kepala Biru, jadi tidak sepenuhnya bisa menutupi dadanya. Untung saja muka pria sinting itu membenam di perutnya. Sumpah! Rasanya aneh banget, mesra seperti pengantin baru begini. Padahal selama ini Biru memperlakukannya galak bukan main. Pernah sih mereka beradegan kelewat mesra, sampai malamnya dia tidak bisa tidur gara-gara terus deg-degan. Waktu kasih contoh pose prewedding di Lombok. Itupun setelahnya malah jadi gaduh bosnya kena damprat mamanya. Karena mengira sudah kurang ajar ke asisten. Jangan salah! Mama bosnya baik tidak ketulungan. “Paakkk ….” tegur Anna tercekat. Gugup sekaligus malu, dipeluk-peluk begini. Apalagi mereka masih sama-sama telanjang. Risih! “Hm …” gumam Biru menghirup wangi tubuh Anna. Tidak pernah dia merasa rebahan senyaman ini. “Saya harus pulang! Nanti mau ambil sepeda motor dulu di tempat karaoke!” ucapnya makin gugup, karena Biru malah mengeratkan pelukannya. Tidak ada jawaban. Anna terpaku menunduk, menatap wajah tampan yang malah memejamkan mata di pangkuannya itu. Diam-diam jatuh cinta ke pria ini saja, rasanya sudah sangat tidak pantas. Siapa sangka sekarang dia justru terjebak dalam hubungan tabu begini. Tersenyum miris. d**a Anna terhimpit sesak. Apakah setelah ini, bosnya juga akan memperlakukan dia layaknya mainan? Sama seperti bagaimana Biru selama ini bermain-main dengan para modelnya. Tidak! Dia tidak akan jatuh lagi ke pelukan pria ini. Maka jalan satu-satunya untuk menghindar, dia harus pergi sejauh mungkin. Karena Anna tahu, dia tidak pernah bisa menolak Biru. Seperti semalam! Dia rela mati daripada disentuh Arhan, tapi dengan bodohnya justru bertekuk lutut di hadapan Biru. “Paakkk ….” Anna memberanikan diri membangunkan bosnya. Biru membuka mata kesal. Berbalik terlentang, tapi urung marah melihat Anna blingsatan menarik selimutnya yang melorot. Dengan wajah menahan malu, Anna menarik selimut menutupi buah dadanya yang menggantung tepat di atas wajah Biru. “Kenapa malu? kan aku sudah lihat, sudah pegang, dan sudah nyusu sampai kenyang!” “Haish!” Anna membungkam mulut Biru saking malu mendengar celotehan frontalnya. Biru tertawa. Diraihnya tangan Anna, lalu menggenggamnya erat. Lucu, melihatnya gugup salah tingkah begitu. “Lihat bibirku, Na! Sampai luka kamu gigit semalam! Leherku juga merah-merah. Belum lagi punggungku kena cakar!” guraunya menggoda Anna yang makin meringis malu. “Maaf,” gumam Anna. “Tanggung jawab, sini!” Biru menarik tengkuk Anna yang melotot kaget, lalu mencium bibirnya. “Paaakkk ….” Anna nyaris jantungan. “Panggil kayak semalam!” perintah Biru tidak suka dipanggil pak lagi. Anna bungkam. Semalam dia setengah mabuk, makanya berani kurang ajar memanggil bosnya hanya dengan nama. Sekarang mana punya nyali, meski Biru sendiri yang menyuruhnya. “Naaa!” “Biii …. Biruuu …” Dia akhirnya terpaksa menurut, meski rasanya aneh. Tersenyum dengan mata berbinar, Biru membawa tangan Anna mengusap kepalanya. “Ngantuk! Mau dielus kamu!” Menghela nafas panjang, Anna pun mengelus kepala Biru yang kembali memejamkan matanya. Bibir Anna tersungging senyuman samar. Kalau ini mimpi, maka dia rela selamanya tidak bangun lagi. “Naaa …” gumam Biru tanpa membuka matanya. “Hm …” “Kamu masih pacaran sama sampah itu?” “Nggak! Sudah putus dari beberapa hari yang lalu. Makanya dia kemarin sore datang bikin gaduh di sini!” jawab Anna dengan mata menatap luka di bibir bawah bosnya. “Apa yang kamu suka dari dia?” tanya Biru penasaran. “Tidak ada! Pacaran juga karena dulu saya pernah berhutang budi diselamatkan Arhan. Nggak tahunya makin kesini, makin kelihatan brengseknya. Kalau saja bukan karena diancam dia mau bikin gaduh di sini, sejak dulu sudah putus!” Biru membuka mata dengan bibir berkedut. Bisa-bisanya dia girang, mendengar pengakuan Anna barusan. “Makanya jadi orang jangan terlalu baik dan sungkanan. Ujung-ujungnya malah kamu dibegoin!” tegurnya. “Hm,” angguk Anna masih mengusap rambut ikal Biru. “Pindah dari kosan kamu! Di sana sudah tidak aman. Besok aku carikan apartemen dekat sini! Arhan bisa saja cari kamu lagi!” Usapan tangan Anna seketika berhenti. Melongo tiba-tiba saja disuruh pindah dari kost yang sudah sejak kuliah dia tempati. “Nggak mau! Tempat itu nyaman kok ditinggali. Lagian sewa apartemen mahal. Uang darimana?! Tabungan saya sudah ludes dicolong Arhan semua!” tolaknya mentah-mentah. “Aku bilang pindah! Apartemen aku yang bayarin!” lontar Biru mulai nyolot. “Nggak mau!” Anna juga kukuh menolak. Elusannya berhenti. Kedua tangannya mencengkram selimut di dadanya. Dia ogah harus berhutang budi ke bosnya. Meski bagi Biru, biaya sewa apartemen ibarat hanya lah uang receh. “Kalau tidak mau tinggal di apartemen, kamu pindah di sini! Kamar ini kan jarang aku tempati!” Biru memberi penawaran lain, tapi gadis itu tetap menggeleng. “Tidak usah! Saya tidak akan pindah, karena sudah nyaman di sana. Ibu kostnya juga baik banget kok!” “ANNA!” bentak Biru kesal. Seketika Anna terdiam. Biru menghela nafas kasar, lalu bangun dari pangkuan gadis itu. Rebahan menyandar, dia menarik Anna ke pelukannya. Sempat meronta, tapi kemudian anteng karena Biru malah makin mengeratkan pelukannya. “Yang nurut! Aku cuma tidak ingin kamu celaka kayak kemarin. Sudah lihat sendiri kan, sebajingan apa mantanmu itu?!” ucapnya dengan suara pelan. Sedang tangannya mengelus punggung telanjang Anna. “Tapi, ….” “Tinggal di apartemen atau menempati kamar ini? Kamu hanya punya dua pilihan!” tegas Biru. “Ck! Kebiasaan suka maksa!” dengus Anna. Biru tertawa. Menunduk, dia mencium kening Anna yang merengut kesal. “Uangmu sudah aku ganti! Bajiingan itu tidak mungkin punya uang, untuk mengembalikan tabunganmu yang dia colong!” Anna terkesiap kaget. Mendorong Biru dan duduk dengan mata mendelik sengit. “Kenapa kamu yang ganti uangnya? Aku tahu kamu kaya. Uang segitu ibarat receh buatmu. Tapi, bukan berarti bisa seenaknya ikut campur urusanku. Aku masih bisa kerja dan cari uang sendiri! Tidak butuh kamu kasihani!” Anna marah. Celingukan mencari ponsel, mau mengecek saldo M-Banking nya. Kalau memang ada uang dari Biru, dia akan mengembalikan lagi uang itu. Biru menatap jengah Anna yang lagi-lagi keras kepala menolak niat baiknya. Dia hanya tidak tega, melihat hasil kerja kerasnya justru dihabiskan orang lain. Karena Biru sangat tahu, secapek apa Anna selama ini kerja jadi asistennya. “Awas saja kalau kamu berani mengembalikan uang itu!” “Biruu!” seru Anna sudah hampir menangis memegang ponselnya. Gila! Dia dikasih 300 juta. “Anggap saja itu bonus, karena selama dua tahun ini kerjamu tidak pernah mengecewakan!” Biru meraih ponsel Anna, lalu meletakkan di nakas belakangnya. “Bonus …. atau harga karena aku sudah melayani …” “Mulut sialan!” Biru marah bukan main mendengar ucapan ngelantur Anna. Gadis itu gelagapan tengkuknya ditarik kasar, lalu bibirnya disambar. Biru seperti orang kesetanan, melumat rakus dan menggigit bibir Anna yang sudah kurang ajar bicara tidak-tidak. “Hmmm ….” Anna mengerang menahan perih, juga tersengal nyaris kehabisan nafas. Tapi, Biru malah membelit lidahnya. Mendekapnya sangat erat. Sampai Anna gemetar lemas. Keduanya terengah. Biru melepas ciuman brutalnya. Menatap Anna dengan mata tajam menghujam. “Ngomong apa kamu tadi, ha?! Sebajingan apapun aku, tidak pernah terpikir menganggapmu pelacurr, Na!” ucapnya dengan suara berat menahan marah. Sementara Anna diam. Matanya memerah basah. Biru kembali menghela nafas panjang. Mengelus wajah cantik merengut Anna, lalu mengusap bibirnya yang bengkak memerah. “Sakit?” tanyanya. Sementara Anna hanya menggeleng. “Sini!” Biru menariknya ke dalam pelukan. Menarik selimut mereka yang tersingkap, lalu berbaring dengan dekapan hangatnya. “Aku memang bajiingan, tapi aku pasti akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padamu! Kamu beda dengan mereka. Kamu berharga! Karena itu aku ingin menjagamu baik-baik. Tidak ingin kamu celaka lagi. Ngerti!” ucap Biru mengelus wajah Anna yang mendusel di pelukannya. “Hm,” angguk Anna. “Mau tinggal di apartemen atau di sini?” tanya Biru lagi. “Apartemen!” jawab Anna, karena kalau tinggal di sini pasti akan jadi bahan omongan yang lain. Ini kan kamar bosnya, meski jarang sekali ditempati. Dia bisa kehilangan privasi di sini. Tinggal di apartemen nanti akan dibayar sendiri uang sewanya. Sedang soal 300 juta dari Biru, dia belum tahu harus bagaimana. Masih syok dengan amarah pria sinting ini barusan. “Ok! Besok aku carikan apartemen dekat sini! Aku sudah minta Zea untuk mengambilkan sepeda motormu, sekalian menyiapkan pakaian ganti buat besok! Sudah beres! Sekarang tidur, Na!” Biru mengeratkan pelukannya. Soal tanggung jawab, dia tidak sekedar bercanda. “Biruuu …” “Hm … apa lagi?” gumam Biru. “Bajuku mana? Aku mau ke toilet!” Biru terkekeh. Berbalik, dia menyambar kemejanya di lantai diberikan ke Anna. “Pakai ini!” Malu-malu Anna bangun sambil menarik selimutnya. Yang ngeselin, Biru malah senyum-senyum menonton dia yang rikuh kebingungan mau mengenakan kemeja. Selimutnya melorot terus. “Jangan lihat!” dengusnya melempar muka Biru dengan bantal. Tubuhnya masih meremang, barusan nemplok dengan Biru dalam keadaan sama-sama telanjang. Yang bawah itu tidak ada sopannya blas. Menggeliat keras bikin dia jantungan. Biru tertawa tergelak menyingkirkan bantal yang menutupi mukanya. Nyengir melihat Anna buru-buru mengenakan kemejanya. Begitu turun dari tempat tidur, gadis itu meringis kesakitan. Jalan tertatih menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah, Anna menjerit kaget tubuhnya disambar dari belakang. “Biruuuu ….” “Mau mandi bareng?” bisiknya membopong Anna masuk ke kamar mandi, lalu menutup pintunya dari dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD